Этикет по отношению к Корану: различия между версиями
Перейти к навигации
Перейти к поиску
Maqivi (обсуждение | вклад) Нет описания правки |
Maqivi (обсуждение | вклад) Нет описания правки |
||
| Строка 13: | Строка 13: | ||
* целовать Коран | * целовать Коран | ||
* “Желательно вставать ради Мусхафа, когда его принесли. Ведь раз вставать желательно на встречу к уважаемым ученым и людям, то вставать ради Мусхафа первичней”. См. “ат-Тибьян” 98. | * “Желательно вставать ради Мусхафа, когда его принесли. Ведь раз вставать желательно на встречу к уважаемым ученым и людям, то вставать ради Мусхафа первичней”. См. “ат-Тибьян” 98. | ||
<!-- KEUTAMAAN MEMBACA DAN MENGKAJI AL-QUR’AN | |||
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab | |||
Allah swt dan mendirikan sembahyang dan menafkahkan sebagian dari rizki | |||
yang Kami anugerahkan kepada mereka dengaan diam-diam dan terang- | |||
terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. | |||
Agar Allah swt menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan | |||
menambah kepada mereka dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah swt | |||
Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Fathiir 35:29-30) | |||
Telah saya sebut dari Usman bin Affan ra, katanya: rasulullah saw | |||
bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an | |||
dan mengajarkannya.” | |||
(Riwayat Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari | |||
dalam shahihnya) | |||
Diriwayatkan daripada Aisyah ra, katanya: Rasulullah saw | |||
bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir | |||
melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama | |||
dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al- | |||
Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak | |||
agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.” | |||
(Riwayat Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al-Hujjaj bin Muslim Al- | |||
Qusyaiy An-Nisabury dalam dua kitab Shahih mereka. | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Diriwayatkan daripada Abu Musa Al-Asy’aru ra, katanya: | |||
rasulullah saw bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an | |||
adalah seperti buah Utrujjah yang baunya harum dan rasanya enak. | |||
Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah | |||
kurma yang tidak berbau sedang rasanya enak dan manis. Perumpamaan | |||
orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti raihanah yang | |||
baunya harum sedang rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang | |||
tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti hanzhalah yang tidak berbau | |||
sedang rasanya pahit.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Diriwayatkan dari Umar bin Al-Kattab ra, bahwa Nabi saw | |||
bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sesunggunya Allah swt mengangkat derajat beberapa | |||
golongan manusia dengan kalam ini dan merendahkan derajat golongan | |||
lainnya.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Diriwayatkan daipada Abu Umamah ra, katanya: Aku | |||
medengar Rasulullah saw bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Bacalah Al-Qur’an karena dia akan datang pada hari | |||
Kiamat sebagai juru syafaat bagi pembacanya.” | |||
(Riwayat Muslim) | |||
Diriwayatkan dari pada Ibnu Umar ra, dari pada Nabi saw Baginda | |||
Bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Tidak bisa iri hati, kecuali kepada dua seperti orang: | |||
yaitu orang lelaki yang diberi Allah swt pengetahuan tentang Al-Qur’an dan | |||
diamalkannya sepanjang malam dan siang; dan orang lelaki yang | |||
dianugerahi Allah swt harta, kemudian dia menafkahkannya sepanjang | |||
malam dan siang.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Telah saya sebut pula dari Abdullah bin Mas’ud ra dengan | |||
lafaz: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Tidak bisa iri hati, kecuali kepada dua macam orang: | |||
yaitu orang lelaki yang dianugerahi Allah swt harta, kemudian dia | |||
membelanjakannya dalam keperluan yang benar. Dan orang lelaki yang | |||
dianugerahi Allah swt hikmah (Ilmu), kemudian dia memutuskan perkara | |||
dengannya dan mengajarkannya.” | |||
Diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas’ud ra, katanya: Rasulullah | |||
saw bersabda: | |||
(Tekas Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Barangsiapa membaca satu huruf Kitab Allah, maka dia | |||
mendapat pahala satu kebaikan sedangkan satu kebaikan dibalas sepuluh | |||
kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif, satu | |||
huruf dan Lam satu huruf serta Mim satu huruf.” | |||
(Riwayat Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi dan katanya: hadits | |||
Hasan Shahih) | |||
Diriwayatkan daripada Abu Said Al-Khudri ra daripada NabI saw | |||
Baginda bersabda, Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan | |||
menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat meminta kepada-KU, maka Aku | |||
berikan kepadanya sebiak-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang- | |||
orang yang meminta. Dan keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya | |||
adalah seperti, keutamaan Allah atas makhluk-Nya. | |||
(Riwayat Tirmidzi dan katanya: hadits hasan) | |||
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya: Rasulullah saw bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sesungguhnya orang yang tidak terdapat dalam rongga | |||
badannya sesuatu dari Al-Qur’an adalah seperti rumah yang roboh.” | |||
(Riwayat Tirmidzi dan katanya: hadits hasan sahih) | |||
Diriwayatkan daripada Abdullah bin Amrin Ibnul Ash ra dari pada | |||
Nabi saw bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, bacalah dan | |||
naiklah serta bacalah dengan tartil seperti engkau membacanya di dunia | |||
karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” | |||
(Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’I, Tirmidzi berkata, hadits | |||
hasan sahaih) | |||
Diriwayatkan dari Mu’adz bin Anas ra bahwa Rasulullah saw | |||
bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan | |||
isinya, Allah memakaikan pada kedua orang tuanya di hari kiamat suatu | |||
mahkota yang sinarnya lebih bagus dari pada sinar matahari di rumah-rumah | |||
di dunia. Maka bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang mengamalkan | |||
ini.” | |||
(Riwayat Abu | |||
Dawud) | |||
Ad-Darimi meriwayatkan dengan isnadnya dari Abdullah bin mas’ud | |||
daripada Nabi saw: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Bacalah Al-Qur’an karena Allah tidak menyiksa hati | |||
yang menghayati Al-Qur’an. Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah jamuan | |||
Allah, maka siapa yang masuk di dalamnya, dia pun aman. Dan siapa | |||
mencintai Al-Qur’an, maka berilah kabar gembira.” | |||
Diriwayatkan daripada Abdul Humaidi Al-Hamani, katanya: “Aku | |||
bertanya kepada Sufyan Ath-Thauri, manakah yang lebih engkau sukai, | |||
orang yang berperang atau orang yang membaca Al-Qur’an?” Sufyan | |||
menjawab: “Membaca Al-Qur’an. Karena Nabi saw bersabda. ‘Orang yang | |||
terbaik di antara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan | |||
mengajarkannya.” | |||
== | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
22 | |||
KELEBIHAN ORANG YANG | |||
MEMBACA AL-QUR’AN | |||
Ibnu Mas’ud Al-Anshari Al-Badri ra meriwayatkan dari Nabi saw, | |||
sabdanya: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Orang yang paling berhak menjadi imam dari suatu | |||
kaum adalah orang yang terpandai membaca Kitab Allah diantara mereka. | |||
Jika mereka sama taraf dari segi bacaan. maka yang lebih mengetahuai | |||
tentang sunnah.” | |||
(Riwayat | |||
Muslim) | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas raa, katanya “adalah para pembaca Al- | |||
Qur’an hadir di majelis Umar ra bermusyawarah dengannya, terdiridari | |||
orang tua dan pemuda.” | |||
(Riwayat Bukhari dalah shahihnya) | |||
Setelah ini insya-Allah , saya akan mengemukakan hadits-hadits yang | |||
masuk dalam Bagian ini. | |||
Ingatlah bahwa madzhab yang shahih dan terpilih yang | |||
diambilkan para ulama ialah bahwa membaca Al-Qur’an adalah lebih utama | |||
dari membaca Tasbih dantahlil serta dzikir-dzikir lainnya. Banyak dalil kuat | |||
yang mendukung hal itu, Wallahua’lam. | |||
== | |||
2 | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
23 | |||
MENGHORMATI DAN MEMULIAKAN | |||
GOLONGAN AL-QUR’AN | |||
Allah Azza wa Jalla telah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka | |||
sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. | |||
(QS Al-Hajj 22:32) | |||
Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa | |||
mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih | |||
baik baginya di sisi Tuhannya.” | |||
(QS Al-Hajj 22:29) | |||
Allah berfirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang | |||
yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman (mukmin).” (QS Asy- | |||
Syu’araa’ 26:215) | |||
Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin | |||
dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya | |||
mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” | |||
(QS Al-Azhab 33:58) | |||
Dalam bagian ini terdapat hadits Ibnu Mas’ud Al-Ashari dan hadits | |||
Ibnu Abbas yang telah disebut di dalam bagian kedua. | |||
Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari ra, katanya: Rasulullah saw | |||
bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Diriwayatkan dari Abu Musa AL-Asy ari, katanya: | |||
Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya termasuk menggagungkan Allah | |||
swt adalah memuliakan orang tua yang muslim dan pengkaji Al-Qur’an yang | |||
3 | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
24 | |||
tidak melampau batas dan tidak menyimpang dari padanya serta | |||
memuliakan penguasa yang adil.” | |||
(Riwayat Abu Dawud dan ia hadits hasan) | |||
Diriwayatkan dari Aisyah ra, katanya: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa beliau berkata: | |||
Rasulullah saw menyuruh kami menempatkan orang-orang dalam | |||
kedudukan mereka.” | |||
(Riwayat Abu Dawud dalam sunnannya dan Al-Bazzar dalam | |||
Musnadnya. Abu Abdillah Al-Hakim berkata dalam Ulumul hadits, dia | |||
hadits sahih). | |||
Diriwayatkan dari Jabir Bin Abdillah ra | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sesungguhnya Nabi saw mengumpulkan antara dua | |||
orang korban perang Uhud, kemudian berkata, ‘Siapa yang lebih banyak | |||
hafal Al-Qur’an di antara keduanya, beliau mendahulukannya masuk ke | |||
liang lahat.” | |||
(Riwayat Bukhari) | |||
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
“Diriwayatkan dari Nabi saw: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla | |||
berfirman, ’Siapa yang yang mengganggu wali-Ku, maka Aku telah | |||
menyatakan perang kepadanya.” | |||
(Riwayat Bukhari) | |||
Diriwayatkan dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Nabi saw | |||
bahwa baginda bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Barangsiapa sembahyang Subuh, maka dia berada dalam | |||
jaminan Allah swt. Oleh sebab itu jangan sampai kamu dituntut oleh Allah | |||
swt atas sesuatu dari jaminan-Nya.” | |||
Diriwayatkan dari duam imam yang agung yaitu Imam Abu Hanifah | |||
dan Imam Asy-Syafi’i ra, keduanya berkata: “Jika para ulama bukan wali | |||
Allah swt, maka Allah swt tidak punya wali.” | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
25 | |||
Imam Al-Hafizh Abu Qasim Ibnu Asakir rahimahullah berkata: | |||
“Ketahuilah wahai saudaraku - mudah-mudahan Allah swt memberikan | |||
keridhaan-Nya bagi kita dan menjadikan kita termasuk orang yang takut dan | |||
bertaqwa kepada-Nya dengan taqwa yang sebenarnya bahwa daging para | |||
ulama itu beracun, kebiasaan Allah swt dalam menyingkap tabir para pencela | |||
akan terlihat dengan sendirinya. Dan siapa melecehkan para ulama, Allah swt | |||
menimpakan bencana atasnya sebelum kematiannya dengan kematian hati.” | |||
Allah berfirman: | |||
Terjemahan: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah- | |||
Nya, takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” | |||
(QS An-Nur 24:63) | |||
== | |||
PANDUAN MENGAJAR DAN BELAJAR | |||
AL-QUR’AN | |||
Bagian ini serta dua bagian yang merupakan tujuan penulisan kitab | |||
ini. Bagian ini mengandung pembahasan yang panjang dan luas sekali. Saya | |||
4 | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
26 | |||
telah berusaha menyajikan tujuan-tujuannya secara ringkas dalam beberapa | |||
fasal supaya mudah diingat dan seterusnya diamalkan, insya Allah. | |||
Masalah ke-1: | |||
Pertama-tama yang mesti dilakukan oleh guru dan pembaca adalah | |||
mengharapkan keridhaan Allah swt: | |||
Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya | |||
menyembah Allah swt dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam | |||
(menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan | |||
sembahyang dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang | |||
lurus.” | |||
(QS Al-Bayyinah 98:5) | |||
Diriwayatkan dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Rasulullah | |||
saw: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya | |||
dan sessungguhnya setiap orang mendapat apa yang diniatkannya.” | |||
Hadits ini merupakan tonggak dan dasar Islam. | |||
Telah kami terima riwayat dari Ibnu Abbas ra, katanya: | |||
“Sesungguhnya manusia diberi ganjaran sesuai dengan niatnya." | |||
Dan dari lainnya: “Sesungguhnya orang-orang diberi ganjaran sesuai | |||
dengan niat-niat mereka.” | |||
Telah kami terima riwayat dari Al-ustadz Abu Qasim Al-Qusyairi | |||
rahimahullah dia berkata: “Ikhlas ialah taat kepada Allah swt saja dengan | |||
tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt tanpa sesuatu tujuan lainnya, | |||
seperti berpura-pura kepada makhluk atau menunjukkan perbuatan baik | |||
kepad orang banyak atau mengharap kecintaan atau pujian dari manusia atau | |||
sesuatu makna selain mendekatkan diri kepada Allah swt.” Dan dia berkata: | |||
“Bisa dikatakan, ikhlas itu adalah membersihkan perbuatan dari perhatian | |||
makhluk.” | |||
Diriwayatkan dari Huzaifah Al-Mar’asyi rahimahullah: “Ikhlas ialah | |||
kesamaan antara perbuatan-perbuatan hamba secara lahir dan batinnya.” | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
27 | |||
Diriwayatkan dari Dzin Nun Rahimahullah, katanya: “Tiga perkata | |||
merupakan tanda ikhals yaitu sama saja tidak terpengaruh oleh pujian dan | |||
celaan orang banyak; lupa melihat di antara amal-amal; dan mengharapkan | |||
pahala amal-amalnya di akhirat.” | |||
Diriwayatkan dari Fudhai bin Iyadh ra, katanya: “Meninggalkan amal | |||
untuk orang banyak adalah riya dan bermal untuk orang banyak adalah | |||
syirik, sedangkan ikhlas adalah jika Allah swt membebaskanmu dari | |||
keduanya.” | |||
Diriwayatkan dari Sahl At-Tustari rahimahullah, katanya: “Orang- | |||
orang cerdas mengetahui penafsiran surah Al-Ikhlas, tapi mereka tidak | |||
mendapat selain ini yaitu gerak dan diamnya dalam keadaan sendiri ataupun | |||
di hadapan orang lain hanya bagi Allah swt semata-mata, tidak bercampur | |||
sesuatu apapun baik nafsu, keinginan ataupun kesenangan dunia.” | |||
Diriwayatkan dari As-Sariyyu rahimahullah, katanya: “Jangan lakukan | |||
sesuatu karena mengharap pujian orang banyak, jangan tinggalkan sesuatu | |||
karena mereka, jangan menutup sesuatu karena mereka dan jangan membuka | |||
sesuatu karena mereka.” | |||
Diriwayatkan dari Al-Qusyairi, katanya: “Kebenaran yang paling | |||
utama adalah kesamaan antara dalam keadaan sunyi (sendiri) ataupun di | |||
dalam kebanyakan orang banyak.” | |||
Diriwayatakan dari Al-Harith Al-Muhasibi rahimahullah, katanya: | |||
“Orang yang benar tidak peduli, meskipun dia keluar dari segala apa yang | |||
ditetapkan dalam hati makhluk terhadapnya untuk kebaikan hatinya. Dan | |||
dia tidak suka orang-orang mengetahui kebaikan perbuatannya sedikit pun | |||
dan tidak benci jika orang-orang mengetahui perbuatannya yang buruk | |||
karena kebenciannya atas hal itu adalah sebagai bukti bahwa dia menyukai | |||
tambahan di kalangan mereka, yang demikian itu termasuk akhlak orang- | |||
orang yang lurus.” | |||
Diriwayatkan dari lainnya: “Jika engkau memohon kepada Allah swt | |||
dengan kebenaran, maka Allah swt memberimu cermin di mana engkau | |||
melihat segala sesuatu dari keajaiban dunia dan akhirat.” | |||
Banyak pendapat ulama Salaf berkenaan dengan hal ini. Saya hanya | |||
menyinggung sebagian kecil saja sekedar untuk mengingatkan. Saya telah | |||
menyebutkan sejumlah pendapat ulama dan menjelaskannya di awal Syarhil | |||
Muhadzdzan dan saya tambahkan adab-adab orang alim dan pelajar, orang | |||
faqih dan pelajar fiqh yang diperlukan bagi mereka yang sedang menuntut | |||
ilmu. Wallahua’lam. | |||
Masalah ke-2: | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
28 | |||
Hendaknya seseorang tidak memiliki tujuan dengan ilmu yang | |||
dimilikinya untuk mencapai kesenangan dunia berupa harta atau ketenaran. | |||
Kedudukan, keunggulan atas orang-orang lain, pujian dari orang banyak atau | |||
ingin mendapatkan perhatian orang banyak dan hal-hal seperti itu. | |||
Hendaklah guru tidak mengharapkan dengan pengajarannya itu | |||
sesuatu yang dperlukan dari murid-muridnya, baik itu berupa pemberian | |||
harta atau pelayanan, meskipun sedikit dan sekalipun berupa hadiah yang | |||
seandainya dia tidak mengajarinya membaca Al-Qur’an, tentulah dia tidak | |||
diberi hadiah. Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, | |||
Kami berikan kepadanya sebagian daripada keuntungan dunia dan tidak ada | |||
baginya suatu bagianpun di akhirat.” | |||
(QS Asy-Syuura 26:20) | |||
Allah berfirman: | |||
Terjemahan: “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang | |||
(duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami | |||
kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki.” | |||
(QS Al-Israa’ 17:18) | |||
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, katanya: Rasulullah saw | |||
bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Barangsiapa yang keridhaan Allah swt dari ilmu yang | |||
dipunyainya, sedangkan dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapat | |||
kesenangan dunia, maka diapun tidak mencium bau syurga pada hari | |||
kiamat. Kata Suraij, maksud hadits ini ilalah bau Syurga.” | |||
(Riwayat Abu Dawud dengan isnad Shahih) | |||
Dan masih banyak lagi hadits-hadits seperti itu. | |||
Diriwayatkan dari Anas, Hudzaifah dan Ka’ab bin Malik ra bahwa | |||
Rasulullah saw bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Barangsiapa menuntut ilmu sekedar untuk mencari | |||
kemenangan berdebat dengan orang-orang yang lemah (bodoh) atau | |||
membanggakan diri kepada para ulama atau memalingkan perhatian orang- | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
29 | |||
orang kepadanya, maka biarlah dia mendapatkan tempat yang celaka di | |||
neraka.” Abu Isa berkata: Hadits ini adalah hadits Gharib. | |||
Masalah ke-3: | |||
Hendaklah dia waspada agar tidak memaksakan banyak orang yang | |||
belajar dan orang yang datang kepadanya, hendaklah dia tidak membenci | |||
murid-muridnya yang belajar kepada orang lain selain dirinya. Ini musibah | |||
yang menimpa sebagian pengajar yang lemah dan itu bukti jelas dari | |||
pelakunya atas niatnya yang buruk dan batinnya yang rusak. Bahkan itu | |||
adalah hujah yang meyakinkan bahwa dia tidak menginginkan keridhaan | |||
Allah Yang Maha Pemurah dengan pengajarannya itu. Karena jika dia | |||
menginginkan keridhaan Allah swt dengan pengajarannya, tentulah dia | |||
tidak membenci hal itu, tetapi dia akan mengatakan kepada dirinya: “Aku | |||
menginginkan ketaatan dengan pengajarannya. Dengan belajar kepada orang | |||
lain dia ingin menambah ilmu, maka tidak ada yang salah dengan dirinya.” | |||
Telah kami terima riwayat dalam Musnad Imam yang diakui | |||
keafsahannya dan kepemimpinannya Abu Muhammad Ad-Daarimi | |||
rahimahullah dari Ali bin Abu Thalib ra, katanya: “Wahai orang-orang | |||
berilmu! Amalkanlah ilmumu karena orang alim itu ialah orang yang | |||
mengamalkan apa yang diketahuinya dan ilmunya sesuai dengan amalnya. | |||
Akan muncul orang-orang yang mempunyai ilmu dan tidak melampaui | |||
tenggorokan mereka dan perbuatan mereka bertentangan dengan ilmu | |||
mereka dan batin mereka bertentangan dengan zahirnya. Mereka duduk di | |||
majelis-majelis dan sebagian mereka membanggakan diri kepada sebagian | |||
lainnya sampai ada orang yang marah kepada kawan duduknya karena | |||
belajar kepada orang lain dan dia meninggalkannya. Amal-amal yang mereka | |||
lakukan di majelis-majelis itu tidak akan sampai kepada Allah swt.” | |||
Telah sah riwayat dari Imam Asy-Syafi’i ra bahwa beliau berkata: | |||
“Aku berharap kiranya -orang belajar ilmu ini - yakni ilmu dan kitab- | |||
kitabnya - agar kiranya dia tidak menisbahkan kepadaku satu huruf pun | |||
daripadanya.” | |||
Masalah ke-4: | |||
Pengajar mesti memiliki akhlak yang baik sebagaimana ditetapkan | |||
syarak, berkelakuan terpuji dan sifat-sifat baik yang diutamakan Allah swt, | |||
seperti zuhud terhadap keduniaan dan mengambil sedikit daripadanya, tidak | |||
mempedulikan dunia dan pecintanya, sifat pemurah dan dermawan serta | |||
budi pekerti mulia, wajah yang berseri-seri tanpa melampaui batas, | |||
penyantun, sabar, bersikap warak, khusyuk, tenang, berwibawa, rendah hati | |||
dan tunduk, menghindari tertawa dan tidak banyak bergurau. Dia mesti | |||
selalu mengerjakan amalan-amalan syar’iyah seperti membersihkan kotoran | |||
dan rambut yang disuruh menghilangkannya oleh syarak, seperti mencukur | |||
kumis dan kuku, menyisir jenggot, menghilangkan bau busuk dan | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
30 | |||
menghindari pakaian-pakaian tercela. Hendaklah dia menjauhi sifat dengki, | |||
riya, sombong dan suka meremehkan orang lain, meskipun tingkatan orang | |||
itu di bawahnya. | |||
Sudah sepatutnya dia menggunakan hadits-hadits yang diriwayatkan | |||
berkenaan dengan tasbih, tahlil, dzikir-dzikir dan doa-doa lainnya. Dan | |||
hendaknya dia selalu memperhatikan Allah swt dalam kesunyian ataupun | |||
dalam kebanyakan, serta memelihara sikap itu dan hendaklah bersandar | |||
kepada Allah swt dalam semua urusannya. | |||
Masalah ke-5: | |||
Seorang pengajar sudah sepatutnya bersikap lemah-lembut kepada | |||
orang yang belajar kepadanya dan menyambutnya serta berbuat baik | |||
kepadanya sesuai dengan keadaannya. | |||
Kami telah meriwayatkan dari Abu Harun Al-Abdi, katanya: “Kami | |||
mendatangi Abu Said Al-Khudri ra, kemudian katanya: ‘Selamat datang | |||
dengan wasiat Rasulullah saw, sesungguhnya Nabi saw bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Orang-orang | |||
akan mengikuti kamu dan ada orang-orang yang datang kepada kamu dari | |||
berbagai penjuru bumi belajar ilmu agama. Jika mereka datang kepadamu, | |||
berwasiatlah kamu kepada mereka dengan baik.” | |||
(Riwayat Tirnidzi dan Ibnu Majah dan lainnya) | |||
Telah kami terima riwayat seperti itu dalam Musnad Ad-Daarimi dari | |||
Abu Darda’ ra | |||
Masalah ke-6: | |||
Seorang guru mesti memberikan nasihat bagi mereka karena | |||
Rasulullah saw bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Agama itu nasihat, bagi Allah swt, Kitab-Nya, Rasul- | |||
Nya, para pemimpin muslimin dan orang awam di antara mereka.” | |||
(Riwayat Muslim) | |||
Termasuk nasihat bagi Allah swt dan Kitab-Nya ialah memuliakan | |||
pembaca Al-Qur’an dan pelajarnya, membimbingnya kepada maslahatnya, | |||
bersikap lemah-lembut kepadanya dan membantunya untuk mempelajarinya | |||
sedapat mungkin serta membujuk hati pelajar di samping bersikap mudah | |||
ketika mengajarinya, bersikap lemah-lembut kepadanya dan mendorongnya | |||
untuk belajar. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
31 | |||
Hendaklah dia mengingatkannya akan keutamaan hal itu untuk | |||
membangkitkan kegiatannya dan menambah kecintaanya, membuatnya | |||
zuhud terhadap kesenangan dunia dan menjauhkan dari kecondongan serta | |||
mencegahnya agar tidak terpedaya olehnya. | |||
Seorang guru hendaklah mengingatkan dia akan keutamaan | |||
menyibukkan diri dengan mengkaji Al-Qur’an dan ilmu-ilmu syar’iyyah | |||
lainnya. Itu adalah jalan orang-orang yang teguh dan arif serta hamba-hamba | |||
Allah yang sholeh dan itu adalah derajat para nabi, mudah-mudahan | |||
sholawat dan salam Allah swt tetap atas mereka. | |||
Hendaklah seorang guru menyayangi muridnya dan memperhatikan | |||
kemaslahatan-kemaslahatannya seperti perhatiannya terhadap maslahat- | |||
maslahat anak-anak dan dirinya sendiri. | |||
Dan hendaklah murid itu diperlakukan seperti anaknya sendiri yang | |||
mesti disayangi dan diperhatikan akan kebaikannya, sabar menghadapi | |||
gangguan dan kelakuannya yang buruk. Dan memaafkan atas kelakuannya | |||
yang kurang baik dalam sutu waktu karena manusia cenderung berbuat | |||
kesalahan dan tidak sempurna, lebih-lebih lagi jika mereka masih kecil. | |||
Sudah sepatutnya guru menyukai kebaikan baginya sebagai mana dia | |||
menyukai kebaikan bagi dirinya dan tidak menyukai kekurangan baginya | |||
secara mutlak sebagaiamana dia tidak menyukai bagi dirinya. | |||
Terdapat riwayat di dalam Shahihain dari Rasulullah saw bahwa | |||
baginda Bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Tidaklah sempurna iman seseorang dari kamu hingga | |||
dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” | |||
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya: “Orang yang termulia di | |||
sampingku adalah kawan dudukku yang melangkah melalui diantara | |||
manusia hingga dia duduk menghadapku. Seandainya aku sanggup | |||
mencegah lalat hinggap diwajahnya, niscaya aku melakukannya.” | |||
Dalam suatu riwayat: “Sungguh lalat yang hinggap di atasnya | |||
menggangguku.” | |||
Masalah ke-7: | |||
Sudah sepatutnya guru tidak menyombongkan diri kepada para | |||
pelajar, tetapi bersikap lemah-lembut dan rendah hati terhadap mereka. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
32 | |||
Telah banyak keterangan berkenaan dengan tawadhuk terhadap | |||
kebanyakan manusia. Maka bagaimana pula terhadap mereka ini yang | |||
seperti anak-anaknya di samping kesibukan mereka dengan Al-Qur’an dan | |||
hak pergaulannya pada mereka dan keseringan mereka datang kepadanya. | |||
Diriwayatkan dari Nabi saw bahwa Baginda bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Bersikaplah lemah-lembut kepada orang yang kamu | |||
ajari dan guru yang mengajari kamu.” | |||
Diriwayatkan dari Abu Ayub As-Sakhtiyani rahimahullah, katanya: | |||
“Patutlah orang yang alim meletakkan tanah di atas kepalanya karena | |||
merendah diri terhadap Allah Azza wa Jalla.” | |||
Masalah ke-8: | |||
Sudah sepatutnya pelajar dididik secara berangsur-angsur dengan | |||
adab-adab yang luhur dan perilaku yang baik serta dilatih dirinya atas | |||
perkara-perkara kecil yang terpuji. | |||
Hendaklah guru membiasakan diri memelihara dri dalam semua | |||
urusan yang batin dan terang di samping mendorongnya dengan perkataan | |||
dan perbuatan yang berulangkali untu menunjukkan keikhlasan dan berlaku | |||
benar serta memiliki niat yang baik serta memperhatikan Allah swt pada | |||
setiap saat. | |||
Hendaklah guru memberitahu kepada pelajar bahwa dengan sebab itu | |||
terbukalah cahaya makrifat di atasnya, dadanya menjadi lapang, memancar | |||
dari hatinya sumber-sumber hikmah dan pengetahuan, Allah swt akan | |||
memberikan berkat pada ilmu dan perbuatannya dan memberikan petunjuk | |||
pada setiap perbuatan dan perkataannya. | |||
Masalah ke-9: | |||
Mengajari para pelajar adalah fardu kifayah. Jika tidak ada orang yang | |||
mampu kecuali seorang maka wajiblah ke atasnya. Jika ada beberapa orang | |||
yang setengah dari mereka bisa mengajar tetapi mereka menolak, maka | |||
mereka berdosa. Jika setengah dari mereka mengerjakannya, gugurlah | |||
tanggung jawab dari yang selainnya. Jika salah seorang dari mereka diminta | |||
sedang dia menolak, maka pendapat yang lebih tepat ialah dia tidak berdosa, | |||
tetapi dihukumkan makruh ke atasnya jika tiada halangan. | |||
Masalah ke-10: | |||
Diutamakan bagi pengajar agar mementingkan pengajaran mereka | |||
dengan melebihkannya di atas kemaslahatan dirinya yang bersifat duniawi | |||
yang bukan keperluan utama/asas yang amat mendesak. Hendaklah dia | |||
mengosongkan hatinya dari segala hal yang menyibukkannya, ketika dia | |||
duduk untuk mengajari mereka. Hendaklah dia berusaha keras menjadikan | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
33 | |||
mereka mengerti dan memberi masing-masing dari mereka memperoleh | |||
bagian yang layak ke atasnya. Maka janganlah dia mengajari banyak perkara | |||
kepada pelajar yang tidak bisa menerima banyak dan jangan meringkas bagi | |||
siapa yang menonjol kecerdasannya semala tidak dibimbingkan akan terjadi | |||
fitnah ke atasnya karena timbul rasa bangga atau lainnya. | |||
Siapa yang kurang perhatiannya, seorang guru bisa menegurnya | |||
dengan lemah-lembut selama dia tidak takut murid itu akan lari. Janganlah | |||
dengki kepada salah seorang dari mereka karena kepandaian yang menonjol | |||
dan jangan mengganggap dirinya istimewa karena nikmat yang | |||
dianugerahkan Allah swt kepadanya. | |||
Karena kedengkian kepada orang lain amat diharamkan, apalagi | |||
terhadap pelajar yang memiliki kedudukan seperti anak. Kepandaiannya | |||
adalah atas jasa gurunya yang mendapat pahala yang banyak di akhirat dan | |||
pujian yang baik didunia. Hanya Allah Yang memberi taufik. | |||
Masalah ke-11: | |||
Jika jumlah mereka banyak, maka dahulukan yang pertama, kemudian | |||
yang berikutnya. Jika yang pertama rela gurunya mendahulukan lainnya, | |||
maka bisa mendahulukannya. Patutlah guru menunjukkan kegembiraan dan | |||
muka yang berseri-seri, memeriksa keadaan mereka dan keadaan mereka dan | |||
menanyakan siapa yang tidak hadir dari mereka. | |||
Masalah ke-12: | |||
Para ulama berkata: “Janganlah guru menolak mengajari seseorang | |||
karena niatnya tidak benar.” | |||
Sufyan dan yang kain bertanya berkenaan dengan niat murid-murid | |||
yang menuntut ilmu kepadanya. Mereka berkata: “Kami belajar ilmu untuk | |||
selain Allah swt”, maka Sufyan enggan mengajar mereka dan berharap agar | |||
tidak melakukannya kecuali untuk Allah swt. Yakni ilmu itu digunakan | |||
hanya semata-mata karena Allah swt. | |||
Masalah ke-13: | |||
Termasuk adab seorang guru yang amat ditekankan dan perlu | |||
diperhatikan ilaha guru mestinya menjaga kedua tanganya ketika mengajar | |||
dari bermain-maian dan menjaga kedua matanya dari memandang kemana- | |||
mana tanpa keperluan. | |||
Hendaklah dia duduk dalam keadaan suci menghadap kiblat dan | |||
duduk tengang dengan memakai baju yang putih bersih. Jika sampai | |||
ketempat duduknya, dia sembahyang dua rakaat sebelum duduk, sama ada | |||
tempat itu masjid atau lainnya. Jika sebuah masjid, maka adab itu lebih di | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
34 | |||
tekankan karena dihukumkan makruh duduk di situ sebelum sembahyang | |||
dua rakaat. Dia bisa duduk bersila atau dengan cara lainnya. | |||
Diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abu Dawud As-Sijistani dengan | |||
isnadnya dari Abdullah bin Mas’ud r.a: “Beliau pernah mengajar manusia dia | |||
masjid sambil duduk berlutut.” | |||
Masalah ke-14: | |||
Termasuk adab guru yang amat ditekankan dan perlu diperhatikan | |||
ialah tidak diperkenankan merendahkan ilmu dengan pergi ke tempat yang | |||
dihuni pelajar untuk belajar dari padanya. Sekalipun pelajar itu Khalifah atau | |||
di bawah kedudukannya. Bagaimanapun dia mesti menjaga ilmu dari hal itu | |||
sebagaimana silakukan para ulama Salaf ra cerita-cerita mereka tentang hal | |||
ini banyak dan sudah diketahui. | |||
Masalah ke-15: | |||
Hendaklah dia mempunyai majlis atau ruang kelas yang luas supaya | |||
murid-murid boleh duduk di situ. Dalam hadits dari Nabi s.a.w sabdanya: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sebaik-baik majlis ialah yang paling luas.” | |||
(Riwayat Abu Dawud dalam Sunannya) | |||
Hadits itu telah disebutkan di awal kitab Al-Adab dengan isnad sahih | |||
riwayat Abu Said Al-Khudri ra | |||
Masalah ke-16: | |||
Adab pelajar dan penuntut ilmu. Semua yang saya sebutkan berkenaan | |||
dengan adab pengajar (guru) juga merupakan adab bagi pelajar. Termasuk | |||
adab pelajar ialah menjalani hal-hal yang menyibukkan sehingga tidak boleh | |||
memusatkan perhatian untuk belajar, kecuali hal yang mesti dilakukan | |||
kerana keperluan. Hendaklah dia membersihkan hatinya dari kotoran- | |||
kotoran dosa supaya boleh menerima Al-Qur’an, manghafal dan | |||
memanfaatkannya. | |||
Diriwayatkan dari Rasulullah s.a.w bahawa Baginda bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia | |||
segumpal daging. Jika daging itu baik, seluruh tubuh menjadi baik. Jika | |||
daging itu rosak, seluruh tubuh menjadi rosak. Ingatlah, daging itu ialah | |||
hati.” | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
35 | |||
Sungguh baik perkataan orang yang mengatakan: “Hati itu menjadi | |||
baik dengan ilmu sebagaimana bumi menjadi baik kerana dijadikan | |||
pertanian.” | |||
Hendaklah pelajar bersikap merendah hati terhadap gurunya dan | |||
sopan kepadanya, meskipun lebih muda, kurang terkenal dan lebih rendah | |||
nasab dan keturunannya dari pada dia. Hendaklah pelajar bersikap | |||
merendah hati untuk belajar ilmu. Dengan sikapnya yang merendah hati dia | |||
boleh mendapat ilmu. | |||
Seorang penyair menendangkan sebuah madah: | |||
Ilmu itu tidak boleh mencapai pemuda | |||
Yang menyombongkan diri, | |||
Sebagaimana air bah | |||
Tidak boleh mencapai tempat yang tinggi. | |||
Pelajar mesti patuh kepada gurunya dan membicarakan dengannya | |||
dalam urusan-urusannya. Dia terima perkataannya seperti orang sakit yang | |||
berakal menerima nasihat doktor yang menasihati dan mempunyai | |||
kepandaian, maka yang demikian itu lebih utama. | |||
Masalah ke-17: | |||
Janganlah dia belajar kecuali dari orang yang lengkap keahliannya, | |||
menonjol keagamaanya, nyata pengetahuannya dan terkenal kebersihan | |||
dirinya. | |||
Muhammad bin Sirin dan Malik bin Anas serta para ulama salaf | |||
lainnya berkata: “Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kamu | |||
mengambil agama kamu.” | |||
Pelajar mesti memuliakan gurunya dan meyakinkan kesempurnaan | |||
keahliannya dan keunggulannya dia atas golongannya kerana hal itu lebih | |||
dekat untuk mendapat manfaat dari padanya. | |||
Sebagian ulama masa lalu (ulama Mutaqaddimin) apabila pergi | |||
kepada gurunya, dia sedekahkan sesuatu seraya berkata: “Ya Allah, tutupilah | |||
keburukan guruku dariku dan jangan hilangkan keberkatan ilmunya dariku. | |||
“Rabi, sahabat Asy-Syafi’i rahumahullah berkata: “Aku tidak berani minum | |||
air sementara Asy-Syafi’i memandang kepadaku kerana kewibawaannya.” | |||
Telah kami terima riwayat yang bersumber dari Amirul Mukminin Ali | |||
bin Abu Thalib ra, katanya: “Termasuk kewajibanmu terhadap guru ialah | |||
engkau memberi salam kepada orang-orang secara umum dan | |||
mengkhususkannya dengan suatu penghormatan. Hendaklah engkau duduk | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
36 | |||
di depannya dan tidak memberi isyarat di dekatnya dengan tanganmu | |||
ataupun mengerdipkan kedua matamu.” | |||
Janganlah engkau katakan, si fulan berkata lain dari yang engkau | |||
katakan. Jangan mengumpat seseorang di dekatnya dan jangan | |||
bermusyawarah dengan kawan dudukmu di majlisnya. Jangan memegang | |||
bajunya jika dia hendak berdiri, jangan mendesaknya jika dia malas dan | |||
jangan merasa bosan kerana lama bergaul denganya. Patutlah pelajar | |||
melaksanakan adab-adab yang ditunjukkan oleh Allah s.w.t. | |||
Hendaklah pelajar menolak umpatan terhadap gurunya jika dia | |||
mampu. Jika tidak mampu menolaknya, hendaklah dia tinggalkan majlis itu. | |||
Masalah ke-18: | |||
Hendaklah pelajar masuk ke ruang/majlis gurunya dalam keadaan | |||
memiliki sifat-sifat sempurna sebagaimana yang saya sebutkan perlu ada | |||
pada guru. Antara lain dengan bersuci menggunakan siwak dan | |||
menggosokkan hati dari hal-hal yang menyibukkan. Janganlah dia masuk | |||
sebelum minta izin jika gurunya berada di suatu tempat yang perlu minta | |||
izin untuk memasukinya. Hendaklah pelajar memberi salam kepada para | |||
hadirin ketika masuk dan mengkhususkan gurunya dengan penghormatan | |||
tertentu. Dia memberi salam kepada gurunya dan kepada mereka ketika dia | |||
pergi sebagaimana disebut di dalam hadits: | |||
“Bukanlah salam yang pertama itu lebih baik daripada yang kedua?” | |||
Janganlah dia melangkahi bahu orang lain, tetapi hendaklah dia | |||
duduk di mana tempat majlis berakhir, kecuali jika guru mengizinkan | |||
baginya untuk maju atau dia ketahui dari keadaan mereka bahawa mereka | |||
lebih menyukai hal itu. Janganlah dia menyuruh seseorang berdiri dari | |||
tempatnya. Jika orang lain mengutamakannya, jangan diterima, sesuai | |||
dengan sikap Umar ra kecuali jika dengan mengikutinya terdapat maslahat | |||
bagi orang-orang yang hadir atau guru menyuruhnya berbuat demikian. | |||
Janganlah dia duduk di tengah halaqah (majlis), kecuali jika ada keperluan. | |||
Janganlah duduk diantara dua kawan tanpa izin keduanya. Tetapi jika | |||
keduanya melapangkan tempat untuknya, dia pun bolehlah duduk | |||
merapatkan dirinya. | |||
Masalah ke-19: | |||
Hendaklah dia menunjukkan adab terhadap kawan-kawannya dan | |||
orang-orang yang menghadiri majlis guru itu. Hal itu merupakan sikap sopan | |||
terhadap guru dan pemeliharaan terhadap majlisnya. Dia duduk dihadapan | |||
guru dengan cara duduk sebagai seorang pelajar, bukan cara duduknya guru. | |||
Janganlah dia menguatkan suaranya tanpa keperluan, jangan tertawa, jangan | |||
banyak bercakap tanpa keperluan, jangan bermain-main dengan tangannya | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
37 | |||
ataupun lainnya. Jangan menoleh ke kanan dan kekiri tanpa keperluan, tetapi | |||
menghadap kepada guru dan mendengar setiap perkataanya. | |||
Masalah ke-20: | |||
Perkara lain yang perlu diperhatikan ialah tidak belajar kepada guru | |||
dalam keadaan hati guru sedang sibuk dan dilanda kejemuan, ketakutan, | |||
kesedihan, kegembiraan, kehausan, mengantuk, kegelisahan dan hal-hal lain | |||
yang dapat menghalangi guru untuk dapat mengajar dengan baik dan serius. | |||
Hendaklah dia manfaatkan waktu-waktu di mana gurunya dalam keadaan | |||
sempurna. | |||
Termasuk sebagian dari adabnya ialah menahan ketegasan guru dan | |||
keburukan akhlaknya. Janganlah hal itu menghalangnya untuk | |||
menzaliminya dan meyakini kesempurnaannya. Hendaklah dia | |||
mentakwilkan perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan zahir gurunya | |||
yang kelihatantidak baik dengan takwil-takwil yang baik. Tidaklah boleh | |||
melakukan itu kecuali orang yang mendapat sedikit taufik atau tidak | |||
mendapatnya. Jika gurunya berlaku kasar; hendaklah dia yang lebih dahulu | |||
meminta maaf dengan mengemukakan alasan kepada guru dan menujukkan | |||
bahawa dialah yang patut dipersalahkan. Hal itu lebih bermanfaat baginya | |||
didunia dan diakhirat serta lebih membersihkan hati guru. | |||
Mereka berkata: “Barangsiapa tidak sabar menghadapi kehinaan | |||
ketika belajar, maka sepanjang hidupnya tetap dalam kebodohan. Dan | |||
barangsiapa yang sabar menghadapinya, maka dia akan mendapat kemuliaan | |||
di dunia dan akhirat.” Senada dengan nasihat itu ialah athar yang mansyur | |||
dari Ibnu Abbas r.a: “Aku menjadi hina sebagai pelajar dan menjadi mulia | |||
sebagai guru.” | |||
Alangkah indahnya madah penyair berikut ini: | |||
Barangsiapa tidak tahan merasakan kehinaan sesaat, | |||
Maka dia melalui seluruh hidupnya dalam keadaan hina. | |||
Masalah ke-21: | |||
Termasuk adab pelajar yang amat ditekankan ialah gemar dan tekun | |||
menuntut ilmu pada setiap waktu yang dapat dimanfaatkannya dan tidak | |||
puas dengan yang sedikit sedangkan dia boleh belajar banyak. Janganlah dia | |||
memaksa dirinya melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya | |||
supaya tidak jemu dan hilang apa yang diperolehnya. Ini berbeza sesuai | |||
dengan perbezaan manusia dan keadaan mereka. Jika tiba di majlis guru dan | |||
tidak menemukannya, dia mesti menunggu dan tetap tinggal di pintunya. | |||
Janganlah meninggalkan tugasnya, kecuali jika dia takut gurunya tidak | |||
menyukai hal itu dengan mengetahui bahawa gurunya mengajar dalam | |||
waktu tertentu dan tidak mengajar ketika lainnya. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
38 | |||
Jika menempati guru sedang tidur atau sibuk dengan sesuatu yang | |||
penting, janganlah dia minta izin untuk masuk, tetapi bersabar sehingga dia | |||
bangun atau selesai dari kesibukkannya. | |||
Bersabar lebih utama sebagaimana dilakukan oleh Ibnu Abbas ra dan | |||
lainnya. Hendaklah dia mendorong dirinya dengan berijtihad dalam | |||
menuntut ilmu ketika lapang, dalam keadaan giat dan kuat, cerdas pikiran | |||
dan sedikit kesibukkan sebelum nampak tanda-tanda ketidak-mampuan dan | |||
sebelum mencapai kedudukan yang tinggi. | |||
Amirul Mukminin Umar Ibn Al-Khattab ra berkata: “Tuntutlah ilmu | |||
sebelum kamu menjadi pemimpin. Yakni berijtihadlah dengan segenap | |||
kemampuanmu ketika kamu menjadi pengikut sebelum menjadi pemimpin | |||
yang diakui, kamu enggan belajar lantaran kedudukanmu yang tinggi dan | |||
pekerjaanmu yang banyak. Inilah makna perkataan Imam Asy-Syafi’i r.a: | |||
“Tuntutlah ilmu sebelum engkau menjadi pemimpin. Jika engkau | |||
sudah menjadi pemimpin, maka tiada lagi waktu untuk menuntut ilmu.” | |||
Masalah ke-22: | |||
Hendaklah dia pergi kepada gurunya untuk belajar di pagi hari | |||
berdasarkan hadits Nabi s.a.w: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Allah, berkatilah umatku pada waktu pagi hari.” | |||
Hendaklah dia memelihara bacaan hafalannya dan tidak | |||
mengutamakan orang lain pada waktu gilirannya kerana mengutamakan | |||
orang lain dalam hal ibadah adalah makruh. Lain halnya dengan kesenangan | |||
nafsu, maka hal itu disukai. Jika guru melihat adanya maslahat dalam | |||
mangutamakan orang lain pada suatu makna syar’i, kemudian menasihatinya | |||
agar berbuat sedemikian, maka dia perlu mematuhi perintahnya. | |||
Di antara yang wajib dan wasiat yang ditekankan daripadanya ialah | |||
jangan iri hati kepada seorang kawannya atau lainnya atau suatu keutamaan | |||
yang dianugerahkan Allah s.w.t kepadanya dan jangan membanggakan | |||
dirinya atas sesuatu yang diistemewakan Allah s.w.t baginya. Telah saya | |||
kemukakan penjelasan hal ini dalam adab-adab guru. | |||
Cara menghilangkan kebanggaan itu ialah dengan mengingatkan | |||
dirinya bahawa dia tidak mencapai hal itu dengan daya dan kekuatannya, | |||
tetapi merupakan anugerah dari Allah s.w.t. Tidaklah patut dia | |||
membanggakan sesuatu yang tidak diciptakannya, tetapi diamanahkan oleh | |||
Allah s.w.t padanya. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
39 | |||
Cara untuk menghilangkan iri hati ialah dengan menyadari bahawa | |||
hikmah Allah s.w.t, menghendaki untuk memberikan keutamaan tertentu | |||
kepada orang yang dikehendaki-Nya. Maka patutlah dia tidak | |||
menyanggahnya dan tidak membenci hikmah yang sudah ditetapkan Allah | |||
s.w.t. | |||
== | |||
PANDUAN MENGHAFAZ AL-QUR’AN | |||
Sebenarnya adab-adab ini sudah saya kemukakan sebagiannya pada | |||
bagian yang sebelum ini. Bagaimanapun, tidak ada salahnya mengulanginya | |||
sekali lagi di sini. | |||
Diantara adab-adab menghafaz Al-Qur’an ialah: Dia mesti berada | |||
dalam keadaan paling sempurna dan perilaku paling mulia, hendaklah dia | |||
menjauhkan dirinya dari segala sesuatu yang dilarang Al-Qur’an, hendaklah | |||
dia terpelihara dari pekerjaan yang rendah, berjiwa mulia, lebih tinggi | |||
darjatnya dari para penguasa yang sombong dan pencinta dunia yang jahat, | |||
merendahkan diri kepada orang-orang sholeh dan ahli kebaikan, serta kaum | |||
miskin, hendaklah dia seorang yang khusyuk memiliki ketenangan dan | |||
wibawa. | |||
Diriwayatkan daripada Umar bin Al-Khattab ra bahawa dia berkata: | |||
“Wahai para qari (yang mahir membaca) Al-Qur’an, angkatlah kepalamu! | |||
Jalan telah jelas bagimu dan berlombalah kamu untuk berbuat kebaikan dan | |||
janganlah kamu menggantungkan diri kepada orang lain.” | |||
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, katanya: “Hendaklah | |||
penghafaz Al-Qur’an menghidupkan malamnya dengan membaca Al-Qur’an | |||
ketika orang lain sedang tidur dan siang harinya ketika orang lain sedang | |||
berbuka. Hendaklah dia bersedih ketika orang lain bergembira dan menangis | |||
ketika orang lain tertawa, berdiam diri ketika orang lain bercakap dan | |||
menunjukkan kekhusyukkan ketika orang lain membanggakan diri.” | |||
5 | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
40 | |||
Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali ra, katanya: “Sesungguhnya | |||
orang-orang sebelum kamu, menganggap Al-Qur’an sebagai surat-surat dari | |||
Tuhan mereka. Maka mereka merenungkan pada waktu malam dan | |||
mengamalkannya pada waktu siang.” | |||
Diriwayatkan dari Al-Fuadhai bin Iyadh, katanya: “Penghafaz Al- | |||
Qur’an tidak boleh meminta keperluannya dari seorang khalifah (penguasa) | |||
dan dari orang yang berada di bawah kekuasaannya.” | |||
Diriwayatkan dari Al-Fudhai juga, katanya: “Penghafaz Al-Qur’an | |||
adalam pembawa bendera Islam. Tidaklah patut dia bermain bersama orang | |||
yang bermain dan lupa bersama orang yang lupa, serta tidak berbicara yang | |||
sia-sia dengan kawannya untuk mengagungkan Al-Qur’an.” | |||
Masalah ke-23: | |||
Hal yang perlu diberi penekanan dari apa yang diperintahkan kepada | |||
penghafaz Al-Qur’an ialah agar menghindarkan diri dari perbuatan | |||
menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber penghasilan atau pekerjaan dalam | |||
kehidupannya. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Syibil ra, katanya: | |||
Rasulullah s.a.w bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Bacalah Al-Qur’an dan jangan menggunakannya untuk | |||
mencari makan, jangan mencari kekayaan dengannya, jangan menjauhinya | |||
dan jangan melampaui batas di dalamnya.” | |||
Diriwayatkan dari Jabir ra, dari Nabi s.a.w: “Bacalah Al-Qur’an | |||
sebelum datang suatu kaum yang mendirikannya seperti menegakkan anak | |||
panah dengan terburu-buru dan mereka tidak mengharapkan hasilnya di | |||
masa depan." | |||
(Riwayat Abu Dawud) | |||
Dia meriwayatkannya dengan maknanya dari riwayat Sahl bin Sa’ad, | |||
artinya mereka mengharapkan upahnya dengan segera berupa uang atau | |||
kemasyuran dan sebagainya. | |||
Diriwayatkan dari Fudhai bin Amrin ra, katanya: “Dua orang sahabat | |||
Rasulullah s.a.w memasuki satu masjid. Ketika imam memberi salam seorang | |||
lelaki berdiri kemudian membaca beberapa ayat dari Al-Qur’an, kemudian | |||
dia meminta upah. Salah seorang dari keduanya berkata, Innaa lillahi wa | |||
innaa ilaihi raaji’un.’” | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
41 | |||
Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Akan datang suatu kaum | |||
yang meminta upah kerana membaca Al-Qur’an. Maka siapa yang meminta | |||
upah kerana membaca Al-Qur’an, janganlah kamu memberinya.” | |||
Isnad hadits ini terputus kerana Al-Fudhai bin Amrin tidak | |||
mendengar dari sahabat. | |||
Sementara mengambil upah kerana mengajar Al-Qur’an, maka para | |||
ulama berlainan pendapat. | |||
Imam Abu Sulaiman Al-Khattabi menceritakan larangan mengambil | |||
upah kerana membaca Al-Qur’an dari sejumlah ulama, di antaranya Az- | |||
Zuhri dan Abu Hanifah. Sejumlah ulama mengatakan boleh mengambil upah | |||
jika tidak mesyaratkannya, iaitu pendapat Hasan Bashri, Sya’bi dan lainnya | |||
berpendaapat boleh mengambil upah. Jika menyinggung dan dengan akad | |||
yang benar, ada hadits sahih yang mengharuskannya kerana telah kerana | |||
telah ada hadits-hadits sahih yang mengharuskannya. | |||
Ulama yang melarangnya berhujah dengan hadits Ubadah bin Shamit | |||
bahawa dia mengajarkan Al-Qur’an kepada seorang lelaki penghuni Shuffah, | |||
kemudia dihadiahkan kepadanya sebuah busur. Maka Nabi s.a.w berkata | |||
kepadanya: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Jika engkau suka dipakaikan kalung dari api di lehermu, | |||
maka terimalah hadiah itu.” | |||
Hadits itu adalah hadits masyur yang diriwayatkan oleh Abu Dawud | |||
dan lainnya. Dan berhujjah pula dengan banyak athar dari ulama Salaf. | |||
Para ulama yang mengharuskan boleh mengambil upah tadi | |||
menjawab tentang hadits Ubadah itu dengan dua jawapan: | |||
a) Bahawa dalam isnad hadits itu ada masalah. | |||
b) Orang itu menyumbangkan tenaga untuk mengajar, sudah tentu | |||
dia tidak berhak mendapat apa-apa. Kemudian dia diberi hadiah sebagai | |||
tanda terima kasih, maka dia tentu tidak boleh mengambilnya. Lain halnya | |||
dengan orang yang mengadakan akad dengannya sebelum mengajar. | |||
Wallahu’alam. | |||
Masalah ke-24: | |||
Hendaklah dia memelihara bacaan Al-Qur’an dan memperbanyak | |||
bacaanya. Ulama salaf mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang berlainan | |||
tentang tempo dan jangka masa mengkhatamkan Al-Qur’an. Ibnu Abi | |||
Dawud meriwayatkan dari sebagian ulama Salaf bahawa mereka | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
42 | |||
mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam setiap dua bulan, manakala | |||
setengah dari mereka mengkhatamkan Al-Qur’an dalam setiap bulan. | |||
Setengah dari mereka mengkhatamkannya sekali dalam sepuluh | |||
malam dan setengahnya mengkhatamkan sekali dalam setiap delapan malam. | |||
Banyak dari mereka mengkhatamkan dalam setiap tujuh malam. setengahnya | |||
mengkhatamkannya dalam setiap enam malam. Dsan ada pula dari mereka | |||
mengkhatamkannya dalam setiap lima malam. | |||
Sedangkan setengah dari mereka ada yang mengkhatamkannya dalam | |||
setiap empat malam, setiap tiga malam atau setiap dua malam. bahkan | |||
setengah dari mereka mengkhatamkannya sekali dalam sehari semalam. | |||
Di antara mereka ada yang mengkhatamkannya dua kali dalam sehari | |||
semalam dan ada yeng tiga kali. Bahkan setengah dari mereka | |||
mengkhatamkkannya delapan kali, yaitu empat kali pada waktu malam dan | |||
empat kali pada waktu siang. | |||
Diantara orang-orang mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sehari | |||
semalam ialah Usman bin Affan ra Tamim Ad-Daariy, Said bin Jubair, | |||
Mujahid, Asy-Syafi’i dan lainnya. | |||
Diantara orang-orang yang mengkhatamkan tiga kali dalam sehari | |||
semalam ialah Sali bin umar ra Qadhi Mesir pada masa pemerintahan | |||
Mu’awiyyah. | |||
Diriwayatkan bahawa Abu Bakr bin Abu Dawud ra mengkhatamkan | |||
Al-Qur’an tiga kali dalam semalam. | |||
Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Kindi dalam kitabnya berkenaan | |||
dengan Qadhi Mesir bahawa dia mengkhatamkan Al-Qur’an empat kali | |||
dalam semalam. | |||
Asy-Syeikh Ash-Shahih Abu Abdurahman As-Salami ra | |||
berkata: | |||
“Aku mendengar Asy-Syeikh Abu Usman Al-Maghribi berkata, | |||
‘Ibnu Khatib ra mengkhatamkan Al-Qur’an empat kali pada waktu siang dan | |||
empat kali pada waktu malam.” | |||
Ini adalah jumlah terbanyak yang saya ketahui dalam sehari semalam. | |||
Diriwayatkan oleh As-Sayyid, Ahmad Ad-Dauraqi dengan | |||
isnadnya dari Manshur bin Zaadzan ra, seorang tabi’in ahli ibadah bahawa | |||
dia mengkhatamkan Al-Qur’an di antara waktu Zuhur dan Ashar, kemudian | |||
mengkhatamkannya pula antara maghrib dan Isyak pada bulan Ramadhan | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
43 | |||
dua kali. Mereka mengakhirkan sembahyang Isyak pada bulan Ramadhan | |||
hingga berlalu seperempat malam. | |||
Diriwayatkan dari Manshur, katanya: “Ali Al-Azadi mengkhatamkan | |||
Al-Qur’an di antara Maghrib dan Isyak setiap malam pada bulan | |||
Ramadhan.” | |||
Diriwayatkan dari Ibrahim bin Said, katanya: “Ayahku duduk sambil | |||
melilitkan serbannya pada badan dan kedua kakinya dan tidak | |||
melepaskannya hingga selesai mengkhatamkan Al-Qur’an.” | |||
Sedangkan orang yang mengkhatamkannya dalam satu rakaat banyak | |||
sekali hingga tidak terhitung jumlahnya. Diantara orang-orang yang | |||
terdahulu ialah Usman bin Affan, Tamim Ad-Daariy dan Said bin Jubair ra | |||
yang mengkhatamkan dalam setiap rakaat di Kaabah. | |||
Manakala yang mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu, di | |||
antara mereka adalah Usman bin Affan r.a: Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin | |||
Thabit dan Ubai bin Ka’ab ra Dan dari tabi in antara lain ialah Abdurrahman | |||
bin Zaid, Alqamah dan Ibrahim rahimahullah. Hal itu berbeda menurut | |||
perbedaan orang-orangnya. | |||
Barangsiapa yang ingin merenungkan dan mempelajari dengan | |||
cermat, hendaklah dia membatasi diri pada kadar yang menimbulkan | |||
pemahaman yang sempurna atas apa yang dibacanya. Demikian jugalah | |||
siapa yang sibuk menyiarkan ilmu atau tugas-tugas agama lainnya dan | |||
kemaslahatan kaum muslimin yang bersifat umum, hendaklah dia membatasi | |||
pada kadar tertentu sehingga tidak mengganggu apa yang wajib | |||
dilakukannya. | |||
Jika kita belum termasuk ke peringkat yang di capai orang-orang yang | |||
disebut ini, maka bolehlah kita memperbanyak membaca Al-Qur’an sedapat | |||
mungkin tanpa menimbulakan kejemuan dan tidak terlalu cepat | |||
membacanya. | |||
Sejumlah ulama terdahulu tidak suka mengkhatamkan Al-Qur’an | |||
dalam sehari semalam. Mereka bertolak dari hadits sahih yang diriwayatkan | |||
Abdullah bin Amrin bin Al-Ash ra, katanya: Rasulullah s.a.w bersada: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Tidaklah orang yang membaca (mengkhatamkan) Al- | |||
Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari.” | |||
(Riwayat Adu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I dan lainnya) | |||
Tirmidzi berkata, ini hadits hasan sahih. Wallahua’lam. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
44 | |||
Sementara waktu permulaan dan pengkhataman bagi orang yang | |||
mengkhatamka Al-Qur’an dalam seminggu, maka telah diriwayatkan oleh | |||
Abu Dawud bahawa Usman bin Affan ra memulai membaca Al-Qur’an pada | |||
malam jumat dam mengkhatamkannya pada malam Khamis. | |||
Imam Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah berkata dalam Al-Ihya: | |||
“Cara yang lebih baik ialah mengkhatamkan sekali pada waktu malam dan | |||
sekali pada waktu siang dan menjadikan pengkhataman siang pada hari Isnin | |||
dalam dua rakaat fajar atau sesudahnya serta menjadikan pengkhataman | |||
malam pada malam jumaat dalam dua rakaat Maghrib atau sesudahnya | |||
supaya awal siangnya berhadapan dengan akhirnya.” | |||
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dawud dari Umar bin Murrah At-Tabi’I, | |||
katanya: “Mereka suka mengkhatamkan Al-Qur’an dari awal malam atau | |||
dari awal siang.” | |||
Diriwayatkan dari Thalhah bin Musharif seorang At-Tabi’I Al-Jalil, | |||
katanya: “Barangsiapa mengkhatamkan Al-Qur’an pada waktu manapun | |||
pada waktu siang, maka para malaikat mendoakan baginya sampai petang. | |||
Dan siapa yang mengkhatamkan Al-Qur’an pada waktu manapun dari waktu | |||
malam, maka para malaikat mendoakan baginya sampai pagi.” Diriwayatkan | |||
juga dari Mujahid hadits seperti itu. | |||
Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Msunadnya dengan isnadnya | |||
dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra katanya: “Jika pengkhataman Al-Qur’an | |||
bertetapan dengan awal malam, maka para malaikat mendoakan baginya | |||
sampai pagi. Dan apabila pengkhatamannya bertetapan dengan akhir malam, | |||
maka para malaikat mendoakan baginya sampai petang.” Ad-Darimi berkata, | |||
ini hadits hasan dari Sa’ad. | |||
Diriwayatkan dari Habib Abi Thabit seorang tabi’in bahawa dia | |||
mengkhatamkan Al-Qur’an sebelum rukuk. Ibnu Abi Dawud berkata, | |||
“Demikianlah dikatakan oleh Ahmad bin Hanbal rahimahullah.” | |||
Selanjutnya fasal ini akan dikemukakan lagi pada bagian berikutnya, | |||
insya-Allah . | |||
Masalah ke-25: | |||
Memelihara membaca Al-Qur’an pada waktu malam. Hendaklah | |||
seorang penghafaz Al-Qur’an lebih banyak membaca Al-Qur’an pada waktu | |||
malam dan dalam sembahyang malam. Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
45 | |||
Terjemahan: “…diantara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku | |||
lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah s.w.t pada beberapa waktu di malam | |||
hari, sedang mereka juga bersujud (sholat). Mereka beriman kepada Allah | |||
s.w.t dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan | |||
mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) berbagai | |||
kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang sholeh. | |||
(QS Ali Imran: 113-114) | |||
Diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dari Rasulullah | |||
s.a.w bahawa baginda bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sebaik-baik lelaki ialah Abdullah, seandainya di | |||
sembahyang pada waktu malam.” | |||
Dalam hadits lainnya dalam kitab Shahih disebutkan bahawa Nabi | |||
s.a.w bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si | |||
fulan; dia kerjakan sembahyang malam, kemudian meninggalkannya.” | |||
Diriwayatkan oleh Thabrani dan lainnya dari Sahl bin Sa’ad ra | |||
dari Rasulullah s.a.w baginda bersabda: | |||
“Kemulian orang mukmin adalah sembahyang di malam hari.” | |||
Banyak hadits dan athar diriwayatkan berkenaan dengan hal ini. | |||
Diriwayatkan dari Abu Ahwash Al-Jusyamiy, katanya: “Ada orang | |||
mendatangi sebuah kemah pada waktu malam. Dia mendengar suara dari | |||
penghuninya seperti dengungan lebah. Katanya: “Kenapa mereka merasa | |||
aman dari apa yang ditakutkan oleh orang lain?” | |||
Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’I bahawa dia berkata: “Bacalah | |||
Al-Qur’an pada waktu malam, walaupun lamanya seperti memerah susu | |||
kambing.” Diriwayatkan dari Yazid Ar-Raqasyi, katanya: “Jika aku tidur, | |||
kemudian aku terbangun, kemudian aku tidur, maka kedua mataku tidak | |||
dapat tidur.” | |||
Saya katakan: “Sesungguhnya sembahyang malam dan membaca Al- | |||
Qur’an ketika itu amat diutamakan kerana ia lebih menyatukan hati dan lebih | |||
jauh dari hal-hal yang menyibukkan dan melalaikan. Di samping itu ia lebih | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
46 | |||
mampu menjaga dari riya’ dan hal-hal lain yang sia-sia. Dan ia menjadi sebab | |||
timbulnya kebaikan-kebaikan pada waktu malam.” | |||
Sesungguhnya Isra’ Rasulullah s.a.w terjadi pada waktu malam. | |||
disebut di dalam hadits: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Tuhanmu turun setiap malam ke langit dunia ketika | |||
berlalu sepertiga malam yang awal, kemudian berkata: “Aku adalah Raja (2x), | |||
siapa yang memohon daripada-Ku maka Aku perkenankan.” | |||
Diriwayatkan dalam hadits bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Pada waktu malam ada suatu saat di mana Allah s.w.t | |||
mengabulkan doa setiap malam.” | |||
Diriwayatkan oleh penulis Bahjatul Asraar dengan isnadnya dari | |||
Sulaiman Al-Anmathi, katanya: “Aku pernah melihat Ali bin Abu Thalib ra | |||
dalam mimpi berkata: | |||
“Kalau bukan kerana orang yang sembahyang di malam hari dan | |||
lainnya puasa pada waktu siang. Niscaya bumimu telah digoncangkan dari | |||
bawahmu kerana kamu kaum yang buruk dan tidak taat.” | |||
Ingatlah bahawa keutamaan sembahyang malam dan membaca Al- | |||
Qur’an ketika itu akan menghasilkan sesuatu dan tercapainya yang sedikit | |||
dan yang banyak. Semakin banyak hal itu dilakukan, semakin baik, kecuali | |||
jika meliputi seluruh malam kerana yang demikian itu makruh dan boleh | |||
membahayakan dirinya. | |||
Hal yang menunjukkan tercapainya keutamaan itu dengan amalan | |||
sedikit ialah hadits Abdullah bin Amrin Ibnu Al-Ash ra, katanya: Rasulullah | |||
s.a.w bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Barangsiapa sembahyang malam dan membaca sepuluh | |||
ayat, dia tidak ditulis (dimasukkan) kedalam golongan orang yang lalai. | |||
Barangsiapa yang sembahyang dengan membaca seratus ayat, dia ditulis | |||
dalam golongan orang yang taat. Dan barangsiapa yang sembahyang | |||
membaca seribu ayat, dia ditulis ke dalam golongan orang yang berlaku | |||
adil.” | |||
(Riwayat Abu Dawud dan lainnya) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
47 | |||
Ath-Tha’labi menceritakan dari Ibnu Abbas ra, katanya: “Barangsiapa | |||
sembahyang dua rakaat pada waktu malam, lalu dia bermalam dalam | |||
keadaan sujud dan berdiri menghadap Allah s.w.t.” | |||
Masalah ke-26: | |||
Perintah memelihara Al-Qur’an dan peringatan agar tidak | |||
melupakannya. Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari ra dari Nabi s.a.w, | |||
baginda bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Peliharalah Al-Qur’an ini. Demi Tuhan yang nyawa | |||
Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh dia lebih mudah lepas dari unta | |||
dalam ikatannya.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sesungguhnya perumpamaan penghafaz Al-Qur’an | |||
adalah seperti unta yang terikat. Jika dia memperhatikan unta itu, dia boleh | |||
menahannya. Dan jika dilepaskan, ia akan pergi.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, katanya: Rasulullah s.a.w | |||
bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ditunjukkan kepadaku pahala-pahala umatku hingga | |||
(pahala) kotoran yang dikeluarkan seseorang dari Masjid. Dan ditunjukkan | |||
kepadaku dosa-dosa umatku. Maka tidaklah kulihat dosa yang lebih besar | |||
daripada surah atau ayat dari Al-Qur’an yang dihafaz oleh seseorang, | |||
kemudian dilupakannya.” | |||
(Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi) | |||
Hadits ini dipersoalkan darjat dan kedudukannya. | |||
Diriwayatkan dari Sa’ad bin Ubadah dari Nabi s.a.w, banginda | |||
bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
48 | |||
Terjemahan: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an, kemudian | |||
melupakannya, dia berjumpa dengan Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat | |||
dalam keadaan sedih yang amat.” | |||
(Riwayat Abu Dawud dan Ad-Darimi) | |||
Masalah ke-27: | |||
Orang yang tertidur sebelum membaca wiridnya. Diriwayatkan dari | |||
Umar bin Al-Khatab ra, katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Barangsiapa tertidur sebelum membaca hizibnya pada | |||
waktu malam atau sebagian dari padanya, kemudian membacanya antara | |||
sembahyang Fajar dan sembahyang Zuhur, maka dia ditulis seolah-olah | |||
membacanya pada waktu malam.” | |||
(Riwayat | |||
Muslim) | |||
Diriwayatkan dari Sulaiman bin Yasar, katanya: “Abu Usaid ra | |||
berkata, “Semalam aku tertidur sebelum membaca wiridku sehingga pagi. | |||
Apabila tiba waktu pagi, aku mengucapkan istirja’ (Innaa lillahi wa innaa | |||
ilaihi raaji’uun). Wiridku adalah surah Al-Baqarah. Kemudian aku bermimpi | |||
seolah-oleh seekor lembu menandukku.” | |||
(Riwayat Ibnu Abi | |||
Dawud) | |||
Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dari salah seorang penghafaz Al- | |||
Qur’an bahawa pada suatu malam dia tertidur sebelum membaca hizibnya | |||
kemudian dia bermimpi seolah-olah ada orang berkata kepadanya: | |||
Aku heran pada tubuh yang sihat, | |||
Dan pemuda yang tidur sehingga pagi. | |||
Sedang kematian tidak boleh dihindari kedatangannya, | |||
Bahkan di kegelapan malam pun ia mungkin akan tiba. | |||
== | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
49 | |||
ADAB DAN ETIKA MEMBACA | |||
AL-QUR’AN | |||
Boleh dikatakan bagian inilah merupakan tujuan utama penulisan | |||
kitab ini, sehingga banyak hala yang mesti dipersoalkan dengan lebih teliti | |||
dan mendetail untuk memperoleh kejelasan yang sempurna. Dengan segala | |||
usaha, saya cuba menjelaskan beberapa hal dari tujuannya dengan | |||
menghindari pembahasan yang panjang lebar, supaya tidak menjemukan | |||
pembaca. | |||
Sebab orang yang membaca Al-Qur’an sudah sepatutnya | |||
menunjukkan keikhlasan - sebagaimana yang telah saya kemukakan - dan | |||
menjaga adab terhadap Al-Qur’an. Maka patutlah dia menghadirkan hatinya | |||
kerana dia sedang bermunajat kepada Allah s.w.t dan membaca Al-Qur’an | |||
seperti keadaan orang yang melihat Allah s.w.t, jika dia tidak boleh melihat- | |||
Nya, maka sesungguhnya Allah s.w.t melihatnya. | |||
Masalah ke-28: | |||
Jika hendak membaca Al-Qur’an, hendaklah dia membersihkan mulut | |||
dengan siwak atau lainnya. Pendapat yang lebih terpilih berkenan dengan | |||
siwak ialah menggunakan kayu Arak. Boleh juga dengan kayu-kayu lainnya | |||
atau dengan sesuatu yang dapat membersihkan, seperti kain kasar dan | |||
lainnya. | |||
Adapun tentang penggunaan jari yang kasar ada tiga pendapat di | |||
kalangan pengikut Asy-Syafi’i. Pendapat yang lebih masyur adalah tidak | |||
mendapat sunahnya. Kedua adalah dapat menghasilkan sunahnya. Dapat | |||
sunahnya jika tidak mendapat lainnya dan tidak boleh jika ada lainnya. | |||
Dan hendaklah dia bersugi mulai dari sebelah kanan mulutnya dan | |||
berniat menjalankan sunahnya. Salah seorang ulama berkata, hendaklah | |||
seseorang mengucapkan ketika bersugi: “Allahumma baarik lii fiihi, ya | |||
arhamar rahimin.” | |||
Al-Mawardi seorang pengikut Asy-Syafi’i berkata: “diutamakan | |||
bersugi pada bagian luar gigi dan dalamnya.” | |||
Siwak itu digosokkan pada ujung-ujung giginya dan bagian bawah | |||
gerahamnya serta bagian atasnya dengan lembut. Mereka berkata: | |||
“Hendaklah bersugi menggunakan siwak yang sedang, tidak terlalu kering | |||
dan tidak terlalu basah. Jika terlalu kering, maka siwaknya dilembutkan | |||
6 | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
50 | |||
dengan air. Tidaklah mengapa jika menggunakan siwak orang lain dengan | |||
izinnya. Manakala kalau mulutnya najis kerana darah atau lainnya, maka | |||
tidaklah disukai baginya membaca Al-Qur’an sebelum mencucinya. | |||
Apakah itu haram? Ar-Rauyani, pengikut Asy-Syafi’i, mengambil kata- | |||
kata ayahnya: “Terdapat dua pendapat. Pendapat yang lebih kuat (sahih) | |||
ialah tidak haram.” | |||
Masalah ke-29: | |||
Diutamakan bagi orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci. | |||
Jika membaca Al-Qur’an dalam keadaan berhadas, maka hukumnya harus | |||
berdasar ijma’ul muslimin. Hadits-hadits berkenaan dengan perkara tersebut | |||
sudah dimaklumi. Immamul Haramain berkata: “Tidaklah boleh dikatakan | |||
dia melakukan sesuatu yang makruh, tetapi meninggal yang lebih utama.” | |||
Jika tidak menemukan air, dia bertayamum. Wanita mustahadhah dalam | |||
waktu yang dianggap suci mempunyai hukum yang sama dengan hukum | |||
orang yang berhadas. | |||
Sementara orang yang berjunub dan wanita yang haid, maka haram | |||
atas keduanya membaca Al-Qur’an, sama saja satu ayat atau kurang dari satu | |||
ayat. Bagi keduanya diharuskan membaca Al-Qur’an di dalam hati tanpa | |||
mengucapkannya dan boleh memandang ke dalam mushaf. Ijmak muslim | |||
mengharuskan bagi yang berjunub dan yang haid mengucapkan tasbih, tahlil, | |||
tahmid, takbir dan membaca shalawat atas Nabi s.a.w serta dzikir-dzikir | |||
lainnya. | |||
Para sahabat kami berkata, jika orang yang berjunub dan perempuan | |||
yang haid berkata: “Khudzil kitaaba biquwwatin” sedang tujuannya adalah | |||
selain Al-Qur’an, maka hukumnya boleh. | |||
Demikian pula hukumnya upaya yang serupa dengan itu. Keduanya | |||
boleh mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilahi raaji’uun”. Ketika mendapat | |||
musibah, jika tidak bermaksud membaca Al-Qur’an. Para sahabat kami dari | |||
Khurasan berkata, ketika menaiki kendaraan, keduanya boleh mengucapkan: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini | |||
bagi kami dan tidaklah kami mampu menguasainya sebelum ini.” | |||
(QS Az-Zukhruf 43:13) | |||
Dan ketika berdoa: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
51 | |||
Terjemahan: “Wahai Tuhan Kami, berilah kami kebaikan di dunia dan | |||
kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka.” | |||
(QS Al-Baqarah 2:102) | |||
Hukum tersebut berlaku selagi keduanya tidak bermaksud | |||
membaca Al-Qur’an. Imamul Haramain berkata, apabila orang yang berjunub | |||
mengucapkan: “Bismillah wal hamdulillah, maka jika dia bermaksud | |||
membaca Al-Qur’an, dia durhaka. Jika dia bermaksud berdzikir atau tidak | |||
bermaksud membaca apa-apa, dia tidak berdosa. Juga diharuskan bagi | |||
keduanya membaca ayat yang telah dihapus tilawahnya seperti: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Orang lelaki yang tua dan perempuan yang tua, jika | |||
keduanya berzina, maka rajamlah keduanya sehingga mati.” | |||
Masalah ke-30: | |||
Jika orang yang berjunub atau perempuan yang haid tidak | |||
menemukan air, maka dia bertayamun dan diharuskan baginya membaca Al- | |||
Qur’an, sembahyang serta lainnya. Jika dia berhadas, haram atasnya | |||
mengerjakan sembahyang dan tidak haram membaca dan duduk di dalam | |||
masji atau lainnya yang tidak haram atas orang yang berhadas sebagaimana | |||
jika dia mandi, kemudian berhadas. Ini adalah sesuatu yang dipersoalkan dan | |||
dianggap aneh. | |||
Maka dikatakan, orang berjunub dilarang sembahyang dan tidak | |||
dilarang membaca Al-Qur’an dan duduk di masjid tanpa keperluan, | |||
bagaimana bentuknya? Inilah bentuknya. Kemudian yang lebih dekat ialah | |||
tidak ada bezanya antara tayamum orang yang berjunub di kota tempat | |||
tinggalnya dan ketika musafir. | |||
Seorang ulama pengikut Asy-Syafi’i berkata, bahawa jika dia | |||
bertayamum di kota tempat tinggalnya, maka diharuskan sembahyang dan | |||
tidak membaca Al-Qur’an sesudahnya atau duduk di masjid. Pendapat yang | |||
lebih sahih ialah boleh melakukan itu sebagaimana telah saya kemukakan. | |||
Sekiranya dia bertayamum, kemudian sembahyang dan membaca Al-Qur’an, | |||
kemudian ingin bertayamum kerana berhadas atau untuk mengerjakan | |||
sembahyang fardhu lainnya maka tidak haram atasnya membaca Al-Qur’an | |||
menurut madzhab yang sahih dan terpilih. | |||
Terdapat pendapat dari sebagian pengikut Asy-Syafi’i yang | |||
mengatakan hal itu tidak boleh. Pendapat yang lebih terkenal adalah | |||
pendapat pertama. Jika orang yang berjunub tidak menemukan air ataupun | |||
tanah, maka dia boleh sembahyang untuk memuliakan waktu menurut | |||
keadaannya dan haram atasnya membaca Al-Qur’an di luar sembahyang. | |||
Diharamkan atasnya membaca dalam sembahyang lebih dari Al-Fatihah. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
52 | |||
Apakah haram atasnya membaca Al-Fatihah? Terdapat dua pendapat | |||
berkenaan dengan masalah ini. | |||
Pendapat pertama: Ini pendapat yang lebih sahih dan terpilih ialah | |||
tidak haram, bahkan wajib kerana sembahyang itu tidak sah tanpa membaca | |||
Al-Fatihah. Manakala diharuskan sembahyang dalam keadaan darurat, | |||
dalam keadaan janabah, maka diharuskan juga membaca Al-Qur’an. | |||
Pendapat kedua: Tidak boleh, akan tetapi dia hendaklah membaca | |||
dzikir-dzikir yang dibaca oleh orang yang tidak mampu dan tidak hafaz | |||
sedikit pun dari Al-Qur’an. Kerana orang ini tidak mampu menurut syarak, | |||
maka dia seperti orang yang tidak mampu menurut kenyataan. Pendapat | |||
yang lebih benar adalah pendapat yang pertama. Cabang-cabang yang saya | |||
sebutkan ini diperlukan olehnya. Oleh sebab ini saya menyinggung | |||
kepadanya dengan kalimat yang paling ringkas. Kalau ingin lebih lengkap, | |||
maka ada dalil-dalil dan keterangan lebih lanjut yang banyak dan dikenal | |||
dalam kitab-kitab fiqh. Wallahua’lam. | |||
Masalah ke-31: | |||
Membaca Al-Qur’an disunahkan di tempat yang bersih dan terpilih. | |||
Justru, sejumlah ulama menganjurkan membaca Al-Qur’an di masjid kerana | |||
ia meliputi kebersihan dan kemuliaan tempat serta menghasilkan keutamaan | |||
lain, iaitu Itikaf. Maka setiap orang yang duduk di masjid patut beriktikaf, | |||
sama saja duduknya lama atau sebentar. Bahkan pada awal masuknya ke | |||
masjid sepatutnya dia berniat iktikaf. Adab ini patut diperhatikan dan | |||
disebarkan agar dikatahui oleh anak-anak ataupun orang awam kerana ia | |||
selalu diabaikan. | |||
Manakala membaca Al-Qur’an di tempat mandi, maka para ulama | |||
salaf berlainan pendapat berkenaan dengan makruhnya. Sahabat-sahabat | |||
kami berpendapat, tidak dihukumkan makruh. Imam yang mulia Abu Bakar | |||
Ibnu Mundzir menukilnya dalam Al-Ayaraaf dari Ibrahim An-Nakha’I dan | |||
Malik dan itu jugalah pendapat Atha’. | |||
Beberapa jamaah diantaranya Ali bin Abu Thalib ra | |||
menghukumkannya makruh. Ibnu Abi Dawud meriwayatkan pendapat ini | |||
daripadanya. Ibnu Mundzir menceritakan dari sejumlah tabi’in, diantaranya | |||
Abu Wail Syaqiq bin Salamah, Asy-Sya’bi, Hasan Al-Bashri, Makhul dan | |||
Qabishah bin Dzuaib. Kami meriwayatkannya pula dari Ibrahim An-Nakha’i. | |||
Para sahabat kami meriwayatkannya dari Abu Hanifah ra | |||
Asy-Sya’bi berkata, makruh membaca Al-Qur’an di tiga tempat: Di | |||
tempat mandi, tempat buang air dan tempat penggilingan gandum. | |||
Diriwayatkan dari Bau Maisarah, katanya: | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
53 | |||
“Tidaklah disebut nama Allah s.w.t, kecuali di tempat yang baik.” | |||
Sementara membaca Al-Qur’an di jalan, maka pendapat yang terpilih | |||
adalah boleh dan tidak makruh, jika pembacanya tidak lalai. Jika lalai, maka | |||
dihukumkan makruh sebagaimana Nabi s.a.w tidak menyukai membaca Al- | |||
Qur’an oleh orang yang mengantuk kerana takut keliru. Diriwayatkan oleh | |||
Abu Dawud dari Abu darda’ ra bahawa dia membaca Al-Qur’an di jalan. | |||
Diriwayatkan oleh Umar bin Abdul Aziz rahimahullah bahawa dia | |||
mengizinkan membaca Al-Qur’an di jalan. | |||
Ibnu Abi Dawud berkata, diceritakan kepadaku oleh Abu Ar’Rabi’, | |||
katanya: Diberitahukan kepada kami oleh Ibnu Wahab, katanya: “Aku | |||
bertanya kepada Malik tentang orang yang sembahyang di akhir malam, | |||
kemudian keluar ke masjid dan masih tertinggal sedikit lagi dari surah yang | |||
dibacanya. Malik menjawab, “Aku tidak tahu pembacaan yang berlangsung | |||
di jalan. Hal itu makruh dan ini adalah isnad yang sahih dari Malik | |||
rahimahullah. | |||
Masalah ke-32: | |||
Diutamakan bagi pembaca Al-Qur’an di luar sembahyang supaya | |||
menghadap kiblat. Hal ini telah banyak disebut dalam beberapa hadits: | |||
“Sebaik-baik majlis adalah yang menghadap kiblat.” | |||
Hendaklah dia duduk dengan khusyuk dan tenang sambil menundukkan | |||
kepalanya dan duduk sendiri dengan adab baik dan tunduk seperti | |||
duduknya di hadapan gurunya, inilah yang paling sempurna. Diharuskan | |||
baginya membaca sambil berdiri atau berbaring atau di tempat tidurnya atau | |||
dalam keadaan lainnya dan dia mendapat pahala, akan tetapi nilainya kurang | |||
dari yang pertama. | |||
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan | |||
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (keagungan Allah | |||
s.w.t) bagi orang-orang yang berakal. (Iaitu) orang-orang yang mengingat | |||
Allah s.w.t sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan | |||
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan Bumi…” | |||
(QS Ali-Imran 3:190-191) | |||
Diriwayatkan dalam Shahih dari Aisyah ra.a, katanya: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
54 | |||
Terjemahan: “Bahawa Rasulullah s.a.w bersandar di pangkuanku | |||
ketika aku sedang haid dan beliau membaca Al-Qur’an.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Dalam suatu riwayat: “Beliau membaca Al-Qur’an sedang kepalanya | |||
berada dipangkuanku.” | |||
Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari ra, katanya: “Aku membaca | |||
Al-Qur’an dalam sembahyangku dan membacanya di atas tempat tidurku.” | |||
Diriwayatkan dari Aisyah r.a, katanya: “Sungguh aku membaca hizibku | |||
ketika aku berbaring di atas tempat tidurku.” | |||
Masalah ke-33: | |||
Jika hendak mulai membaca Al-Qur’an, maka dia memohon | |||
perlindungan dengan mengucapkan: A’uudzu billaahi minasy-syaithaanir | |||
rajiim (Aku Berlindung kepada Allah s.w.t dari Syaitan yang terkutuk). | |||
Sebagian ulama salaf berkata: Ta’awwudz itu sepatutnya dibaca sesudah | |||
membaca Al-Qur’an berdasarkan firman Allah s.w.t: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Jika kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu | |||
meminta perlindungan kepada Allah s.w.t dari syaitan yang terkutuk.” | |||
(QS An-Nahl 16:98) | |||
Maksud ayat ini menurut majoriti ulama, apabila kamu ingin | |||
membaca Al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah s.w.t dari | |||
syaitan yang terkutuk. | |||
Sejumlah ulama salaf berpendapat, ‘Auudzu billaahis sami’il ‘aliimi | |||
minasy-syaithaanir rajiim (aku memohon perlindungan kepada Allah Yang | |||
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaitan yang terkutuk). | |||
Tidaklah mengapa jika mengucapkan perkataan ini. | |||
Bagaimanapun yang terpilih adalah bentuk ta’awwudz yang pertama. | |||
Kemudian, sesungguhnya ta’awwudz itu mustahab (disunahkan) dan bukan | |||
wajib. Ta’awwudz itu disunahkan bagi setiap pembaca Al-Qur’an, sama saja | |||
di dalam sembahyang atau di luarnya. Di dalam sembahyang diutamakan | |||
membacanya dalam setiap rakaat menurut pendapat yang sahih dari dua | |||
pendapat tersebut. | |||
Menurut pendapat yang kedua diutamakan membacanya pada rakaat | |||
pertama. Jika ditinggalkan pada rakaat pertama, maka hendaklah dia | |||
membacanya pada rakaat kedua. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
55 | |||
Diutamakan pula membaca ta’awwudz dalam takbir pertama | |||
sembahyang jenazah, menurut pendapat yang lebih sahih di antara dua | |||
pendapat. | |||
Masalah ke-34: | |||
Hendaklah orang yang membaca Al-Qur’an selalu membaca | |||
bismillahir Rahmaanir Rahiim pada awal setiap surah selain surah Bara’ah | |||
kerana sebagian besar ulama mengatakan, ia adalah ayat, sebab ditulis di | |||
dalam Mushaf. Basmalah ditulis di awal setiap surah, kecuali Bara’ah. Jika | |||
tidak membaca basmalah, maka dia meninggalkan sebagian Al-Qur’an | |||
menurut sebagian besar ulama. | |||
Kalau bacaan itu kerana tugas yang diwajibkan atasnya sebagai orang | |||
yang diupah dan digaji, maka perhatian atas bacaan basmalah lebih | |||
ditekankan untuk memastikan pembacaan khatam. Kerana jika | |||
ditinggalkannya, maka dia tidak mendapat sesuatu kerana waqaf, bagi orang | |||
yang mengatakan bahawa basmalah adalah termasuk ayat di awal surah. Ini | |||
adalah penjelasan berharga yang ditekankan agar diperhatikan dan | |||
disebarkan. | |||
Masalah ke-35: | |||
Jika mulai membaca, hendaklah bersikap khusyuk dan merenungkan | |||
maknanya ketika membaca. Dalil-dalilnya terlalu banyak untuk dihitung dan | |||
sudah masyur serta terlalu jelas untuk disebut. Itulah maksud yang | |||
dikehendaki dan dengan demikian itu dada menjadi lapang serta hati | |||
menjadi tenang. Allah Azza wa jalla berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an?” | |||
(QS An-Nisa’ 4:82) | |||
Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ini adalah suatu Kitab yang Kami turunkan kepadamu | |||
penuh dengan berkat supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya…” | |||
(QS Shaad 38:29) | |||
Banyak hadits yang diriwayatkan berkenaan dengan perkara tersebut | |||
dan pendapat-pendapat ulama salaf tentang hal itu cukup masyur. Sejumlah | |||
ulama Salaf ada yang membaca satu ayat sambil merenungkannya dan | |||
mengulang-ulanginya sehingga pagi. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
56 | |||
Sejumlah ulama Salaf telah pengsan ketika membaca Al-Qur’an. | |||
Banyak pula yang mati dalnm keadaan membaca Al-Qur’an. | |||
Telah kami terima riwayat dari Bahzin bin Hakim bahawa Zurarah bin | |||
Aufa seorang tabi’in yang mulia mengimami sejumlah orang dalam | |||
sembahyang fajar. Dia membaca Al-Qur’an sehingga ayat: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Jika ditiup sangkakala maka waktu itu adalah waktu | |||
(datangnya) hari yang sukar.” | |||
(QS Al-Mudaththir 74:8-9) | |||
Tiba-tiba dia tumbang dan mati. Banzin berkata: “Aku termasuk | |||
orang-orang yang memikulnya.” | |||
Ahmad bin Abul Hawari ra yang dijuluki Raihanatus Syam | |||
sebagaimana dikatakan oleh Abul Qasim Al-Junaidi rahimahullah, apabila | |||
dibacakan Al-Qur’an di dekatnya, dia menjerit dan jatuh pengsan. | |||
Ibnu Abi Dawud berkata, Al-Qasim Ibnu Usman Al-Jau’i rahimahullah | |||
mengingkari hal itu atas Ibnu Abil Hawari. Al-Jau’i seorang yang terkemuka | |||
dan ahli hadits yang menetap di Damsyiq. Dia lebih utama dari Ibnu Abil | |||
Hawari. Katanya: demikian jugalah di ingkari oleh Abul Jauza’ dan Qais bin | |||
Hubtar serta lainnya. | |||
Saya katakan, yang benar ialah tidak adanya keingkaran, kecuali siapa | |||
yang mengaku bahawa dia lakukan itu dengan berpura-pura. Wallahua’lam. | |||
As-Sayyid yang mulia dan pemilik berbagai anugerah serta makrifat, | |||
Ibrahim Al-Khawash ra.a berkata: “Ubat penyembuh hati ada lima perkara, | |||
iaitu: | |||
1. Membaca Al-Qur’an dan merenungi maknanya. | |||
2. Perut yang kosong. | |||
3. Sembahyang malam. | |||
4. Berdoa dengan penuh tawadhuk di hujung malam. | |||
5. Duduk bersama orang-orang sholeh. | |||
Masalah ke-36: | |||
Anjuran mengulang-ulang ayat untuk direnungkan. Telah kami | |||
kemukakan dalam fasal sebelumnya anjuran untuk merenungkan dan | |||
menjelaskan pengaruhnya serta peninggalan tradisi ulama Salaf. Telah kami | |||
terima riwayat dari Abu Dzarr ra Dia berkata: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
57 | |||
Terjemahan: “Nabi s.a.w mengulang-ulangi satu ayat sehingga pagi." | |||
Ayat itu adalah: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Jika Engkau siksa mereka, sesungguhnya mereka adalah | |||
hamba-hamba-Mu” Surah Al-Maidah: 118 | |||
(Riwayat Nasa’I dan Ibnu Majah) | |||
Diriwayatkan dari Tamim Ad-Dariy ra bahawa dia mengulang-ulang | |||
ayat ini sehingga pagi: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu | |||
menyangka bahawa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang | |||
beriman dan mengerjakan amal shaleh.” | |||
(QS Al-Jaathiyah 45:21) | |||
Diriwayatkan dari Ubbad bin Hamzah, katanya: Aku masuk kepada | |||
Asma’ra dan dia sedang membaca: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Maka Allah s.w.t memberikan anugerah kepada kami | |||
dan memelihara kami dari siksa neraka.” | |||
(QS Ath-Thuur 52:27) | |||
Maka saya berhenti di sampingnya dan Asma’ terus mengulanginya | |||
serta berdoa. Saya cukup lama berhenti di situ, maka aku pergi ke pasar. | |||
Setelah selesai membeli keperluan-keperluanku, aku kembali lagi padanya | |||
dan dia masih mengulang-ulang bacaan ayat tersebut dan berdoa. Kami | |||
meriwayatkan kisah ini dari Aisyah ra | |||
Ibnu Mas’ud mengulang-ulang ayat: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Tuhanku, tambahilah ilmuku.” | |||
(QS Thaha: 114) | |||
Said bin Jubair mengulang-ulang ayat: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
58 | |||
Terjemahan: “Dan peliharalah dirimu dari (siksa yang berlaku pada) | |||
hari yang pada waktu itu kamu dikembalikan kepada Allah s.w.t.” | |||
(QS Al-Baqarah 2:281) | |||
Dia juga mengulang-ulang ayat: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Kelak mereka akan mengetahui belenggu dan rantai | |||
diikatkan di leher mereka…” | |||
(QS Al-Mu’min 40:70-71) | |||
Dia juga mengulang-ulang ayat: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat | |||
durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.” | |||
(QS Al-Infithar 82:6) | |||
Dhahak apabila membaca firman Allah s.w.t sebagai berikut dia | |||
mengulang-ulang sehingga waktu sahur. Iaitu firman Allah s.w.t: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Bagi mereka lapisan-lapisan dari api atas mereka dan di | |||
bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari Api) juga.” | |||
(QS Az-Zumar 9:16) | |||
Masalah ke-37: | |||
Menangis ketika membaca Al-Qur’an. Telah diterangkan dalam dua | |||
fasal yang terdahulu berkaitan dengan hal-hal yang menimbulkan tangis | |||
ketika membaca Al-Qur’an. Menangis ketika membaca Al-Qur’an merupaan | |||
sifat orang-orang yang arif dan syiar hamba-hamba Allah Yang shaleh. Allah | |||
berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan mereka menyukur atas muka mereka sambil | |||
menangis dan mereka bertambah khusyuk.” | |||
(QS Al-Israa 17:109) | |||
Diriwayatkan sejumlah hadits dan athar Salaf. Antara lain, | |||
diriwayatkan dari Nabi s.a.w sabdanya: | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
59 | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Bacalah Al-Qur’an dan menangislah. Jika kamu tidak | |||
menangis, maka usahakanlah supaya menangis.” | |||
Diriwayatkan dari Umar Ibnul Khattab ra bahawa dia mengimami | |||
jamaah sembahyang Subuh dan membaca Surah Yusuf. Dia menangis hingga | |||
mengalir air matanya hingga membasahi tulang bahunya. Dalam suatu | |||
riwayat, kejadian itu berlangsung dalam sembahyang Isyak. Maka hal itu | |||
menunjukkan berlakunya pengulangan bacaan. Dalam suatu riwayat, dia | |||
menangis hingga mereka mendengar tangisannya dari belakang shaf-shaf. | |||
Diriwayatkan dari Abu Raja’, katanya: “Kulihat Ibnu Abbas di bawah kedua | |||
matanya nampak bekas seperti tali selipar yang usang lantaran air mata.” | |||
Diriwayatkan dari Abu Shahih, katanya: Beberapa orang datang dari | |||
Yaman menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq ra mereka membaca Al-Qur’an dan | |||
mereka menangis. Kemudian Abu Bakar berkata: “Demikianlah keadaan | |||
kami jika membaca Al-Qurna.” | |||
Diriwayatkan dari Hisyam, katanya: “Terkadang aku | |||
mendengar tangis Muhammad bin Sirin pada waktu malam ketika dia sedang | |||
sembahyang.” | |||
Banyak athar yang menerangkan yang demikian itu yang tidak | |||
mungkin menghitungnya. Apa yang telah saya kemukakan dan saya | |||
tunjukkan kiranya sudah memadai. Wallahua’lam. | |||
Imam Abu Hamid Al-Ghazali berkata: “Menangis itu disunahkan pada | |||
waktu membaca Al-Qur’an. Cara dapat menangis adalah menghadirkan | |||
kesedihan di dalam hati dengan merenungkan peringatan dan ancaman keras | |||
serta janji-janji yang terdapat di dalamnya, kemudian merenungi dosa-dosa | |||
yang terlanjur diperbuat.” Jika tidak boleh menimbulkan kesedihan dan | |||
tangisan sebagaimana dialami oleh orang-orang terpilih, maka hendaklah dia | |||
menangis atas kegagalan itu kerana hal itu termasuk musibah yang besar. | |||
Masalah ke-38: | |||
Hendaklah membaca Al-Qur’an dengan tartil. Para ulama telah | |||
sependapat atas anjuran melakukan tartil. Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” | |||
(QS Al-Muzzammil 73:4) | |||
Diriwayatkan dari Ummi Salamah ra bahawa dia menggambarkan | |||
bacaan Rasulullah s.a.w sebagai bacaan yang jelas huruf demi huruf.” | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
60 | |||
(Riwayat Abu Dawud, Nasa’I dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata: hadits | |||
hasan sahih) | |||
Diriwayatkan dari Mu’awiyyah bin Qurrah ra dari Abdullah bin | |||
Mughaffal ra dia berkata: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Aku melihat Rasulullah s.a.w pada hari penaklukan | |||
Mekah di atas untanya sedang membaca Surah Al-Fatihah dan mengulang- | |||
ulang bacaannya.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra Dia berkata: “Aku lebih suka | |||
membaca satu surah secara tartil daripada membaca Al-Qur’an seluruhnya.” | |||
Diriwayatkan dari Mujahid bahawa dia ditanya tentang dua orang, | |||
seorang membaca surah Al-Baqarah dan Ali-Imran sedangkan lainnya | |||
membaca surah Al-Baqarah saja. Waktunya, rukuk, sujud dan duduknya | |||
sama. Mujahid menjawab: “Orang yang membaca Surah Al-Baqarah saja | |||
lebih baik.” | |||
Dilarang membaca Al-Qur’an secara asal jadi dengan cepat sekali. | |||
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahawa seorang lelaki berkata | |||
kepadanya: “Aku membaca Al-Mufashshal dalam satu rakaat.” Maka | |||
Abdullah bin Mas’ud menjawab: “Demikianlah, demikianlah syair itu. | |||
Sesungguhnya ada orang yang membaca Al-Qur’an dan tidak melampaui | |||
tenggorokan mereka. Bagaimanapun jika masuk di hati dan menjadi kukuh di | |||
dalamnya, maka ia pun berguna.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Para ulama berkata: “Membaca Al-Qur’an dengan tartil itu disunahkan | |||
untuk merenungkan artinya.” Mereka berkata: “Membaca dengan tartil | |||
disunahkan bagi orang bukan Arab yang tidak memahami maknanya kerana | |||
hal itu lebih dekat kepada pengagungan dan penghormatan serta lebih | |||
berpengaruh di dalam hati.” | |||
Masalah ke-39: | |||
Diutamakan jika melalui ayat yang mengandung rahmat agar | |||
memohon kepada Allah s.w.t dan apabila melalui yang mengandung siksaan | |||
agar memohon perlindungan kepada Allah s.w.t dari kejahatan dan siksaan. | |||
Atau berdoa: “Ya Allah, aku mohon kesehatan kepada-Mu atau keselamatan | |||
dari setiap bencana.” Jika melalui ayat yang mengandung tanzih (penyucian) | |||
Allah s.w.t maka dia sucikan Allah s.w.t dengan ucapan, Subhanalahi wa | |||
Ta’ala atau Tabaroka wa Ta’ala atau Jallat Azhamatu Rabbina. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
61 | |||
Diriwayatkan dari Hudzifah Ibnul Yaman ra Dia berkata: “Pada suatu | |||
malam aku sembahyang bersama Nabi s.a.w Beliau memulai dengan Surah | |||
Al-Baqarah, beliau rukuk ketika mencapai seratus ayat, kemudian | |||
meneruskan. Maka saya katakan, beliau rukuk dengan membacanya. | |||
Kemudian beliau memulai surah An-Nisa’ dan membacanya, kemudian | |||
memulai suart Ali-Imran dan membacanya dengan perlahan-lahan. Jika | |||
melalui suatu ayat yang terdapat tasbih di dalamnya, beliau bertasbih. Dan | |||
apabila melalui permohonan, beliau memohon. Jika melalui ta’awuudz, | |||
beliau memohon perlindungan.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Letak Surah An-Nisa’ pada waktu itu didahulukan sebelum Surah Ali- | |||
Imran. | |||
Para sahabat kami rahimahullah berkata, memohon, meminta | |||
perlindungan dan bertasbih itu disunahkan bagi setiap pembaca Al-Qur’an, | |||
sama saja di dalam sembahyang atau di luarnya. Mereka berkata: “Semua itu | |||
disunahkan dalam sembahyang sendirian. Kerana itu adalah doa maka merea | |||
semnua sama dalam hal itu, seperti ucapan Aamiin sesudah Al-Fatihah. | |||
Apa yang saya sebutkan berkenaan dengan sunahnya, | |||
memohon dan isti’adzah tersebut adalah menurut madzhab Asy-Syafi’i ra | |||
dan majoriti ulama rahimahullah. Abu Hanifah rahimahullah berkata: “Hal | |||
itu tidak diutamakan, bahkan tidak disukai dalam sembahyang.” Pendapat | |||
yang lebih benar adalah pendapat majoriti sebagaimana saya kemukakan. | |||
Masalah ke-40: | |||
Hal yang perlu diperhatikan dan amat ditekankan adalah memuliakan | |||
Al-Qur’an dari hal-hal yang kadang-kadang diabaikan oleh sebagian orang | |||
yang lalai ketika membaca bersama-sama. Diantaranya menghindari tertawa, | |||
berbuat bising dan bercakap-cakap di tengah pembacaan, kecuali perkataan | |||
yang perlu diucapkan. | |||
Hendaklah dia mematuhi firman Allah s.w.t: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah | |||
baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” | |||
(QS Al-A’raf 7:204) | |||
Hendaklah dia mengikuti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud | |||
dari Ibnu Umar ra bahawa apabila membaca Al-Qur’an dia tidak bercakap | |||
sehingga selesai. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam | |||
shahihnya dan dia berkata: “Tidak bercakap-cakap hingga selesai | |||
membaaca.” Dia menyebutnya dalam kitab At-Tafsir berkenaan dengan | |||
firman Allah s.w.t: | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
62 | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Isetri-isterimu adalah ladang bagimu.” | |||
(QS Al-Baqarah 2:223) | |||
Termasuk perbuatan tercela adalah mempermainkan tangan lainnya | |||
kerana dia sedang bermunajat kepada Allah s.w.t. Maka janganlah dia | |||
bermain di hadapan-Nya. Diantaranya adalah memandang kepada sesuatu | |||
yang dapat melalaikan dan melencengkan pikiran dan tumpuan. | |||
Lebih buruk dari semua itu adalah memandang kepada sesuatu yang | |||
tidak boleh dipandang, seperti orang lelaki yang mulus wajahnya dan yang | |||
seumpamanya. Kerana memandang kepada laki-laki yang berwajah mulus | |||
dan tampan tanpa keperluan adalah haram, sama saja dengan syahwat | |||
ataupun tanpa syshwat, sama saja aman dari fitnah atau tidak aman. Ini | |||
adalah madzhab yang shahih dan terpilih di kalangan ulama. Imam Asy- | |||
Syafi’i dan para ulama yang tidak sedikit jumlahnya telah menyebutkan | |||
pengharamannya. | |||
Dalilnya ialah firman Allah s.w.t: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: | |||
Hendaklah mereka menahan pandangannya.” | |||
(QS An-Nur 24:30) | |||
Kerana lelaki mulus lagi cantik cenderung dijadikan pasangan | |||
homoseks, sama dengan perempuan. Bahkan boleh jadi sebagian atau banyak | |||
dari mereka lebih bagus dari banyak perempuan dan lebih memungkinkan | |||
terjadinya kejahatan padanya serta lebih mudah dari perempuan. Maka | |||
pengharamannya itu lebih utama. Pendapat-pendapat ulama saja yang | |||
memperingatkan terhadap mereka banyak sekali jumlahnya. Para ulama | |||
menanamkan mereka orang busuk kerana menimbulkan rasa jijik menurut | |||
syarak. | |||
Manakala memandang kepadanya ketika berjual beli, mengambil dan | |||
memberi, berubat dan mengajar serta hal-hal lain yang diperlukan, | |||
hukumnya boleh kerana adanya keperluan yang dibenarkan secara syar’i. | |||
Bagaimanapun pandangannya adalah sekedar keperluan dan tidak terus | |||
memandang tanpa keperluan. Demikian jugalah guru yang diharuskan | |||
memandang sesuatu yang diperlukannya dan haram atas mereka dalam | |||
segala keadaan memandang dengan syahwat. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
63 | |||
Ini tidak khusus berkaitan dengan lelaki yang mulus wajahnya, bahkn | |||
haram atas setiap mukallaf memandang dengan syahwat kepada setiap | |||
orang, sama saja lelaki ataupun perempuan. Sama saja perempuan itu masih | |||
mahramnya atau bukan, kecuali isteri atau hamba perempuan yang boleh | |||
digalauli. Bahkan sahabat kami mengatakan: Diharamkan memandang | |||
dengan syahwat kepada mahramnya seperti suadara perempuannya dan | |||
ibunya.” Wallahua’lam. | |||
Diwajibkan atas orang-orang yang menghadiri majlis membaca Al- | |||
Qur’an jika melihat sesuatu kemungkaran-kemungkaran tersebut atau | |||
lainnya agar melarangnya sekuat tenaga dengan tangan bagi siapa yang | |||
mampu dan dengan lisan bagi siapa yang tidak mampu melakukannya | |||
dengan tangan dan mampu melakukannya dengan lisan. Jika tidak sanggup | |||
dengan semua itu, maka dengan hatinya (membencinya adalah hati). | |||
Wallahua’lam. | |||
Masalah ke-41: | |||
Tidak boleh membaca Al-Qur’an dengan selain bahasa Arab, sama saja | |||
dia boleh berbahasa Arab dengan baik atau tidak boleh, sama saja di dalam | |||
sembahyang ataupun di luar sembahyang. Jika dia membaca Al-Qur’an | |||
dalam sembahyang dengan selain bahasa Arab, maka sembahyangnya tidak | |||
sah. Ini adalah madzhab kami dan madzhab Imam Malik, Ahmad, Dawud | |||
dan Abu Bakar Ibnul Mundzir. Sedangkan Abu Hanifah berkata: | |||
“Diharuskan membaca dengan selain bahasa Arab dan sembahyangnya sah.” | |||
Abu Yusuf dan Muhammad berkata: “Boleh bagi orang yang tidak | |||
baik bahasa Arabnya dan tidak boleh bagi orang yang boleh membaca bahasa | |||
Arab dengan baik.” | |||
Masalah ke-42: | |||
Diharuskan membaca Al-Qur’an dengan tujuh qiraat seperti bacaan | |||
yang disetujui. Dan tidak boleh dengan selain yang tujuh bacaan itu dan tidak | |||
pula dengan riwayat-riwayat asing yang ditulis (diambil) dari ketujuh ahli | |||
qiraah itu. | |||
Akan dijelaskan dalam bahagian ketujuh InsyaAllah swt | |||
berkenaan dengan kesepakatan para fuqaha untuk menyuruh bertaubat bagi | |||
orang yang membaca dengan bahasa asing apabila dia membacanya | |||
demikian. Sahabat kami dan lainnya berkata: “Sekiranya membaca dengan | |||
bahasa asing di dalam sembahyang, batallah sembahyangnya jika dia | |||
mengetahui. Jika tidak mengetahui, maka tidak batal sembahyangnya dan | |||
tidak dikira bacaan itu baginya.” | |||
Imam Abu Umar bin Andul Bar Al-Hafizh telah menulis jima’ul | |||
muslimin. Bahawa tidak boleh membaca dengan bacaan yang asing (syadz) | |||
dan tidak boleh sembahyang di belakang orang yang membaca dengan | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
64 | |||
bacaan syadz. Para ulama berkata: “Barangsiapa membaca dengan bacaan | |||
syadz sedang dia tidak mengetahuinya atau tidak mengetahui | |||
pengharamannya, maka dia diberitahu tentang hal itu. Jika kembali | |||
melakukannya atau dia mengetahui bacaan syadz itu, maka dia pun dihukum | |||
dengan keras hingga berhenti melakukannya.” | |||
Setiap orang yang sanggup menegur dan mencegahnya wajib menegur | |||
dan mencegahnya. | |||
Masalah ke-43: | |||
Jika dia memulai dengan bacaan salah seorang ahli qiraah, maka | |||
hendaknya dia tetap dalam qiraah itu selama bacaannya berkaitan | |||
dengannya. Kalau hubungannya berakhir, dia boleh membaca dengan bacaan | |||
salah seorang dari ketujuh qari (yang mahir mambaca) Al-Qur’an. Pendapat | |||
yang lebih utama adalah tetap dalam keadaan pertama di majlis itu. | |||
Masalah ke-44: | |||
Para ulama berkata: “Pendapat yang lebih terpilih adalah membaca | |||
menurut tertib Mushaf, maka dia baca Al-Fatihah, kemudian Al-Baqarah, | |||
kemudian Ali-Imran, kemudian surah-surah sesudahnya menurut tertibnya, | |||
sama saja dia membaca dalam sembahyang atau di luarnya. Salah seorang | |||
sahabat kami mengatakan: “Jika dia membaca pada rakaat pertama surah Qul | |||
A’Udzu bi rabbin Naas, maka dia baca ayat sesudah Al-Fatihah dari surah Al- | |||
Baqarah.” | |||
Salah seoang sahabat kami berkata: Disunahkan jika membaca suatu | |||
surah agar membaca surah berikutnya. Dalil ini ialah bahawa tertib Mushaf | |||
dijadikan demikian kerana mengandung suatu hikmah. Maka patutlah dia | |||
memeliharanya, kecuali sesuatu yang telah ditentukan dalam syarak yang | |||
merupakan pengecualian, seperti sembahyang Subuh pada hari Jumaat. | |||
Rakaat pertama dalam sembahyang Subuh membaca surah As-Sajadah | |||
dan rakaat kedua surah Al-Insan. Dan sembahyang Hari Raya pada rakaat | |||
pertama membaca surah Qaaf dan rakaat kedua membaca surah Iqtarabatis | |||
saa’atu. | |||
Dalam dua rakaat sembahyang sunat Fajar, pada rakaat pertama | |||
membaca surah Qulyaa ayyuhal kaafiruun dan rakaat kedua membaca Qul | |||
huwAllah hu Ahad. Dan tiga rakaat sembahyang witir, pada rakaat pertama, | |||
membaca surah Al-A’laa dan pada rakaat kedua membaca surah Qul yaa | |||
ayyuhal Kaafiruun dan pada rakaat ketiga membaca, Qul Huwallahu Ahad | |||
dan Al-Mu’awwidzatain. | |||
Sekiranya tidak berturutan dengan membaca surah yang bukan surah | |||
berikutnya atau menyalahi tertib dan membaca suatu surah, kemudian | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
65 | |||
membaca surah sebelumnya, hal itu diharuskan. Banyak athar diriwayatkan | |||
berkenaan dengan perkara tersebut. | |||
Umar Ibnul Khattab ra. telah membaca surah Al-Kahfi pada rakaat | |||
pertama sembahyang Subuh dan surah Yusuf pada rakaat kedua. | |||
Bagaimanapun, sejumlah ulama tidak menyukai jika menyalahi tertib | |||
Mushaf. | |||
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari Al-Hasan, bahawa dia tidak | |||
suka membaca Al-Qur’an kecuali menurut tertibnya dalam Mushaf. Dan dia | |||
meriwayatkan dengan isnadnya yang shahih dari Abdullah bin Mas’ud ra | |||
bahawa dikatakan kepadanya: “Si fulan membaca Al-Qur’an terbalik, | |||
bagaimana pendapatmu?” Abdullah menjawab: “Orang itu terbalik hatinya.” | |||
Sementara membaca surah mulai dari akhir hingga awalnya, dilarang | |||
dengan tegas. Kerana perbuatan itu menghilangkan berbagai-bagai I’jaaz dan | |||
hikmah dari tertibnya ayat-ayat. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari | |||
Ibrahim An-Nakha’I seorang imam tabi’in yang mulia dan Imam Malik bin | |||
Anas bahawa keduanya tidak menyukai hal itu. Malik mencela perbuatan itu | |||
dan berkata: “Ini dosa besar.” | |||
Manakala mengajari anak-anak kecil dari akhir Mushaf hingga | |||
awalnya, maka itu adalah baik dan bukan termasuk bahagian ini. | |||
Sesungguhnya itu adalah bacaan untuk hari-hari yang berbeza-beza di | |||
samping memudahkan mereka menghafaznya. Wallahua’lam. | |||
Masalah ke-45: | |||
Membaca Al-Qur’an dari Mushaf lebih utama dari pada membacanya | |||
dengan hafalan kerana memandang dalam Mushaf adalah ibadah yang | |||
diperintahkan, maka berkumpullah bacaan dan pandangan itu. AL-Qadhi | |||
Husain dan Abu Hamid Al-Ghazali menulis dalam Al-Ihya bahawa banyak | |||
sahabat Nabi saw dulu membaca dari Mushaf. Mereka tidak suka keluar | |||
suatu hari tanpa memandang ke dalam Mushaf. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi | |||
Dawud pembacaan dalam Mushaf dari banyak ulama Salaf dan saya tidak | |||
melihat adanya perselisihan berkenaan dengan perkara tersebut. | |||
Seandainya dikatakan: “Hal itu berbeza-beza menurut orang- | |||
orangnya, maka dipilihlah pembacaan dalam Mushaf bagi orang yang sama | |||
kekhusyukan dan perenungannya dalam kedua keadaan yaitu membaca | |||
dalam Mushaf dan dengan hafalan. Dan dipilih pembacaan dengan hafalan | |||
bagi siapa yang tidak boleh khusyuk jika membaca dengan Mushaf dan | |||
dipilih membaca dalam Mushaf jika kekhusyukan dan perhatiannya | |||
bertambah, ini pendapat yang baik. Hal yang jelas pendapat ulama Salaf dan | |||
perbuatan mereka diertikan menurut perincian ini. | |||
Masalah ke-46: | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
66 | |||
Anjuran membaca Al-Qur’an oleh jemaah secara bersama-sama dan | |||
keutamaan bagi orang-orang yang membaca bersama-sama dan yang | |||
mendengarkannya serta keutamaan orang yang mengumpulkan, mendorong | |||
dan menganjurkan mereka melakukan hal itu. | |||
Ingatlah bahawa membaca Al-Qur’an oleh jemaah secara bersama | |||
adalah mestahab berdasarkan dalil-dalil yang jelas dan perbuatan-perbuatan | |||
ulama Salaf dan Khalaf secara jelas. Diriwayatkan dari Abu Hurairah dan | |||
Abu Said Al-Khudri ra dari Nabi saw bahawa Baginda bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Tidaklah suatu kaum menyebut nama Allah swt | |||
bersama-sama, kecuali mereka dikelilingi oleh para malaikat, diliputi rahmat | |||
dan turun ketenangan ke atas mereka serta Allah swt menyebut mereka di | |||
antara para malaikatnya di sisi-Nya.” | |||
(Riwayat Tirmidzi dan dia berkata, hadith ini hasan shahih) | |||
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah ra dari Nabi saw sabdanya: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu | |||
rumah Allah swt dengan membaca Kitabullah dan mengkajinya di antara | |||
mereka, kecuali turun ketenangan di antara mereka dan mereka diliputi | |||
rahnmat serta dikelilingi malaikat dan Allah swt menyebut mereka di antara | |||
para malaikat di sisi-Nya.” | |||
(Riwayat Muslim dan Abu Dawud dengan isnad shahih berdasarkan | |||
syarah Bukhari dan Muslim) | |||
Diriwayatkan dari Mu’awiyah ra: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sesungguhnya Rasulullah saw keluar menemui | |||
sekelompok sahabatnya. Beliau berkata, ‘Untuk apa kamu duduk?’ Mereka | |||
menjawab” ‘Kami duduk untuk menyebut nama Allah swt dan memuji-Nya | |||
kerana Dia memberikan petunjuk dan menganugerahkan Islam kepada | |||
kami.’ Kemudian Nabi saw bersabda, ‘Jibril as datang kepada kami, | |||
kemudian memberitahu aku bahawa Allah swt membanggakan kamu kepada | |||
para malaikat.” | |||
(Riwayat Tirmidzi dan Nasa’i. Tirmidzi berkata: | |||
hadith hasan sahih) | |||
Hadith-hadith berkenaan dengan perkara tersebut banyak jumlahnya. | |||
Ad-Darimi meriwayatkan dengan isnadnya dari Ibnu Abas ra katanya: | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
67 | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Barangsiapa mendengar suatu ayat dari Kitabullah (Al- | |||
Qur’an), maka ayat itu menjadi cahaya baginya.” | |||
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud ra, sesungguhnya Abu Darda’ | |||
tadarrus (membaca Al-Qur’an secara bersama-sama) dengan beberapa orang | |||
yang membaca bersama-sama. Ibnu Abi Dawud meriwayatkan tadarrus Al- | |||
Qur’an bersama-sama secara berjemaah merupakan keutamaan-keutamaan | |||
ulama Salaf dan Khalaf serta para qadhi dan Al-Auza’I bahawa keduanya | |||
berkata: “Orang yang pertama-tama mengadakan tadarrus Al-Qur’an di | |||
masjid Damsyiq adalah Hisyam bin Ismail ketika pemerintahan Abu Muluk." | |||
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari Adh-Dhahak bin | |||
Abdurrahman bin Arzab: “Bahawa dia mengingkari pengajian itu.” Dia | |||
berkata: “Aku tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar dan aku | |||
telah mendapati para sahabat Rasulullah saw yakni tidak kulihat seorang pun | |||
melakukannya.” | |||
Diriwayatkan dari Wahab, katanya: “Aku berkata kepada Malik, | |||
tidakkah engkau pernah melihat orang-orang yang berkumpul dan membaca | |||
bersama-sama suatu surah hingga mengkhatamkannya?” Maka dia | |||
mengingkari dan berkata: “Bukanlah demikian yang dilakukan mereka, tetapi | |||
seseorang membacakan kepada orang lain.” | |||
Pengingkaran kedua orang itu bertentangan dengan apa yang diyakini | |||
bersama oleh ulama Salaf dan Khalaf dan berdasarkan dalil yang | |||
mendukungnya. Maka anggapan itu ditinggalkan dan yang diambil kira | |||
adalah pendapat yang menganjurkannya. Bagiamanapun membaca Al- | |||
Qur’an secara berjemaah (dalam keadaan berkumpul) mempunyai syarat- | |||
syarat tertentu seperti yang akan saya kemukakan dan patut diperhatikan. | |||
Wallahua’lam. | |||
Sementara keutamaan orang yang mengumpulkan mereka untuk | |||
membaca Al-Qur’an, maka di dalamnya terdapat banyak nas seperti sabda | |||
Nabi saw: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Orang yang menunjukkan kepada kebaikan adalah | |||
seperti pelakunya.” | |||
Dan sabda Nabi saw: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
68 | |||
Terjemahan: “Demi Allah, seorang yang diberi petunjuk oleh Allah swt | |||
dengan perantaraan lebih baik bagimu daripada unta merah.” | |||
Hadith-hadith berkenaan dengan perkara tersebut banyak dan | |||
mahsyur. Allah swt telah berfirman: | |||
“Dan hendaklah kamu saling menolong dalam kebaikan dan | |||
ketaqwaan.” | |||
(QS Al-Maidah 5:2) | |||
Tidak ada keraguan berkenaan dengan besarnya pahala orang yang | |||
mengusahakan hal itu. | |||
Masalah ke-47: | |||
Membaca Al-Qur’an sambung-menyambung secara bergantian. | |||
Maksudnya adalah sejumlah orang berkumpul, setengah dari mereka | |||
membaca sepuluh ayat atau sebahagian atau selain itu, kemudian diam dan | |||
lainnya meneruskan bacaan, kemudian lainnya lagi. Ini boleh dilakukan dan | |||
baik. Malik Rahimahullah telah ditanya dan dia menjawab: “Tidak ada | |||
masalah dengannya.” | |||
Masalah ke-48: | |||
Membaca Al-Qur’an dengan suara kuat. Ini merupakan fasal yang | |||
penting dan patut diperhatikan. Ingatlah bahawa banyak hadith dalam kitab | |||
sahih dan lainnya menunjukkan anjuran menguatkan suara ketika membaca. | |||
Terdapat beberapa athar yang menunjukkan anjuran memperlahankan | |||
(merendahkan) suara, di antaranya akan saya sebutkan, insya-Allah . | |||
Imam Abu Hamid Al-Ghazali dan ulama lainnya menyatakan, cara | |||
menggabungkan antara hadith-hadith dan athar-athar berkenaan dengan ini | |||
ialah bahawa memperlahankan suara lebih jauh dari riak. Merendahkan | |||
suara lebih utama bagi orang yang takut berbuat riak. Jika tidak takut berbuat | |||
riak, maka menguatkan suara lebih baik kerana lebih banyak diamalkan dan | |||
berfaedah meluas kepada orang lain. | |||
Maka dengan demikian lebih baik daripada yang hanya berkenaan | |||
dengan diri sendiri. Dan kerana bacaan dengan suara kuat menggugah hati | |||
pembaca dan menyatukan keinginannnya untuk memikirkan dan | |||
mengarahkan pendengarannya kepadanya, mengusir tidur, manambah | |||
kegiatan dan menggugah orang lain yang tidur dan orang yang lalai serta | |||
menggiatkannya. | |||
Mereka berkata: “Meskipun keutamaan tersebut bergantung pada | |||
niatnya, namun menguatkan suara jauh lebih baik, jika niat-niat ini | |||
berkumpul, maka pahalanya berlipat ganda. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
69 | |||
Al-Ghazali berkata: “Justeru, kami katakan: | |||
“Membaca di dalam Mushaf lebih baik, ini adalah hukum masalahnya.” | |||
Banyak athar yang menulis berkenaan dengan perkara tersebut dan | |||
saya kemukakan sebahagian daripadanya. Diriwayatkan dalam kitab sahih | |||
dari Abu Hurairah ra katanya: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Tidaklah Allah mendengar sesuatu seperti yang di | |||
dengar-Nya dari seorang Nabi yang bagus suaranya melagukan Al-Qur’an | |||
dan menguatkan suaranya.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Perkataan “mendengar” itu adalah isyarat kepada keridhaan dan | |||
penerimaan. Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari ra bahawa Rasulullah | |||
saw bersabda kepadanya: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Engkau telah diberi seruling dari seruling-seruling | |||
keluarga Dawud.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Dalam suatu riwayat Muslim disebutkan bahawa Rasulullah saw | |||
berkata kepadanya: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Aku bermimpi mendengar bacaanmu semalam.” | |||
(Riwayat | |||
Muslim) | |||
Dia meriwayatkannya dari Barid Ibnu Ak-Khushaib. | |||
Diriwayatkan dari Fudhalah bin Ubaid ra, katanya: Rasulullah saw | |||
bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sungguh Allah lebih mendengar orang yang membaca | |||
Al-Qur’an dengan suara yang merdu daripada pemilik hamba perempuan | |||
kepada hamba perempuannya.” | |||
(Riwayat Ibnu Majah) | |||
Diriwayatkan dari Abu Musa pula, katanya: Rasulullah saw bersabda: | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
70 | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sungguh aku mengenal suara rombongan Al- | |||
Asy’ariyyin waktu malam ketika mereka masuk dan aku mengenal tempat- | |||
tempat mereka dari suara mereka ketika membaca Al-Qur’an waktu malam, | |||
meskipun aku tidak melihat tempat-tempat mereka ketika mereka berhenti | |||
pada waktu siang.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Diriwayatkan dari Al-Bara’ bin Azib ra, katanya: Rasulullah saw | |||
bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” | |||
(Riwayat Abu Dawud Nasa’i dan lainnya) | |||
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari Ali ra bahawa dia mendengar | |||
suara orang-orang membaca Al-Qur’an di dalam masjid, kemudian dia | |||
berkata: “Beruntunglah mereka ini. Mereka orang-orang yang paling disukai | |||
Rasulullah saw.” | |||
Terdapat banyak hadith berkenaan dengan membaca Al-Qur’an | |||
dengan suara kuat. Manakala athar-athar tentang perkataan dan perbuatan | |||
para sahabat dan tabi’in, maka jumlahnya tidak terhitung banyaknya dan | |||
amat mahsyur. Semua ini berkenaan dengan orang yang tidak takut riak dan | |||
tiak takut menyombongkan diri ataupun perbuatan-perbuatan buruk lainnya | |||
serta tidak menganggagu jemaah kerana mengacaukan sembahyang mereka | |||
dan mengelirukannya. | |||
Telah dituliskan dari jemaah Salaf bahawa mereka lebih suka | |||
memperlahankan suara kerana takut apa yang kita sebutkan itu. | |||
Diriwayatkan dari Al-A’Masy, katanya: “Aku masuk ke rumah | |||
Ibrahim yang sedang membaca Mushaf Al-Qur’an. Kemudian seorang lelaki | |||
minta izin kepadanya, lalu dia menutupinya sambil berkata: “Jangan sampai | |||
orang itu mengetahui kalau aku membacanya setiap masa.” | |||
Diriwayatkan dari Abu Al-‘Aliyah, katanya: “Aku duduk bersama | |||
para sahabat Rasulullah saw. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Semalam | |||
aku membaca dari sini.’ Maka mereka berkata, ‘Itu bahagian kamu.” | |||
Dia berdalil kepada mereka ini dengan hadith Uqbah bin Amir ra, | |||
katanya: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
71 | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan suara yang | |||
kuat seperti orang yang bersedekah terang-terangan dan orang yang | |||
membaca Al-Qur’an dengan diam-diam seperti orang yang bersedekah | |||
dengan diam-diam.” | |||
(Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i) | |||
Tirmidzi menyatakan bahawa hadith tersebut adalah hadith hasan, | |||
katanya: “Maksudnya ialah orang yang membaca Al-Qur’an dengan diam- | |||
diam lebih baik daripada orang yang membacanya dengan suara kuat. Sebab | |||
sedekah dengan diam-diam lebik baik menurut ahli ilmu daripada sedekah | |||
secara terang-terangan.” | |||
Dia menyatakan, makna hadith ini menurut ahli ilmu adalah supaya | |||
orang terhindar dari kesombongan atas dirinya sebagaimana diragukan | |||
atasnya jika melakukannya dengan terang-terangan. | |||
Saya katakan, semua itu sesuai dengan penjelasan yang telah saya | |||
jelaskan secara terperinci di awal fasal ini. Jika takut mengalami sesuatu yang | |||
tidak diinginkan dengan sebab menguatkan suara, maka janganlah | |||
menguatkan suara. Jika tidak takut mengalami hal itu, diutamakan | |||
menguatkan suara. Jika bacaan dilakukan oleh jemaah secara bersama-sama, | |||
maka diutamakan sekali agar menguatkan suara berdasarkan alasan yang | |||
kemudian dan kerana cara itu bermanfaat bagi orang lain. Wallahua’lam. | |||
Masalah ke-49: | |||
Sunah mengindahkan suara pada waktu membaca Al-Qur’an. Para | |||
ulama Salaf dan Khalaf daripada sahabat dan tabi’in serta para ulama Anshar | |||
(Baghdad, Bashrah dan Madinah) dan imam-imam muslimin sependapat | |||
dengan sunahnya mengindahkan suara ketika membaca Al-Qur’an. | |||
Perkataan dan perbuatan mereka berkenaan dengan perkara tersebut amat | |||
mahsyur, maka kami tidak perlu memetik sesuatu pun satu-persatunya. | |||
Dalil-dalil berkenaan dengan perkara tersebut sudah dimaklumi orang-orang | |||
terkemuka ataupun orang awam. Antara lain seperti hadith berikut ini: | |||
Terjemahan: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” | |||
Terjemahan: “Orang ini telah diberi seruling.” | |||
Atau hadith yang artinya: “Tidak Allah mendengar….” dan hadith: | |||
“Sungguh Allah lebih mendengar….” | |||
Kesemuanya telah dikemukakan dalam bab terdahulu. Demikian pula | |||
berkenaan dengan keutamaan tartil pada hadith Abdullah bin Mughaffal, | |||
berkenaan dengan membaca Al-Qur’an oleh Nabi saw dengan perlahan- | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
72 | |||
lahan. Dan seperti hadith Sa’ad bin Abi Waqqash dan hadith Abu Lubabah ra | |||
bahawa Nabi saw bersabda: | |||
“Barangsiapa tidak melagukan Al-Qur’an, maka dia bukan dari | |||
golongan kami.” | |||
(Riwayat Abu Dawud) | |||
Berkenaan dengan isnad Sa’ad terdapat perselisihan yang tidak | |||
sampai mengganggu. | |||
Majoriti ulama berkata: “Tidak melagukan” ertinya “tidak | |||
mengindahkan suaranya.” | |||
Begitu juga hadith daripada Al-Barra’ ra artinya: | |||
“Aku mendengar Rasulullah saw membaca dalam sembahyang Isyak | |||
surah Wattiini waz-zaitun dan aku tidak mendengar seorang pun yang lebih | |||
bagus suaranya daripada Baginda.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Para ulama berkata: “Sunah membaca Al-Qur’an dengan suara yang | |||
bagus dan tertib selama tidak melampaui batas. Jika sampai malampui batas | |||
hingga menambah atau menyembunyikan satu huruf, maka perbuatan itu | |||
haram. Manakala membaca dengn lahn (irama/pelat), maka Asy-Syafi’i | |||
rahimahullah berkata dalam suatu pendapat: “Aku tidak menyukainya.” | |||
Para sahabat kami menyatakan itu bukan dua pendapat, tetapi ada | |||
perincian berkenaan dengannya. Jika keterlaluan sehingga melampaui batas, | |||
itulah yang tidak disukainya, jika tidak sampai melampaui batas maka tidak | |||
makruh. | |||
Imam Al-Mawardi berkata dalam kitabnya Al-Haawi berkata: | |||
“Membaca dengan lahn (irama/pelat) yang dibuat-buat, jika mengeluarkan | |||
lafaz Al-Qur’an dari bentuknya dengan memasukkan harakat-harakat di | |||
dalamnya atau mengeluarkan harakat-harakat daripadanya atau | |||
memendekkan yang panjang dan memanjangkan yang pendek atau | |||
memanjangkan hingga menyembunyikan sebahagian lafaznya dan | |||
menyamakan ertinya, maka perbuatan itu haram dan pembacanya menjadi | |||
fasik serta orang yang mendengarnya pun ikut berdosa. Kerana itu bermakna | |||
ia mengalihkannya dari jalan yang lurus ke jalan yang bengkok.” | |||
Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
73 | |||
Terjemahan: “Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak kebengkokan | |||
(di dalamnya)….” | |||
(Aurat Az-Zumar: 28) | |||
Al Mawardi berkata: “Jika tidak sampai terjadi lahn yang keluar dari | |||
lafaznya dan membacanya secara tartil, maka dibenarkan kerana lahnnya itu | |||
menambah kebagusannya.” Ini adalah pendapat Qadhil Qudrat. | |||
Seperti halnya membacaan dengan lahn yang diharamkan, adalah | |||
musibah bagi sebahagian orang bodoh dan jahil yang membacanya untuk | |||
jenazah dan di sebahagian majlis. Ini adalah bid’ah haram dan setiap | |||
pendengarnya adalah sebagaimana dikatakan oleh Al-Mawardi. Demikian | |||
jugalah setiap orang yang sanggup menghilangkan atau melarangnya | |||
berdosa jika tidak melakukannya. Saya telah berusaha sekuat tenaga ketika | |||
membuat itu dan berharap dari anugerah Allah Yang Maha Pemurah agar | |||
memberikan petunjuk untuk menghilangkannya dari orang yang demikian | |||
itu dan menjadikannya dalam kesembuhan. | |||
Asy-Syafi’i berkata dalam Mukhtasar Al-Muzani, bahawa dia | |||
indahkan suaranya dengan cara apapun ketika membaca Al-Qur’an, dia | |||
berkata: “Cara yang lebih baik adalah membaca dengan perlahan-lahan dan | |||
suara lembut.” | |||
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan isnadnya dari Abu | |||
Hurairah ra bahawa dia membaca “Idzasy-syamsu kuwwirat” dengan suara | |||
lembut seperti meratap. | |||
Dalam Sunan Abu Dawud, dikatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah: | |||
“Bagaimana pendapatmu jika suaranya tidak bagus?” Dia menjawab: | |||
“Hendaklah dia elokkan suaranya sedapat mungkin.” | |||
Masalah ke-50: | |||
Sunah mencari guru Al-Qur’an yang baik dan bagus suaranya. | |||
Ingatlah bahawa para jemaah ulama Salaf, meminta para pembaca Al-Qur’an | |||
yang bersuara bagus agar membacanya sedang mereka mendengarnya. | |||
Anjuran melakukan ini disetujui oleh para ulama dan itu adalah kebiasaan | |||
orang-orang baik dan ahli ibadah serta hamba-hamba Allah Yang soleh. | |||
Perbuatan itu adalah sunnah dari Rasulullah saw. | |||
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, katanya: “Rasulullah saw | |||
berkata kepadaku, ‘Bacakanlah Al-Qur’an kepadaku.’ Aku berkata, ‘Ya | |||
Rasulullah, apakah aku wajar membaca Al-Qur’an untukmu sedang | |||
kepadamu ia diberitakan?’ Nabi saw menjawab, ‘Sesungguhnya aku ingin | |||
mendengarnya dari orang lain.’ Kemudian aku bacakan kepadanya An-Nisa’ | |||
hingga ketika sampai pada ayat ini: | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
74 | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila | |||
kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami | |||
mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai | |||
umatmu).” | |||
(QS An-Nisa 4:41) | |||
Beliau kemudian berkata, ‘Cukuplah bagimu sekarang.’ Kemudian aku | |||
menoleh kepadanya. Ternyata kedua matanya berlinang air mata.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dan lainnya dengan sanad-sanad | |||
mereka dari Umar Ibnu Al-Khattab ra bahawa dia berkata kepada Abu Musa | |||
Al-Asy’ari: “Ingatlah kami kepada Tuhan kamu.” Kemudian Abu Musa | |||
membaca Al-Qur’an di dekatnya. Athar-athar berkenaan dengan hal ini | |||
sudah dimaklumi. Telah meninggal dunia sejumlah orang soleh dengan sebab | |||
membaca Al-Qur’an oleh orang yang mereka minta untuk membacakannnya. | |||
Wallahua’lam. | |||
Para ulama telah menganjurkan agar memulai majlis hadith Nabi saw | |||
dan mengkhatamkannya dengan bacaan sebahagian ayat-ayat Al-Qur’an | |||
oleh pembaca yang bagus suaranya. Kemudian, pembaca di tempat-tempat | |||
ini, hendaklah membaca ayat-ayat yang sesuai dengan majlisnya. | |||
Hendaklah dia membaca ayat-ayat yang membangkitkan harapan dan | |||
menimbulkan rasa takut, mengandung nasihat-nasihat, menyebabkan zuhud | |||
terhadap keduniaan, menimbulkan kesukaan kepada akhirat dan persiapan | |||
untuknya serta pendek angan-angan dan kemuliaan budi pekerti. | |||
Masalah ke-51: | |||
Jika pembaca memulai dari tengah surah atau berhenti di tempat yang | |||
bukan akhirnya, agar memulai permulaan kalam yang saling berkaitan antara | |||
satu sama lain (dan berhenti pada kalam berkenaan), serta tidak terikat | |||
dengan bahagian-bahagiannya kerana boleh terjadi di tengah kalam yang | |||
berhubungan seperti bahagian (juzuk) yang terdapat dalam Firman Allah | |||
swt: | |||
“Dan (haram juga kamu mengawini) wanita yang bersuami…” | |||
(QS An-Nisa 4:24) | |||
Dan firman Allah swt: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan aku tidak membebaskan driku (dari kesalahan)…” | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
75 | |||
(QS Yusuf 12:53) | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Maka tidak lain jawapan kaumnya….” | |||
(QS An-Naml 27:56) | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri | |||
Nabi) tetap taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya….” | |||
(QS Al-Ahzab 33:31) | |||
Dan firman Allah swt: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah | |||
dia (meninggal dunia) suatu pasukan pun dari langit….” | |||
(QS Yaasin 36:28) | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang | |||
kiamat….” | |||
(QS Fushshilat 41:47) | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang | |||
telah mereka perbuat….” | |||
(QS Az-Zumar 9:48) | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ibrahim bertanya, ‘Apakah urusanmu, wahai para | |||
utusan.’” | |||
(QS Adz-Dzaariyaat 51: 31) | |||
Demikian jugalah dalam firman Allah swt: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah swt dalam | |||
beberapa hari yang tertentu….” | |||
(QS Al-Baqarah 2:203) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
76 | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Katakanlah, ‘Ingatlah aku khabarkan kepadamu apa | |||
yang lebih baik daripada yang demikian itu….” | |||
(QS Ali-Imran 3:15) | |||
Maka semua itu dan yang seumpamanya, sepatutnya pembaca Al- | |||
Qur’an tidak memulai dengannya dan tidak berhenti di situ kerana itu | |||
berkaitan dengan yang sebelumnya. Janganlah keliru kerana banyaknya | |||
pembaca yang lalai dan tidak memperhatikan adab-adab ini dan tidak pula | |||
memikirkan makna-maknanya. | |||
Ikutilah pendapat yang diriwayatkan oleh Al-Hakim Abu Abdillah | |||
dengan isnadnya dari As-Sayyid yang mulai Al-Fudhail bin ‘Iyadh ra | |||
katanya: “Janganlah merasa kesepian di jalan kebenaran kerana sedikit | |||
pengikutnya dan jangan terpedaya dengan banyaknya orang yang rosak dan | |||
janganlah mengganggumu kerana kurangnya orang-orang yang | |||
menempuhnya.” | |||
Untuk makna inilah para ulama berkata: “Membaca suatu surah yang | |||
pendek secara lengkap lebih baik daripada membaca sebahagian surah | |||
panjang seperti surah pendek kerana kadang-kadang sebahagian orang tidak | |||
mengetahui hubungannya dalam sebahagian keadaan.” | |||
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan isnadnya dari Abdullah | |||
bin Abul Huzail ra. seorang tabi’in terkenal, katanya: “Mereka tidak suka | |||
membaca sebahagian ayat dan meninggalkan sebahagiannya.” | |||
Masalah ke-52: | |||
Makruh membaca Al-Qur’an dalam beberapa keadaan. Ingatlah | |||
bahawa membaca Al-Qur’an disunahkan secara mutlak, kecuali dalam | |||
keadaan-keadaan tertentu dilarang oleh syarak. Saya sebutkan sebahagian | |||
yang saya ingat secara ringkas tanpa menyebut dalil-dalilnya kerana cukup | |||
mahsyur. | |||
Makruh membaca Al-Qur’an dalam keadaan rukuk, sujud dan | |||
tasyahud serta keadaan-keadaan sembahyang lainnya, kecuali jika berdiri. | |||
Makruh membaca lebih dari Al-Fatihah bagi makmum dalam keadaan | |||
sembahyang yang dikeraskan bacaannya jika dia mendengar bacaan imam. | |||
Dan makruh pula membacanya dalam keadaan duduk di tempat buang hajat | |||
dan dalam keadaan mengantuk. Juga dihukumkan makruh mambacanya jika | |||
menemui kesukaran, demikian pula dalam keadaan khutbah bagi orang yang | |||
mendengarnya. | |||
Tidaklah dihukumkan makruh bagi orang yang tidak mendengarnya, | |||
bahkan diutamakan untuk membacanya. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
77 | |||
Inilah pendapat yang terpilih dan sahih. | |||
Diriwayatkan daripada Thawus berkenaan dengan hukum makruhnya | |||
dan Ibrahim berpendapat tidak makruh. Boleh digabung antara kedua | |||
pendapat itu dengan apa yang kami katakan sebagaimana disebutkan oleh | |||
sahabat kami. | |||
Tidak makruh membaca Al-Qur’an ketika tawaf. Ini adalah mazhab | |||
kami dan mazhab sebahagian besar ulama. Ibnu Mundzir menceritakannnya | |||
dari ‘Atha’, Mujahid, Ibnul Mubarak, Abu Thaur dan Ashabur Ra’yi. | |||
Diceritakan dari Hasan Al-Bashri, Urwah bin Zubair dan Malik, | |||
mengenai makruhnya membaca Al-Qur’an ketika thawaf. Pendapat yang | |||
lebih sahih adalah pendapat pertama. Telah dijelaskan sebelumnya tentang | |||
perselisihan berkenaan dengan membaca Al-Qur’an di tempat mandi dan di | |||
jalan serta orang yang di mulutnya ada najis. | |||
Masalah ke-53: | |||
Termasuk bid’ah-bid’ah apa yang dilakukan oleh orang-orng bodoh | |||
yang mengimani orang banyak dalam sembahyang Tarawih ketika membaca | |||
surat Al-An’aam pada rakaat terakhir pada malam ketujuh dengan menyakini | |||
bahwa hal itu mustahab (sunah). | |||
Maka mereka kumpulkn hal-hal yang tercela, antara lain | |||
menyakininya sebagai mustahab dan menyebabkan orang awam | |||
beranggapan seperti itu. Di antaranya menjadikan rakaat kedua lebih panjang | |||
dari rakaat pertama, sedangkan yang sunah adalah memanjangkan rakaat | |||
pertama. | |||
Diantaranya memanjangkan sembahyang terhadap para makmum. | |||
Juga bacaan surat yang amat laju. | |||
Termasuk bid’ah-bid’ah yang menyerupai ini adalah pembacaan | |||
sajdah dalam sembahyang Subuh hari Jumaat, tetapi nukan sajdah Alif Laam | |||
Mim Tanziil. Sedangakan yang sunah adalah membaca Alif Laam Mim Berita | |||
pada rakaat pertama dan surat Hal Ataa pada rakaat kedua. | |||
Masalah ke-54: | |||
Masalah-masalah aneh yang perlu diketahui. Di antaranya ialah | |||
apabila membaca surat, kemudian anging mengganggunya (menguap), maka | |||
hendaklah dia menghentikan bacaanya hingga sempurna keluarnya, | |||
kemudian kembali membaca. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu | |||
Dawud dan lainnya dari Atha’ dan itu adalah adab yang baik. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
78 | |||
Diantaranya ialah apabila seseorang menguap, dia hentikan bacaannya | |||
hingga selesai menguap, kemudian meneruskan bacaan. Mujahid berkata: | |||
“Itu adalah baik.” | |||
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri ra, Katanya: Rasulullah saw | |||
bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Jika seseorang dari kamu menguap, hendaklah dia | |||
menutup mulutnya dengan tangannya karena syaitan akan masuk.” | |||
(Riwayat Muslim) | |||
Diantaranya apabila membaca Firman Allah ‘Azza wa Jalla: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Kaun Yahudi berkata: ‘Uzair putera Allah swt’ dan | |||
kaum Nasrani berakata, ‘Al-Masih putera Allah swt.” | |||
(QS At-Taubah 9:30) | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan kaum Yahudi berkata: Tangan Allah swt | |||
terbelnggu.” | |||
(QS Al-Maidah 5:64) | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pemurah telah | |||
mengambil (mempunyai) anak…” | |||
(QS Maryam 19:88) | |||
Dan ayat-ayat lain yang seumpama itu. Maka hendaklah dia | |||
memperlahankan suaranya ketika membacanya. Demikianlah yang | |||
dilakukan oleh Ibrahim An-Nakha’ ra. | |||
Di antaranya ialah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dawud dengan | |||
isnad dhaif dari Asy-Sya'b’ bahwa dikatakan kepadanya, jika manusia | |||
membaca: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sesungguhnya Allah swt dan para malaikat-Nya | |||
bersholawat kepada Nabi.” | |||
(QS Al-Ahzab 33:56) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
79 | |||
Dia pun mengucapkan sholawat untuk Nabi saw Asy-Sya’bi | |||
menjawab: “Ya”. | |||
Diantaranya ialah disunahkan baginya mengucapkan apa yang | |||
diriwayatkan oleh Abu Hurtairah ra daripada Nabi saw bahwa Baginda | |||
bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Barangsiapa membaca (Wattiini waz-zaituuni) dan | |||
sehingga pada (Alaisa Allah swtu bi ahkamil haakimiin), hendaklah dia | |||
mengucapkan: Balaa wa ana ‘alaa dzaalika minays-syaahidiin.” | |||
(Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, dengan isnad dhaif) | |||
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Tirmidzi berkata: “Hadits ini | |||
diriwayatkan dengan isnad ini, dari orang badui dari Abu Hurairah.” Dia | |||
berkata: “Dan tidak disebut namanya.” | |||
Ibnu Abi Dawud dan lainnya meriwayatkan dalam hadits ini, sebagai | |||
tambahan riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Barangsiapa membaca akhir surat Al-Qiyamah, (Alaisa | |||
dzaalika bi qaadirin ‘alaa an yuhyiya al-nautaa), hendaklah dia | |||
mengucapkan: ‘Balaa wa ana asyhadu’. Dan Barangsiapa membaca (Fa bi | |||
ayyi hadiithin ba’dahu yu’minuun), hendaklah dia mengucapkan, ‘Aamantu | |||
billahi.” | |||
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, Ibnu Zubair dan Abu Musa Al- | |||
Asy’ari’ra bahwa apabila seseorang dari mereka membaca: Sabbihisma | |||
rabbikal a’laa mereka mengucapkan Subhaan Rabbiyal A’laa (Maha Suci | |||
Tuhanku Yang Maha Tinggi). Diriwayatkan dari Umar Ibnu Khattab ra | |||
bahwa dia mengucapkan pada ayat itu Subhaana Rabbiyal a‘laa tiga kali. | |||
Diriwayatkan dari pada Abdullah bin Mas’ud ra bahwa dia sembahyang dan | |||
membaca akhir surat Bani Israil. Kemudian dia ucapkan Alhamdullilahi | |||
ladzii lam yattakhidz waladan. | |||
Salah seorang sahabat kami telah menyebut bahwa sunah mengucapkan | |||
dalam sembahyang apa yang telah kami kemukakan dan dalam hadits Abu | |||
Huarairah berkenaan dengan ketiga surat itu. Demikian jugalah disunahkan | |||
mengucapkan lainnya dari yang kami sebutkan dan yang semakna | |||
dengannya. Wallahua’lam. | |||
Masalah ke-55: | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
80 | |||
Bacaan Al-Qur’an yang dimaksudkan sebagai Kalam. Ibnu Abi Dauwd | |||
menyebutkan adanya perselisihan berkenaan dengan hal ini. Diriwayatkan | |||
dari Ibrahim An-Nakha’I ra bahwa dia tidak suka membaca Al-Qur’an | |||
dengan tujuan urusan dunia. | |||
Diriwayatkan dari Umar Ibnu Khattab ra bahwa dia membaca dalam | |||
sembahyang Maghrib di Mekah, (Wattini waz zaituuni) dan menguatkan | |||
suaranya dan berkata, (Wa haadzal baladil amiini). Diriwayatkan dari | |||
Hukaim bin Sa’ad bahwa seorang lelaki dari Al-Muhakkamati datang kepada | |||
Ali yanbg sedang menunaikan sembahyang Subuh, kemudian berkata, Lain | |||
asyrakta layahbathanna amaluka (jika kamu mempersekutukan-Tuhan- | |||
niscaya akan sia-sialah amalmu. (QS Ar-Ruum 30:60). Maka Ali menjawabnya | |||
dalam sembahyang: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah swt | |||
adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini | |||
(kebenaran ayat-ayat Allah swt itu menggelisahkan kamu).” | |||
(QS Ar-Ruum 30:60) | |||
Para sahabat kami mengatakan, apabila seorang manusia minta izin | |||
masuk kepada orang yang sedang sembahyang, kemudian orang yang | |||
sembahyang itu mengatakan: “Udkhuluuha bi salaamin aaminiin (Masukkal | |||
kamu dengan selamat dan aman), maka jika dia maksudkan pembacaan ayat | |||
atau membaca ayat dan pemberitahuan, tidaklah batal sembahyangnya. Jika | |||
dia mekasudkan mmeberitahu dan tidak ada niat membaca ayat, batallah | |||
sembahyangnya. | |||
Masalah ke-56: | |||
Jika dia membaca sambil berjalan, kemudian melalui sejumlah | |||
manusia, diutamakan memutuskan bacaan dan memberi salam kepada | |||
mereka, kemudian melanjutkan bacaannya. Jika dia mengulangi ta’awwudz, | |||
maka perbuatan itu lebih baik. Sekiranya membaca sambil duduk, kemudian | |||
ada orang lalu di depannya, maka dikatakan oleh Imam Abul Hasan Al- | |||
Wahidi: “Pendapat yang lebih utama adalah tidak memberi salam kepada | |||
pembaca Al-Qur’an karena dia sibuk membaca.” | |||
Dan jika berkata: “Jika seseorang memberi salam kepadanya, cukuplah | |||
dia menjawab dengan isyarat.” Masih menurut Abu Hasan, “Jika ingin | |||
menjawab dengan lafaz salam, dia bisa menjawabnya kemudian dia mulai | |||
membaca isti’adzah dan meneruskan bacaannya.” | |||
Pendapat yang dikemukakan itu lemah. Hal yang jelas adalah | |||
kewajiban menjawab lafaz. Para sahabat kami berkata: “Jika orang yang | |||
masuk memberi salam pada hari Jumaat dalam keadaan imam berkhutbah, | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
81 | |||
sedangkan kami mengatakan bahwa diam adalah sunah, maka wajiblah ke | |||
atasnya menjawab salam menurut pendapat yang lebih sahih di antara dua | |||
pendapat. Jika mereka katakan bahwa ini adalah dalam keadaan Khutbah, | |||
sedangkan terdapat perselisihan berkenaan dengan kewajiban diam dan | |||
pengharaman berbicara, maka dalam keadaan pembacaan yang tidak haram | |||
berbicara di dalamnya berdasarkan ijmak adalah lebih utama di samping | |||
hukum menjawab salam adalah wajib.” Wallahua’lam. | |||
Sementara itu, jika dia bersin dalam keadaan membaca, maka | |||
diutamakan mengucapkan, “Alhamdulillah”. Demikian pula halnya di dalam | |||
sembahyang. Sekiranya orang lain bersin sedang dia membaca Al-Qur’an di | |||
luar sembahyang dan orang itu mendoakannya dengan mengatakan | |||
“Yarhamukallah.” | |||
Sekiranya pembaca Al-Qur’an mendengar Adzan, dia hentikan | |||
bacaannya dan menjawabnya dengan mengikutinya mengucapkan lafaz-lafaz | |||
adzan dan iqamat, kemudian dia kembali kepada bacaannya. Ini disetujui | |||
oleh para sahabat kami. | |||
Jika dia orang punya keperluan dengannya, sedangkan dia dalam | |||
keadaan membaca Al-Qur’an dan memungkinkan baginya untuk menjawab | |||
orang yang bertanya dengan isyarat yang dapat difamahmi dan dia yakin | |||
bahwa hal itu tidak mengecewakan hatinya dan tidak mengganggu | |||
hubungan antara keduanya, maka sebaiknya dia menjawabnya dengan | |||
isyarat dan tidak menghentikan bacaan. Jika dia menghentikannya, maka hal | |||
itu diharuskan. Wallahua’lam. | |||
Masalah ke-57: | |||
Jika datang kepada pembaca Al-Qur’an orabg yang berilmu atau | |||
terhormat atau orang tua yang terpandang atau mereka miliki kehormatan | |||
sebagai pemimpin atau lainnya, maka tidaklah mengapa berdiri untuk | |||
menghormati DAN memuliakannya, bukan karena riya dan membanggakan | |||
diri. Bahkan perbuatan itu mustahab (sunah). Berdiri sebagai penghormatan | |||
adalah termasuk dari perbuatan Nabi saw dan perbuatan para sahabatnya di | |||
hadapan beliau dan dengan perintahnya, serta perbuatan para tabi’in dan | |||
ulama yang sholeh setelah mereka. | |||
Telah saya kumpulkan sebagian tentang berdiri dan saya sebutkan di | |||
dalamnya hadits-hadits dan athar-athar berkenaan dengan sunahnya dan | |||
yang melarangnya. Saya jelaskan kelemahan riwayat yang lemah dan | |||
kesahihan riwayat yang sahih daripadanya. Saya sebutkan pula jawaban | |||
tentang sangkaan adanya larangan atas hal itu, padahal tiada larangan di | |||
dalamnya. | |||
Saya jelaskan semua itu dengan memuji Allah maka siapa yang | |||
meragukan sesuatu dari hadits-haditsnya, hendaklah dia mempelajarinya, | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
82 | |||
niscaya dia dapati keterangan yang menghilangkan keraguannya, insya | |||
Allah. | |||
Masalah ke-58: | |||
Hukum-hukum berharga yang berkaitan dengan membaca Al-Qur’an | |||
dalam sembahyang. Saya sampaikan pembahasan ini secara ringkas karena | |||
cukup mansyur dalam kitab-kitab fiqh. Di antaranya wajib membaca Al- | |||
Qur’an dalam sembahyang fardhu berdasarkan ijmak ulama. Kemudian | |||
Malik, Imam Asy-Syafi’i, Ahmad dan mayoritas ulama berpendapat, | |||
diwajibkan membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat. Abu Hanifah dan | |||
jamaah berkata, “Tidak diwajibkan membaca Al-Fatihah untuk selamanya.” | |||
Dan katanya: “Tidak wajib membaca Al-Fatihah dalam dua rakaat terakhir.” | |||
Pendapat yang lebih benar adalah pendapat pertama. Banyak dalil dari | |||
Sunnah yang menyokong pendapat itu. Cukuplah memahami sabda NabI | |||
saw dalam hadits sahih: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Tidak memadai (sah) sembahyang yang tidak dibaca Al- | |||
Fatihah di dalamnya.” | |||
Mereka sependapat atas sunahnya membaca surat sesudah Al-Fatihah | |||
dalam dua rakaat sembahyang Subuh dan dua rakaat pertama dari | |||
sembahyang-sembahyang lainnya. Mereka berlainan pendapat tentang | |||
anjuran membacanya pada rakaat ke tiga dan keempat. Menurut Imam Asy- | |||
Syafi’i ada dua pendapat tentang hal itu. Menurut madzhab baru (aqaul | |||
jadid) ialah tidak disunahkan dan menurut madzhab lama (qaul qadim) | |||
disunahkan. | |||
Para sahabat kami mengatakan, jika kami katakan bahwa ahl itu | |||
disunahkan, maka tiada perselisihan bahwa pembacaannya tidak lebih dari | |||
pembacaan dalam dua rakaat pertama. Mereka berpendapat bahwa | |||
pembacaan pada rakaat ketiga dan rakaat keempat adalah sama. Apakah | |||
pembacaan pada rakaat pertama lebih panjang daripada rakaat kedua? Maka | |||
ada dua pendapat berkenaan dengan perkara tersebut. Pendapat yang lebih | |||
kuat (sahih) diantara keduanya menurut mayoritas sahabat kami adalah tidak | |||
lebih panjang. Pendapat kedua, yaitu yang sahih menurut para pengkaji | |||
adalah lebih panjang. | |||
Itulah pendapat yang terpilih berdasarkan hadits sahih: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Bahwa Rasulullah saw lebih memanjangkan bacaan pada | |||
rakaat pertama dari pada rakaat kedua.” | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
83 | |||
Faedahnya ialah supaya orang yang tertinggal bisa mendapat rakaat | |||
pertama. Wallahua’lam. | |||
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, apabila makmum | |||
masbuq mendapati dua rakaat terakhir dari sembahyang Zuhur dan lainnya | |||
bersama imam, kemudian dia kerjakan dua rakaat baginya, maka diutamakan | |||
baginya membaca Surat. Mayoritas sahabat kami berkata demikian ini atas | |||
dua pendapat. Setengah dari mereka berkata, ini menurut pendapat yang | |||
menganjurkan pembacaan surat dalam dua rakaat terakhir. Manakala | |||
menurut lainnya tidaklah diutamakan. Pendapat yang lebih benar adalah | |||
pendapat pertama supaya sembahyangnya tidak kosong dari surat. | |||
Wallahua’lam. | |||
Ini hukum imam dan orang yang sembahyang sendiri. Sementara | |||
makmum, maka jika sembahyangnya pelan bacaannya, wajiblah dia | |||
membaca Al-Fatihah dan diutamakan baginya membaca surat. Jika | |||
sembahyang itu bacaannya keras, sedang dia mendengar bacaan imam, | |||
tidaklah disukai baginya membaca surat. | |||
Adapun tentang kewajiban membaca Al-Fatihah ada dua pendapat. | |||
Pendapat yang lebih kuat (sahih) adalah wajib dan pendapat kedua tidak | |||
wajib. Jika tidak mendengar bacaan imam, maka yang sahih adalah wajib | |||
membaca Al-Fatihah dan diutamakan membaca surat. Tidak dinafikan | |||
memang ada orang yang berpendapat wajib membaca Al-Fatihah da tidak | |||
sunah membaca Surat. Wallahua’lam. | |||
Wajib membaca Al-Fatihah pada rakaat pertama dari sembahyang | |||
jenazah. Manakala membaca Al-Fatihah dalam sembahyang nafilah, maka | |||
mesti dilakukan. Para sahabat kami berlainan pendapat berkenaan dengan | |||
penanamannya dalam sembahyang. Al-Qaffal berkata, dia dinamakan | |||
kewajiban. Kawannya Qadhi Husain berkata, dia dinamakan syarat. | |||
Orang lainnya berkata, dia dinamakan rukun dan itulah yang benar. | |||
Wallahua’lam. | |||
Orang yang tidak mampu membaca Al-Fatihah dalam semua ini maka | |||
hendaklah dia menggantinya dengan membaca ayat-ayat yang setara | |||
dengannya dari Al-Qur’an. Jika tidak mempu membaca sesuatu, dia berdiri | |||
sekedar lamanya bacaan Al-Fatihah kemudian rukuk. Wallahua’lam. | |||
Masalah ke-59: | |||
Tidaklah mengapa jika menggabungkan dua surat dalam satu rakaat. | |||
Mengikut riwayat yang terdapat di dalam shahihain (Bukhari dan Muslim) | |||
dari hadits Abdullah bin Mas’ud ra, katanya: “Aku telah mengetahui surat- | |||
surat dimana pernah Rasulullah saw menggabungkannya. Dia menyebut dua | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
84 | |||
puluh surat dari Al-Mufashshal, setiap dua surat dalam rakaat. Telah kami | |||
kemukakan dari jamaah Salaf pembacaan berkhatam dalam satu rakaat. | |||
Masalah ke-60: | |||
Para Ulam muslim sependapat atas sunahnya membaca dengan suara | |||
kuat dalam sembahyang Subuh, Jumaat, dua hari raya dan dua rakaat dari | |||
sembahyang Maghrib dan Isyak, sembahyang Tarawih dan Witir sesudahnya. | |||
Ini adalah mustahab bagi imam dan orang yang sembahyang sendirian. | |||
Sementara makmum, maka ia tidak menguatkan suaranya sesuai dengan | |||
ijmak. Sunah membaca dengan suara kuat dalam sembahyang gerhana bulan | |||
dan tidak membaca dengan keras dalam sembahyang gerhana Matahari, | |||
membaca dengan keras dalam sembahyang Istisqa’ (minta hujan) dan tidak | |||
membaca dengan suara kuat dalam sembahyang jenazah, jika | |||
sembahyangnya berlangsung pada waktu siang, demikian jugalah di malam | |||
hari menurut madzhab yang sahih dan terpilih. | |||
Tidak membaca dengan suara kuat dalam sembahyang nawafil siang | |||
hari kecuali sembahyang Hari Raya dan Istisqa’. Para sahabat kami berlainan | |||
pendapat berkenaan dengan sembahyang nawafil(sunah) di malam hari. | |||
Pendapat yang lebih tepat adalah tidak membaca dengan suara kuat. | |||
Pendapat kedua membaca dengan suara kuat. Pendapt ketiga, yaitu yang | |||
lebih sahih dan didukung bersama oleh Al-Qadhi Husain dan Al-Baghawi | |||
ialah membaca antara kuat dan pelan. | |||
Sekiranya tertinggal sembahyang pada waktu malam, kemudian dia | |||
mengqadhanya pada waktu siang atau tertinggal pada waktu siang dan | |||
mengqadahnya di malam hari, sama saja dikira dalam bacaan kuat dan | |||
bacaan pelan waktu yang tertinggal itu ataukah waktu qadha? | |||
Berkenaan dengan perkara tersebut ada dua pendapat dari pada | |||
sahabat kami. Pendapat yang lebih tepat adalah dikira waktu qadha. | |||
Sekiranya membaca dengan kuat di tempat bacaan pelan atau | |||
membaca dengan pelan di tempat bacaan kuat, maka sembahyangnya sah, | |||
tetapi melakukan perbuatan yang makruh dan tidak sujud karena lupa. | |||
Ingatlah bahwa bersuara pelan dalam mereka membaca Al-Qur’an, | |||
takbir dan dzikir-dzikir lainnya adalah dengan mengucapkannya sehingga | |||
terdengar oleh dirinya dan mesti diucapkan kalau pendengarannya sehat dan | |||
tidak ada penghalangnya. Jika dirinya tidak mendengar bacaannya, maka | |||
tidak sah bacaannya ataupun dzikir-dzikir lainnya tanpa ada perselisihan. | |||
Masalah ke-61: | |||
Para sahabat kami berkata, disunahkan bagi imam dalam sembahyang | |||
yang kuat bacaannya agar diam empat kali dalam keadaan berdiri. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
85 | |||
1.Diam sesudah takbiratul ihram untuk membaca doa tawajjuh dan | |||
para makmum membaca takbir. | |||
2.Sesudah Al-Fatihah diam sebentar saja antara akhir Al-Fatihah dan | |||
uacapanm Aamiin supaya tidak timbul sangkaan bahwa Aamiin termasuk | |||
Al-Fatihah. | |||
3.Diam lama setelah mengucapkan Aamiin. | |||
4.Setelah membaca surat untuk memisahkan dengannya antara | |||
pembacaan surat dan takbir untuk melakukan rukuk. | |||
Masalah ke-62: | |||
Disunahkan bagi setiap pembaca, sama saja dalam sembahyang atau di | |||
luar sembahyang, jika selesai membaca Al-Fatihah agar menguacapkan | |||
Aamiin. Hadits-hadits berkenaan dengan perkara tersebut banyak dan | |||
mansyur. Telah kami kemukakan dalam bab sebelumnya bahwa disunahkan | |||
memisahkan antara akhir Al-Fatihah dan ucapan Aamiin dengan diam | |||
sebentat. Aamiin artinya: “Ya Allah, kabulkanlah. Tidak dinafikan memang | |||
ada orang yang berpendapat, “Demikianlah, maka jadilah.” | |||
Ada orang yang berpendapat, lakukanlah. Ada orang yang | |||
berpendapat artinya tidak ada seorangpun yang dapat melakukan ini selain | |||
Engkau. | |||
Tidak dinafikan memang ada orang yang berpendapat artinya “Jangan | |||
sia-siakan harapan kami.” Ada orang yang berpendapat, artinya adalah “Ya | |||
Allah, selamatkanlah kami dengan kebaikan.” Ada orang yang berpendapat, | |||
ia pelindung dari Allah swt untuk hamba-hamba-Nya dengan menolak | |||
berbagai bencana dari mereka. Ada orang yang berpendapat, ia adalah | |||
derajat di Syurga yang dianugerahkan kepada siapa yang mengucapkannya. | |||
Ada orang yang berpendapat, ia adalah salah satu nama Allah swt Para | |||
pengkaji menolak pendapat ini. Ada orang yang berpendapat, ia adalah nama | |||
Ibrani yang tidak diarabkan. Abu Bakar Al-Warraq berkata, ia adalah | |||
kekuatan untuk berdoa dan permintaan turunnya rahmat. Ad orang yang | |||
berpendapt selain itu. | |||
Terdapat beberapa cara mengucapkan Aamiin. Para ulama berkata, | |||
yang paling fasih adalah Aamiin dengan memanjangkan Hamzah dan | |||
meringankan mim, cara kedua dengan memendekkannya. Kedua pendapat | |||
ini mansyur. Cara ketiga dengan imaalah diserta mad. Al-Wahidi | |||
menceritakan hal itu dari Hamzah dan Al-Kisaa’i. Cara keempat dengan | |||
tasydid pada mim disertai mad. Al-Wahidi menceritakannya dari Al-Hasan | |||
dan Al-Husain bin Al-Fudhail. | |||
Katanya: itu ditegaskan oleh apa yang diriwayatkan dari Jaafar Ash- | |||
Shidiq ra, katanya: Artinya adalah kami menuju kepada-Mu sedang Engkau | |||
Maha Pemurah hingga tidak menyia-nyiakan orang yang menuju. Ini | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
86 | |||
pendapat Al-Wahidi. Cara keempat ini asing sekali. Kebanyakan ahli bahasa | |||
menganggapnya sebagai kesalahan ucapan dari golongan orang awam. | |||
Sebagian dari sahabat kami berpendapat, barangsiapa mengucapkan | |||
cara keempat, batallah sembahyangnya. Ahli bahasa Arab berkata, haknya | |||
dalam bahasa Arab adalah waqaf (berhenti) karena kedudukannya seperti | |||
suara. Jika disambung, huruf nuun diberi harakat fathah karena adanya | |||
pertemuan dua sukun sebagaimana dia diberi harakat fathah pada Aina dan | |||
Kaifa, maka tidak diberi harakat kasrah karena beratnya bacaan kasrah | |||
sesudah ya’. Inilah penjelasan yang berkaitan dengan lafaz Aamiin. | |||
Saya telah menjelaskan hal itu dengan banyak bukti dan pendapat | |||
tambahan dalam kitab Tahdziibul Asmaa’ wal Lughaat. | |||
Para ulama berkata, diutamakan mengucapkan Aamiin dalam | |||
sembahyang bagi imam, makmum dan orang yang sembahyang sendirian. | |||
Imam dan orang yang sembahyang sendirian membaca Aamiin dengan suara | |||
kuat dalam sembahyang yang jahar bacaannya. Mereka berlainan pendapat | |||
berkenaan dengan bacaan kuat oleh makmum. Pendapat yang sahih ialah | |||
membaca dengan suara kuat. Pendapat kedua tidak membaca dengan suara | |||
kuat. Pendapat ketiga membaca dengan suara kuat jika banyak jumlahnya. | |||
Kalau tidak banyak, maka tidak membaca dengan kuat. Ucapan Aamiin oleh | |||
makmum bersamaan dengan ucapan Aamiin oleh imam, tidak sebelumnya | |||
ataupun sesudahnya sesuai dengan sabda Nabi saw dalam hadits sahih: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Jika imam mengucapkan ‘Wa ladhdhaalliin,’ ucapkanlah | |||
‘Aamiin’ karena barangsiapa yang ucapan ‘Aamiin’nya bertepatan dengan | |||
ucapan ‘Aamiin’ para malaikat, maka Allah mengampuni dosanya yang | |||
terdahulu.” | |||
Manakala sabda Nabi saw dalam hadits sahih: “Jika imam | |||
mangucapkan Aamiin, maka ucapkanlah Aamiin.” Artinya ialah apabila | |||
ingin mengucapkan Aamiin. | |||
Para sahabat kami berkata, tidak ada dalam sembahyang suatu tempat | |||
yang diutamakan agar ucapan makmum bersamaan dengan ucapan imam, | |||
kecuali dalam ucapan Aamiin. Sementara dalam ucapan-ucapan lainnya, | |||
maka ucapan makmum datang kemudian setelah imam. | |||
Masalah ke-63: | |||
Sujud Tilawah. Para ulama sependapat atas perintah melakukan Sujud | |||
Tilawah. Mereka berlainan pendapat sama saja perintah itu merupakan sunah | |||
atau wajib? | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
87 | |||
Majoriti ulama mengatakan, tidak wajib, tetapi mustahab (sunah). Ini | |||
pendapat Umar Ibnu Al-Khattab ra, Ibnu Abbas, Imran bin Hushairi, Malik, | |||
Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tahur, Dawud dan lainnya. | |||
Abu Hanifah rahimahullah berkata, hukumnya wajib. Dia berhujah | |||
dengan firman Allah swt: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Mengapa mereka tidak beriman. Dan apabila Al-Qur’an | |||
dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” | |||
(QS Al-Insyiqaaq 84:20-21) | |||
Majoriti ulama berhujah dengan hadsi sahih dari Umar Ibnu Al- | |||
Khattab ra, “Bahwa dia membaca di atas mimbar pada hari Jumaat surat An- | |||
Naml hingga sampai ayat sajadah, dia turun kemudian sujud dan orang lain | |||
pun sujud. Sehingga pada hari Jumaat berikutnya dia membacanya hingga | |||
tiba pada ayat sajadah, katanya: ‘Wahai para manusia. Sesungguhnya kita | |||
melalui tempat sujud, maka barangsiapa yang sujud, dia telah melakukan | |||
sesuatu yang benar. Dan siapa yang tidak sujud, dia tidak berdosa,’ dan | |||
Umar tidak sujud.” | |||
(Riwayat | |||
Bukhari) | |||
Perbuatan dan perkataan Umar ra di majelis ini adalah dalil yang jelas. | |||
Sementara jawaban terhadap ayat yang dijadikan hujjah oleh Abu | |||
Hanifah ra adalah jelas karena yang dimaksud adalah mencela mereka yang | |||
meninggalkan sujud sebagai ungkapan pendustaan, sebagaimana firman | |||
Allah swt sesudahnya: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Bahkan orang-orang kafir itu mendustakan (nya)” | |||
(QS Al-Insyiqaaq 84:22) | |||
Diriwayatkan dalam Shahihain dari Zaid bin Thabit ra. “bahwa dia | |||
membca di hadapan Nabi saw. ‘Wa-Najmi’ dan beliau tidak sujud.” | |||
Diriwayatkan dalam Shahihain “bahwa Nabi saw sujud ketika | |||
membaca surat An-Najm.” Maka semua itu menunjukkan bahwa Sujud | |||
Tilawah tidak wajib. | |||
Masalah ke-64: | |||
Penjelasan tentang jumlah Sujud Tilawah dan tempatnya. Manakala | |||
jumlahnya sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah danm | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
88 | |||
mayoritas ulama adalah 14 sajadah, yaitu: Surat Al-A’raaf, Ar-Ra’ad, An- | |||
Nahl. Al-Israa’, Maryam, dalam surat Al-Hajj ada dua sujud, Al-Furqan, An- | |||
Naml, Alif Laam Tanziil, Haa Mim As-Sajadah, Al-Insyiqaaq dan Al-‘Alaq. | |||
Sementara sajadah dalam surat Shaad, maka hukumnya mustahab dan | |||
tidak ditekankan untuk melakukan sujud. Diriwayatkan dalah Shahih | |||
Muslim dari Ibnu Abbas ra, katanya: “Sajadah dalam surat Shaad bukanlah | |||
sujud yang ditekankan dan aku telah melihat Nabi saw sujud pada ayat itu. | |||
“Ini adalah madzhab Asy’Asy-Syafi’i dan orang yang berpendapat seperti | |||
dia. | |||
Abu Hanifah berkata, jumlahnya ada 14 sajadah, tetapi dia | |||
menggugurkan sajadah kedua surat Al-Hajj dan menetapkan sajadah dalam | |||
surat Shaad serta menjadikannya sebagai sajadah yang diharuskan sujud. | |||
Diriwayatkan dari Ahmad ada dua riwayat. Yang satu seperti Asy’Asy-Syafi’i | |||
dan yang kedua ada 15 sajadah dengan tambahan dalam surat Shaad. Ini | |||
adalah pendapat Abul Abbas bin Syuraih dan Abu Ishaq Al-Marzuki dari | |||
pengikut Asy-Syafi’i dan paling terkenal dari keduannya adalah 11 sajadah. | |||
Dia menggugurkan sajadah dalam surat An-Najm, Al-Insyiqaaq dan Al- | |||
‘Alaq. | |||
Ini adalh pendapat lama dari Asy-Syafi’i dan yang sahih adalah apa | |||
yang kami kemukakan. Hadits-hadits yang sahih menunjukkan hal itu. | |||
Manakala tempat Sujud Tilawah terdapat pada: | |||
1. Akhir Surat Al-A’raf: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sesungguhnya malaikat-malaikat yang disisi Tuhanmu | |||
tidaklah merasa enggan menyembah Allah swt dan mereka mentasbihkan- | |||
Nya dan hanya kepada-Nyalah mereka bersujud.” | |||
(QS Al-A’raf 7:206) | |||
2. Dalam surat Ar-Ra’d ialah sesudah firman Allah ‘Azza wa Jalla: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “… pada waktu pagi dan petang hari.” | |||
(QS Ar-Ra’d 13:15) | |||
3. Dalam surat An-Nahl: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
89 | |||
Terjemahan: “…dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada | |||
mereka).” | |||
(QS An-Nahl 16:50) | |||
4. Dalam Al-Israa’: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “… dan mereka bertambah khusyuk.” | |||
(QS Al-Israa’ 17:109) | |||
5. Dalam Surat Maryam: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “… maka mereka menyungkur dengan bersujud dan | |||
menangsis.” | |||
(QS Maryam 19:58) | |||
6. Sajadah pertama dari surat Al-Hajj ialah: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “…Sesungguhnya Allah swt berbuat apa yang dia | |||
kehendaki.” | |||
(QS Al-Hajj 22: 18) | |||
7. Sajadah kedua dalam surat Al-Hajj: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “…berbutlah kebajikan supaya kamu mendapat | |||
kemenangan.” | |||
(QS Al-Hajj 22:77) | |||
8. Dalam surat Al-Furqan: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “…dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh dari | |||
(iman).” | |||
(QS Al-Furqan 25:60) | |||
9. Dalam surat An-Naml: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
90 | |||
Terjemahan:“… Tuhan Yang Mempunyai ‘Arasy yang agung.” | |||
(QS An-Naml 27:26) | |||
10. Dalam surat Alif Laam Mim Berita: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “… sedang mereka tidak menyombongkan diri.” | |||
(QS As-Sajadah 32: 5) | |||
11. Dalam Surat Haa Mim: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “…sedang mereka tidak merasa jemu.” | |||
(QS Fushshilat 41:15) | |||
12. Akhir surat An-Najm: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Maka bersujudlah kepada Allah swt dan sembahlah | |||
(Dia).” | |||
(QS An-Najm 53:62) | |||
13. Dalam surat Al-Insyiqaaq: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “… mereka tidak sujud.” | |||
(QS Al-Insyiqaaq 84:21) | |||
14. Dan bacalah di akhir surat Al-‘Alaq (QS ke-19) | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; | |||
dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (QS Al-‘Alaq 96:19) | |||
Tidak ada perselisihan yang berarti berkenaan dengan suatu | |||
tempatnya, kecuali berkenaan dengan sajadah yang terdapat dalam surat Haa | |||
Mim. Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat. Imam Asy-Syafi’i dan | |||
para pengikutnya berpendapat bahwa tempatnya adalah apa yang kami | |||
sebutkan, yaitu sesudah yas-amuuna. Ini adalah madzhab Said Ibnu | |||
Musayyab, Muhammad bin Sirin, Abu Waail Syaqiq bin Salamah, Sufyan | |||
Ath-Thauri, Abu Hanifah, Ahmad dan Ishaq bin Rahaqaih. Orang lainnya | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
91 | |||
berpendapat bahwa tempatnya sesudah firman Allah swt In Kuntum iyyaahu | |||
ta’ buduun (QS Fushshilat: 37). | |||
Ibny Nundzir menceritakannya dari Umar Ibnul Khattab, Hasan Al- | |||
Bashri dan para pengikut Abdullah bin Mas’ud, Ibrahim An-Nakha’I, Abu | |||
Shahih, Thalhah bin Masharif, Zubaid Ibnul Harith, Malik bin Anas dan Al- | |||
Laith bin Sa’ad. Ini adalah pendapat sebagian pengikut Asy-Syafi’i, Al- | |||
Baghawi menceritakannya dalam At-Tahdziib. | |||
Sementara pendapat Abul Hasan Ali bin Said Al-Abdi salah seorang | |||
sahabat kami dalam kitabnya Al-Kifayah berkenaan dengan perselisihan | |||
fuqaha di kalangan kami, bahwa sajadah dalam surat An-Naml ayat 25, | |||
adalah pada firman Allah swt, Wa ya’lamu maayukhfuuna wamaa yu’linuun, | |||
berkata bahwa iniadalah madzhab sebagian besar fuqaha. | |||
Malik berkata, bahwa sajadah itu pda firman Allah swt, Rabbul ‘arsyil | |||
‘azhiim (QS An-Naml: 26) | |||
Pendapat ini yang dipetik dari madzhab kami dan madzhab sebagian | |||
besar fuqaha yang tidak dikenal dan tidak diterima, tetapi merupakan | |||
kesalahan yang nyata. Inilah kitab-kitab para sahabat kami yang menegaskan | |||
bahwa sajadah itu pada firman Allah swt, Rabbul ‘arsyil ‘Azhiim. | |||
Masalah ke-65: | |||
Hukum Sujud Tilawah sama dengan hukum sembahyang, nafilah | |||
dalam pensyaratan suci dari hadas dan najis, menghadap kiblat dan menutup | |||
aurat. Maka haram Sujud Tilawah pada orang yang di badan atau bajunya | |||
terdapat najis yang tidak dapat dimaafkan. Dan haram atas orang yang | |||
berhadas, kecuali jika dia bertayamum di suatu tempat yang diharuskan | |||
bertayamum. | |||
Diharamkan pula menghadap selain kiblat, kecuali dalam perjalanan | |||
di mana bisa menghadap selain kiblat dalam sembahyang nafilah. Semua ini | |||
disetujui oleh para ulama. | |||
Masalah ke-66: | |||
Jika membaca sajadah (dalam Surat Shaad), orang yang berpendapat | |||
bahwa dalam surat itu merupakan ketentuan tempatnya Sujud Tilawah, | |||
maka dia berkata, bisa sujud sama saja ketika dia membacanya di dalam | |||
sembahyang atau di luarnya sebagaimana sajadah-sajadah lainnya. Manakala | |||
Asy-Syafi’i dan lainnya berpendapat bahwa pada tempat itu tidak termasuk | |||
tempat tujuan Sujud Tilawah, maka mereka berkata, apabila membacanya di | |||
luar sembahyang, diutamakan baginya sujud karena Nabi saw sujud pada | |||
tempat itu sebagaimana kami kemukakan. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
92 | |||
Jika membacanya dalam sembahyang, dia tidak sujud. Jika sujud, | |||
sedang dia tidak tahu atau lupa, tidaklah batal sembahyangnya, tetapi dia | |||
lakukan sujud Sahwi. Jika dia mengetahui, maka pendapat yang shahih | |||
adalah batal sembahyangnya karena dia menambah dalam sembahyang | |||
sesuatu yang bukan termasuk dari sembahyang, maka batallah | |||
sembahyangnya. Sebagaimana jika dia lakukan sujud syukur, maka sujud itu | |||
membatalkan sembahyangnya tanpa ada perselisihan. | |||
Pendapat kedua adalah tidak batal karena berkaitan dengan | |||
sembahyang. Sekiranya imamnya sujud pada sajadah dalam surat Shaad | |||
karena dia meyakininya termasuk sajadah yang ditekankan untuk sujud | |||
sedang makmum tidak menyakininya, maka dia tidak mengikuti imam, | |||
tetapi memsisahkan diri daripadanya atau menunggunya sambil berdiri. Jika | |||
menunggunya, apakah makmum itu melakukan sujud Sahwi? Berkenaan | |||
dengan perkara tersebut ada dua pendapat. Pendapat yang lebih tepat adalah | |||
tidak sujud. | |||
Masalah ke-67: | |||
Berkenaan dengan orang yang disunahkan untuk Sujud Tilawah. | |||
Ingatlah bahwa disunahkan melakukan Sujud Tilawah bagi pembaca Al- | |||
Qur’an yang bersuci dengan air atau tanah, sama saja dalam sembahyang | |||
atau di luarnya. Disunahkan pula bagi orang yang mendengar dan orang | |||
yang mendengar tanpa sengaja. Bagaimanapun Imam Asy-Syafi’i berkata, | |||
bahwa saya tidak menekankan ke atasnya sebagaimana saya tekankan bagi | |||
orang yang mendengar. Inilah pendapat yang shahih. | |||
Imamul Haramain sahabat kami berkata, bahwa orang yang | |||
mendengar tidak perlu sujud. Pendapat yang mansyur adalah pendapat | |||
pertama. Tiada bedanya sama saja pembacanya dalam sembahyang atau di | |||
luar sembahyang disunahkan bagi orang yang mendengar ataupun yang | |||
mendengar untuk sujud. Sama saja pembacanya sujud atau tidak. Inilah | |||
pendapat yang shahih dan mansyur menurut para sahabat Asy-Syafi’i, Abu | |||
Hanifah juga menyatakan demikian. Sahibul Bayaan dari Ash-Habusy Asy- | |||
Syafi’i menyatakan, bahwa orang yang mendengar bacaan orang yang | |||
membaca di dalam sembahyang, tidak perlu sujud. | |||
Ash-Shaidalani sahabat Asy-Syafi’i berkata, bahwa tidak disunahkan | |||
sujud, kecuali jika pembacanya sujud. Pendapat yang lebih benar adalah | |||
pendapat pertama. Tidak ada bedanya sama saja pembacanya seorang | |||
muslim laki-laki yang sudah baligh dan bersuci atau sorang kafir atau anak | |||
kecil atau berhadas atau seorang perempuan. Ini adalah pendapat yang sahih | |||
menurut pendapat kami dan Abu Hanifah juga berkata demikian. | |||
Sebagian sahabat kami berkata, bahwa tidak perlu sujud untuk bacaan | |||
orang kafir, anak kecil, orang yang berhadas dan orang yang mabuk. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
93 | |||
Sejumlah ulama Salaf berkata, bahwa tidak perlu sujud untuk bacaan orang | |||
perempuan. Ibnul Munzir menceritakannya dari Qatadah, Malik dan Ishaq. | |||
Pendapat yang lebih benar adalah apa yang kami kemukakan. | |||
Masalah ke-68: | |||
Tentang meringkas sujud Tilawah. Yang dimaksud adalah membaca | |||
satu atau dua ayat, kemudian sujud. Ibnul Mundzir menceritakan dari Asy- | |||
Sya’bi, Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Sirin, An-Nakha’I, Ahmad dan | |||
Ishaq bahwa mereka tidak menyukai hal itu. Diriwayatkan daripada Abu | |||
Hanifah, Muhammad bin Hasan dan Abu Thsaur bahwa hal itu tidak ada | |||
masalah denganya dan ini sesuai dengan madzhab kami. | |||
Masalah ke-69: | |||
Jika sembahyang sendirian, dia bisa sujud untuk bacaan dirinya | |||
sendiri. Seandainya dia meninggalkan Sujud Tilawah dan rukuk, kemudian | |||
ingin sujud untuk tilawah sesudahnya, maka tidak bisa. Jika sudah | |||
merebahkan diri untuk rukuk tetapi belum sampai ke batas rukuk, maka bisa | |||
melakukan Sujud Tilawah. Jika dia lakukan dengan mengetahuinya, batallah | |||
sembahyangnya. Jika dia sudah merebahkan dirinya untuk sujud Tilawah, | |||
kemudian teringat dan berdiri semula, maka hal itu bisa. | |||
Sementara jika orang yang sembahyang sendirian mendengar bacaan | |||
seorang pembaca dalam sembahyang atau lainnya, maka dia tidak bisa sujud | |||
karena mendengarnya. Jika dia sujud dengan mengetahui, batallah | |||
sembahyangnya. | |||
Manakala orang yang sembahyang berjamaah, apabila dai sebagai | |||
imam, maka dia seprti orang yang sembahyang sendirian. Jika Imam Sujud | |||
Tilawah karena bacaannya sendiri, wajiblah atas makmum untuk sujud | |||
bersamanya. Jika tidak dilakukannya, batallah sembahyangnya, Jika imam | |||
tidak sujud, maka makmum tidak bisa sujud. Jika makmum sujud, batallah | |||
sembahyangnya. Bagaimanapun diutamakan baginya untuk sujud jika selesai | |||
sembahyang dan tidak ditekankan. | |||
Sekiranya imam sujud sedang makmum tidak tahu hingga imam | |||
mengangkat kepalanya dari sujud, maka dia dimaafkan atas | |||
ketertinggalannya dan dia tidak bisa sujud. Sekiranya dia mengetahui sedang | |||
imam dalam keadaan sujud, wajiblah dia sujud. Sekiranya dia rebahkan diri | |||
untuk sujud, kemudian imam mengangkat kepalanya ketika dia sedang | |||
bergerak untuk sujud, maka dia mesti berdiri semula bersamanya dan tidak | |||
bisa sujud. | |||
Demikian orang lemah yang merebahkan untuk sujud bersama imam, | |||
apabila imam bangkit dari sujud sebelum orang yang lemah itu sampai ke | |||
tempat sujud lantaran cepatnya imam dan lambatnya makmum yang lemah | |||
itu, maka dia kembali bersamanya dan tidak bisa meneruskan sujud. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
94 | |||
Sementara jika orang yang sembahyang itu sebagai makmum, | |||
maka dia tidak bisa sujud karena bacaannya sendiri ataupun karena bacaan | |||
selain imamnya. Jika dia sujud, batallah sembahyangnya. Dan makruh | |||
baginya membaca ayat sajadah dan mendengar pada bacaan selain imamnya. | |||
Masalah ke-70: | |||
Waktu sujud Tilawah. Para Ulama berkata, bahwa sujud Tilawah itu | |||
mesti dilakukan sesudah ayat sajadah yang dibaca atau didengarnya. Jika dia | |||
tangguhkan dan tidak lama selang waktunya, dia bisa sujud. Jika lama selang | |||
waktunya, maka telah berlalu waktu sujudnya dan tidak perlu mengqadha | |||
menurut madzhab yang sahih dan masyhur, sebagaimana sembahyang | |||
gerhana matahari tidak bisa di qadha. Salah seorang sahabat kami berkata, | |||
bahwa ada pendapat lemah yang mengatakan bahwa sujud itu bisa di qadha | |||
sebagaimana mengqadha sunah-sunah rawatib, seperti sunah Subuh, Zuhur | |||
dan lainnya. | |||
Kalau pembaca atau pendengarnya berhadas ketika membaca sajadah, | |||
kemudian bersuci dalam waktu yang tidak lama, dia bisa sujud. Jika | |||
bersucinya terlambat hingga lama selang waktunya, maka pendapat yang | |||
sahih dan terpilih yang ditetapkan oleh sebagian besar ulama adalah tidak | |||
sujud. | |||
Ada orang yang berpendapat bahwa dia bisa sujud. Ini adalah pilihan | |||
Al-Baghawi sahabat kami. Dia pun bisa menjawab muadzin (orang yang | |||
azan) setelah selesai sembahyang. Hal yang dikira berkenaan dengan | |||
lamanya selang waktu dalam hal ini adalah menurut kebiasaan sebagai | |||
madzhab terpilih. Wallahua’lam. | |||
Masalah ke-71: | |||
Jika seluruh ayat sajadah atau beberapa sajadah dibaca dalam suatu | |||
majelis, maka dia sujud pada setiap sajadah tanpa ada perselisihan. Jika dia | |||
mengulangi bacaan satu ayat dalam beberapa majelis, maka dia sujud untuk | |||
setiap kali sajadah tanpa ada perselisihan. Jika dia mengulanginya dalam satu | |||
majelis, maka ada beberapa pandangan. Jika tidak sujud untuk kali pertama, | |||
cukuplah baginya sekali sujud untuk semuanya. Jika dia sujud untuk kali | |||
yang pertama, maka ada tiga pendapat berkenaan dengan puasaerkara | |||
tersebut. cara yang lebih sahih adalah sujud sekali untuk setiap bacaan karena | |||
adanya sebab baru setelah memenuhi hukum yang pertama. | |||
Pendapat kedua, cukuplah baginya sujud setelah bacaan pertama | |||
untuk semuanya. Ini adalah pendapat Ibnu Surajj dan MerekaAzhab Abu | |||
Hanifah rahimahullah. Penulis Al-‘Uddah sahabat kami berkata, inilah yang | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
95 | |||
difatwakan. Asy-Syeikh Nashr Al-Maqdisi Az-Zaahid sahabat kami memilih | |||
pendapat ini. | |||
Pendapat ketiga, jika selang waktunya berlangsung lama, dia bisa | |||
sujud. Kalau tidak, cukuplah baginya sujud karena sajadah yang pertama. | |||
Jika satu ayat dibaca berulang-ulang dalam sembahyang dan kalau hal itu | |||
dilakukan dalam satu rakaat, maka seperti satu majelis. Kalau berlangsung | |||
dalam dua rakaat, maka dia seperti dua majelis hingga dia ulangi sujudnya | |||
tanpa ada perselisihan. | |||
Masalah ke-72: | |||
Jika membaca sajadah sambil menaiki kendaraan dalam perjalanan, dia | |||
bisa sujud dangan memberi isyarat. Ini adalah madzhab kami, Imam Malik, | |||
Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad, Ahmad, Zufar, Dawud dan lainnya. | |||
Seorang sahabat Abu Hanifah berkata dia, tidak perlu sujud. Pendapat yang | |||
lebih banar adalah madzhab mayoritas ulama. Manakala orang yang menaiki | |||
kendaraan di tempat menetap, maka dia tidak bisa sujud dengn memberi | |||
isyarat. | |||
Masalah ke-73: | |||
Jika dia membaca ayat sajadah dalam sembahyang sebelum Al- | |||
Fatihah, maka dia bisa sujud. Lain halnya jia dia membaca dalam rukuk atau | |||
sujud, maka dia tidak bisa sujud. Karena berarti adalah tempat membaca. | |||
Sekiranya dia membaca sajadah, kemudian merebahkan diri untuk sujud, | |||
kemudian dia ragu sama saja membaca Al-Fatihah atau belum, maka dia bisa | |||
sujud untuk tilawah. Kemudian dia berdiri lagi dan membaca Al-fatihah | |||
karena Sujud Tilawah tidak bisa ditangguhkan. | |||
Masalah ke-74: | |||
Jika seseorang membaca sajadah dengan bahasa Parsi, maka menurut | |||
pendapat kami tidak perlu sujud, sebagaimana jika ayat sajadah itu | |||
ditafsirkan. Namun Abu Hanifah berpendapat bisa sujud. | |||
Masalah ke-75: | |||
Jika orang yang mendengar ayat sajadah itu sujud bersama pembaca, | |||
dia tidak terikat dengannya dan tidak berniat mengikutinya dan dia bisa | |||
bangkit dari sujud sebelumnya. | |||
Masalah ke-76: | |||
Tidaklah makruh pembacaan ayat sajadah oleh imam, menurut | |||
pendapat kami, sama saja dalam sembahyang yang pelan bacaannya atau | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
96 | |||
dalam sembahyang yang jahar bacaannya dan dia bisa sujud jika | |||
membacanya. | |||
Dalam hal ini Imam Malik berpendapat, bahwa sujud tidak disukai | |||
sama sekali. Abu Hanifah berpendapat, Makruh sujud Tilawah dalam | |||
sembahyang yang pelan bacaannya, bukan sembahyang yang jahar | |||
bacaannya. | |||
Masalah ke-77: | |||
Menurut pendapat kami tidak makruh Sujud Tilawah dalam waktu- | |||
waktu yang dilarang sembahyang. Ini juga merupakan pendapat Asy-Sya’bi, | |||
Hasan Al-Bashri, Salim bin Abdullah, Al-Qasim, Atha’, Ikrimah, Abu | |||
Hanifah, Ashabur Ra’yi dan Malik dalam salah satu dari dua riwayat. | |||
Sejumlah ulama tidak menyukai hal itu. Diantara mereka adalah Abdullah | |||
bin Umar, Sa’id, Ibnul Musayyab dan Malik dalam riwayat lain, Ishaq bin | |||
Rahawaih dan Abu Thaur. | |||
Masalah ke-78: | |||
Rukuk tidak bisa manggantikan kedudukan sujud Tilawah dalam | |||
keadaan ikhtiar. Ini mazhab kami dan madzhab mayoritas Ulama Salaf dan | |||
Kalaf. Abu Hanifah rahimahullah berpendapat, rukuk bisa menggantikannya. | |||
Dalil yang dipakai oleh mayoritas adalah mengkiaskannya dengan sujud | |||
dalam sembahyang. Sementara orang yang tidak sanggup sujud, maka dia | |||
memberi isyarat untuk Sujud Tilawah sebagaimana dia memberi isyarat | |||
untuk sujud dalam sembahyang. | |||
Masalah ke-79: | |||
Tentang sifat sujud. Ingatlah bahwa orang yang melakukan sujud | |||
Tilawah mempunyai dua keadaan. Yang pertama, di luar sembahyang dan | |||
yang kedua di dalam sembahyang. | |||
Manakala keadaan pertama, maka jika dia ingin sujud, dia niatkan | |||
Sujud Tilawah dan melakukan takbiratul ihram dan mengangkat kedua | |||
tangan sejajar dengan kedua bahunya sebagaimana dia melakukan takbiratul | |||
ihram untuk sembahyang. Kemudian dia takbir lagi untuk Sujud Tilawah | |||
tanpa mengangkat tangan. Takbir yang kedua ini mustahab, bukan syarat, | |||
seperti takbir sujud untuk sembahyang. Sementara takbir yang pertama, yaitu | |||
takbiratul ihram, maka ada tiga pendapat dari sahabat-sahabat kami. | |||
Pendapat pertama adalah yang paling tepat yaitu pendapat sebagian | |||
besar dari mereka, bahwa takbir yang pertama (takbiratul ihram) merupakan | |||
rukun dan tidak sah sujud Tilawah kecuali dengannya. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
97 | |||
Pendapat kedua adalah mustahab. Sekiranya takbir itu ditinggalkan | |||
sujudnya tetap sah. Ia adalah pendapat Asy-Syeikh Abu Muhammad Al- | |||
Juwaini. | |||
Pendapat ketiga tidak mustahab. Wallahua’lam. | |||
Kemudian, jika orang yang ingin sujud itu dalam keadaan berdiri, dia | |||
pun mengucapkan takbiratul ihram, kemudian takbir untuk sujud ketika | |||
merebahkan diri ke tempat sujud. Jika dalam keadaan duduk, maka jamaah | |||
daripada sahabat kami berpendapat: Disunahkan baginya berdiri, kemudian | |||
takbiratul Ihram dalam keadaan berdiri kemudian merebahkan diri untuk | |||
sujud, sebagaimana halnya ketika permulaan dalam keadaan berdiri. | |||
Dalil pendapat ini adalah mengkiaskan takbiratul ihram dan sujud | |||
dalam sembahyang. Orang yang menetapkan ini antara lain imam-imam | |||
sahabat kami Asy-Syeikh Abu Muhammad Al-Juwaini dan AlQadhi Husain | |||
dan kedua sahabatnya ini adalah penulis At-Titimmah dan At-Tahdzib dan | |||
Imam Al-Muhaqiq Abul Qasim Ar-Rafi’i. Imamul Haramainmenceritakannya | |||
dari ayahnya Asy-Syeikh Abu Muhammad. | |||
Kemudian dia mengingkarinya dan berkata, saya tidak melihat dasar | |||
dikemukakannya alasan perkara ini. Apa yang dikatakan oleh Imamul | |||
Haramainini adalah benar. Tidak ada riwayat yang sahih berkenaan dengan | |||
hal ini dari pada Nabi saw dan tidak pula dari ulama Salaf yang bisa dibuat | |||
sandaran. Mayoritas dari sahabat kami tidak ada yang menyebutnya. | |||
Wallahua’lam. | |||
Kemudian ketika sujud dia mesti memperhatikan adab-adab sujud | |||
dalam bentuk (haiah) dan tasbihnya. Manakala berkenaan dengan haiahnya, | |||
maka dia letakkan kedua tangannya setakat kedua bahunya di atas tanah dan | |||
merapatkan jari-jemarinya serta membentangkannya ke arah kiblat dan | |||
membentangkan jari-jemarinya dari genggaman sebagaimana orang yang | |||
melakukan sujud dalam sembahyang. Dia jauhkan kedua sikunya dari kedua | |||
sisinya dan mengangkat perutnya dari kedua pahanya kalau seorang lelaki. | |||
Jika dia seorang perempuan, maka dia tidak menjauhkannya. Orang yang | |||
sujud mengangkat bagian bawahnya di atas kepalanya dan merapatkan dahi | |||
dan hidungnya di atas mushalla (alas tempat sembahyang) dan tenang dalam | |||
sujudnya. | |||
Sementara tasbih di dalam sujud, maka para sahabat kami | |||
berpendapat, dia bertasbih seperti bertasbih dalam sujud sembahyang. Dia | |||
ucapkan tiga kali Subhana Rabbiyal A’la tiga kali. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
98 | |||
Kemudian dia ucapkan: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Allah, kapada-Mu aku sujud, kepada-Mu aku | |||
beriman dan kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku sujud kepada Tuhan | |||
yang menciptakannya dan membentuk rupanya, membuat pendengaran dan | |||
penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya. Maha Suci Allah sebaik-baik | |||
Pencipta.” | |||
Dan dia ucapkan Subbuhun Qudduusun Rabbul malaaikati warruuh. | |||
Semua ini diucapkan orang yang sembahyang dalam sujudnya ketika | |||
sembahyang. Para sahabat kami juga berkata, diutamakan mengucapkan: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Allah, tulislah bagiku dengan sujud ini pahala di sisi- | |||
Mua dan jadikanlah dia bagiku sebagai simpanan di sisi-Mu, hapuskan dosa | |||
dariku dan terimalah dia dariku sebagaimana Engkau menerimanya dari | |||
hamba-Mu Dawud as.” | |||
Doa ini khusus bagi sujud ini (Sujud Tilawah), maka patutlah dia | |||
selalu dibaca. | |||
Al-Uatad Isma’il Adh-Dharir berkata dalam kitabnya At-Tafsir bahwa | |||
pilihan Asy-Syafi’i ra dalam doa sujud Tilawah adalah mengucapkan: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami | |||
pasti dipenuhi.” | |||
(QS Al-Isra’ 17:108) | |||
Petikan dari Asy-Syafi’i ini aneh sekali dan ia adalah baik. Karena | |||
zahir Al-Qur’an menghendaki ucapan pujian di dalam sujud oleh pelakunya. | |||
Maka disunahkan menggabungkan antara dzikir-dzikir ini seluruhnya dan | |||
berdoa berkenaan dengan urusan-urusan akhirat dan dunia yang | |||
diinginkannya. Jika dia batasi pada sebagiannya, sudah cukup bacaan | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
99 | |||
tasbihnya. Sekiranya tidak bertasbih dengan sesuatu apa pun, tercapailah | |||
sujudnya seperti halnya sujud dalam sembahyang. | |||
Kemudian ketika selesai dari bertasbih dan berdoa, dia angkat | |||
kepalanya sambil bertakbir. | |||
Apakah Sujud Tilwah memerlukan salam? Terdapat dua pendapat | |||
yang masyhur dari Asy-Syafi’i. Cara yang lebih sahih dari keduanya menurut | |||
majoriti sahabatnya ialah dia memerlukan salam karena memerlukan | |||
takbiratul ihram dan menjadi seperti sembahyang jenazah. Di didukung oleh | |||
riwayat Ibnu Abi Dawud dengan isnadnya yang sahih dari Abdullah bin | |||
Mas’ud ra bahwa apabila membaca ayat sajadah, dia pun sujud, kemudian | |||
memberi salam. | |||
Pendapat kedua, tidak memerlukan salam seperti Sujud Tilawah | |||
dalam sembahyang karena hal itu tidak dinukil dari pada Nabi saw. | |||
Berdasarkan pendapat pertama, apakah dia memerlukan tasyahud? | |||
Terdapat dua pendapat berkenaan dengan perkara tersebut. Cara yang lebih | |||
sahih dari keduanya ialah tidak perlu tasyahud, sebagaimana tidak perlu | |||
berdiri. | |||
Salah seorang sahabat kami menggabungkan antara dua masalah dan | |||
berkata, berkenaan dengan tasyahud dan salam ada tiga pendapat: | |||
1. Pendapat yang lebih sahih ialah mesti memberi salam tanpa | |||
membaca tasyahud. | |||
2. Pendapat kedua, dia tidak memerlukan salah satu dari | |||
keduanya. | |||
3. Dan pendapat ketiga ialah mesti melakukan keduanya. | |||
Mereka yang berpendapat harus memberi salam, antara lain | |||
Muhammad bin Sirin, Abu Abdurrahman As-Salami, Abul Ahwash, Abu | |||
Qalabah dan Ishaq bin Rahawain. | |||
Mereka yang berpendapat tidak perlu memberi salam, antara lain | |||
Hasan Al-Bashri, Said bin Jubair, Ibrahim An-Nakha’I, Yahya bin Wathab dan | |||
Ahmad. Semua ini dalam keadaan pertama, yaitu sujud di luar sembahyang. | |||
Keadaan kedua, yaitu melakukan Sujud Tilawah dalam sembahyang, maka | |||
dia tidak perlu mengucapkan takbiratul ihram dan diutamakan bertakbir | |||
untuk sujud dan tidak mengangkat kedua tangannya serta bertakbir untuk | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
100 | |||
bangkit dari sujud. Inilah pendapat yang sahih dan masyhur yang didukung | |||
bersama oleh mayoritas ulama. | |||
Abu Ali bin Abu Huarirah salah seorang sahabat kami berkata, dia | |||
tidak perlu bertakbir untuk sujud ataupun untuk bangkit dari sujud. | |||
Pendapat yang terkenal adalah pendapat pertama. | |||
Manakala adab-adab dalam haiah dan tasbih dalam Sujud Tilawah | |||
adalah seperti dalam sikap sujud yang lalu di luar sembahyang. Kecuali jika | |||
orang yang sujud itu menjadi imam, maka hendaklah dia tidak | |||
memanjangkan tasbih, kecuali jika dia tahu dari keadaan para makmuk | |||
bahwa mereka lebih suka memanjangkannya. | |||
Kemudian, ketika bangkit dari sujud, dia berdiri dan tidak duduk | |||
untuk diam sejenak tanpa ada perselisihan. Ini adalah masalah yang aneh dan | |||
jarang orang menyebutnya. Di antara yang menyebutnya adalah Al_Qadhi | |||
Husain, Al-Baghawi dan Ar-Rafi’i. Ini berlainan dengan sujud sembahyang. | |||
Pendapat yang sahih dan disebutkan oleh Asy-Syafi’i dan terpilih yang | |||
tercatat dalam hadits-hadits sahih riwayat Bukhari dan lainnya adalah | |||
anjuran untuk duduk istirahat sesudah sujud yang kedua dari rakaat pertama | |||
dalam setiap sembahyang dan pada rakaat ketiga dalam sembahyang yang | |||
rakaatnya empat. | |||
Kemudian, apabila bangkit dari Sujud Tilawah, maka harus berdiri | |||
tegak. Disunahkan ketika berdiri tegak adalah membaca sesuatu, kemudian | |||
rukuk. Jika berdiri tegak, kemudian rukuk tanpa membaca sesuatu, maka | |||
hukumnya bisa. | |||
Masalah ke-80: | |||
Waktu-waktu terpilih membaca Al-Qur’an. Ingatlah bahwa membaca | |||
Al-Qur’an yang paling baik adalah di dalam sembahyang. Manurut madzhab | |||
Asy-Syafi’i dan lainnya, bahwa berdiri lama dalam sembahyang lebih baik | |||
daripada sujud yang lama. | |||
Sementara membaca Al-Qur’an di luar sembahyang, maka yang paling | |||
utama adalah pada waktu malam dan dalam separuh terakhir dari waktu | |||
malam lebih baik daripada separuh pertama. Membacanya di antara Maghrib | |||
dan Isyak disukai. Manakala pembacaan pada waktu siang, maka yang paling | |||
utama adalah setelah sembahyang Subuh dan tidak ada makruhnya membaca | |||
Al-Qur’an pada waktu-waktu yang mengandung makan. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
101 | |||
Sementara yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari Mu’adz bin | |||
Rifa’ah dari guru-gurunya bahwa mereka tidak suka membaca Al-Qur’an | |||
sesudah Ashar. Waktu itu adalah waktu orang Yahudi belajar. Riwayat itu | |||
tidak bisa diterima dan tidak ada dasarnya. | |||
Hari-hari yang terpilih ialah Jumaat, Senin, Kamis dan hari Arafah, | |||
sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama dari bulan | |||
Dzulhijjah; sedang bulan yang paling utama dalah bulan Ramadhan. | |||
Masalah ke-81: | |||
Jika pembaca merasa bingung dan tidak mengetahui tempat sesudah | |||
ayat yang telah dicapainya, maka bertanyalah kepada orang lain. Patutlah dia | |||
mengacu dengan apa yang diriwayatkan daripada Abdullah Abu Mas’ud, | |||
Ibrahium An-Nakha’I dan Basyir bin Abu Mas’ud ra. Mereka berkata, apabila | |||
seseorang dari kamu bertanya kepada saudaranya tentang suatu ayat, | |||
hendaklah dia membaca ayat yang sebelumnya, kemudian diam dan tidak | |||
mengatakan bagaimana bisa begini dan begini, hal itu akan mengelirukannya. | |||
Masalah ke-82: | |||
Jika ingin berdalil dengan suatu ayat, maka dia bisa berkata, | |||
Qaalallahu Ta’ala kadza (Allah telah berfirman demikian) dan dia bisa | |||
berkata, Allaahu Ta’ala Yaquulu kadza (Allah berfirman demikian). Tidak | |||
ada makruhnya sesuatu pun dalam hal ini. Ini adalah pendapat yang sahih | |||
dan yang terpilih yang didukung bersama oleh ulama Salaf dan Kalaf. | |||
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari Mutharif bin Abdullah Ibn | |||
Asy-Syakhiir seorang tabi’in yang masyhur, katanya: Janganlah kamu | |||
katakan, Innallaaha Ta’ala Yaquulu, tetapi katakanlah, InnAllah swta Ta’ala | |||
qaala. Apa yang diingkari oleh Mutharif rahimahullah ini bertentangan | |||
dengan apa yang disebut di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dan dilakukan | |||
oleh para sahabat serta para ulama setelah mereka-mudah-mudahan Allah | |||
swt meridhaoi mereka. | |||
Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia | |||
menunjukkan jalan (yang benar).” | |||
(QS Al-Ahzab 33:4) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
102 | |||
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Dzarr ra katanya: | |||
Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Barangsiapa berbuat baik, maka dia mendapat ganjaran | |||
sepuluh kali lipat.” | |||
(QS Al-An’am 6:60) | |||
Diriwayatkan dalam shahih Muslim dalam bagian Tafsir; “Lan | |||
Tanaalul birra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuun.” | |||
Abu Talhah berkata: | |||
Terjemahan: “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang | |||
sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” | |||
(QS Ali-Imran 3:92) | |||
Ini adalah pendapat Abu Thalhah di hadapan Nabi saw | |||
Diriwayatkan dalam hadits sahih dari Masruq rahimahullah, katanya: | |||
Aku berkata kepada Aisyah ra, bukankah Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Tuhan di | |||
ufuk yang terang.” | |||
(QS At-Takwir 81:23) | |||
Maka Aisyah menjawab, tidaklah engkau mendengar bahwa Allah | |||
berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
103 | |||
Terjemahan: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang | |||
Dia dapat melihat segala penglihatan itu.” | |||
(QS Al-An’am 6:130) | |||
Atau tidakkah engkau mendengar bahwa Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah | |||
berbicara dengan dia, kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang | |||
tabir.” | |||
(QS Asy-Syuura 26:51) | |||
Kemudian Aisyah berkata dan Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan | |||
kepadamu dari Tuhanmu.” | |||
(QS Al-Maidah 5:67) | |||
Kemudian Aisyah berkata dan Allah berfirman: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Katakanlah! Tidak ada seorang pun di langit dan dibumi | |||
yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” | |||
(QS An-Naml 27:65) | |||
Pendapat ini lebih banyak ditemukan dalam pandangan ulama Salaf | |||
dan Kalaf. Wallahua’lam. | |||
Masalah ke-83: | |||
Adab-adab berkhatam Al-Qur’an dan segala yang berkaitan | |||
dengannya. Dalam bab ini ada beberapa Masalah: | |||
Masalah pertama, berkenaan dengan waktunya telah ditentukan | |||
bahwa pengkhataman oleh pembaca sendirian disunahkan untuk dilakukan | |||
dalam sembahyang. Ada orang yang berpendapat, disunahkan melakukan | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
104 | |||
pengkhataman itu dalam dua rakaat sunah Fajar dan dalam dua rakaat sunah | |||
Maghrib, sedangkan dalam dua rakaat Fajar lebih utama. | |||
Disunahkan pengkhataman Al-Qur’an sekali khatam di awal siang | |||
dalam suatu rumah dan mengkhatamkn lainnya diakhir siang di rumah lain. | |||
Manakala yang mengkhatamkan di luar sembahyang dalam jamaah yang | |||
mengkhatamkan bersama-sama, maka disunahkan pengkhataman mereka | |||
berlangsung di awal siang atau di awal malam sebagaimana dikemukakan. | |||
Awal siang lebih utama menurut sebagian ulama. | |||
Masalah kedua, diutamakan berpuasa pada hari pengkhataman, | |||
kecuali jika bertepatan dengan hari yang dilarang syarak puasa hari itu. | |||
Diriwayatkan oleh Ibnu Dawud dengan isnadnya yang sahih, bahwa Thalhah | |||
bin Mutharif dan Habib bin Abu Thabit, serta Al-Musayyib bin Raafi’ para | |||
tabi’im Kuffah ra, dianjurkan berpuasa pada hari di mana mereka | |||
mengkhatamkan Al-Qur’an. | |||
Masalah ketiga, diutamakan sekali menghadiri majelis pengkhataman | |||
Al-Qur’an. | |||
Diriwayatkan dalam Shahihain: | |||
Terjemahan: “Bahwa Rasulullah saw menyuruh perempuan- | |||
perempuan yang haid keluar pada hari raya untuk menyaksikan kebaikan | |||
dan doa kaum muslimin.” | |||
Diriwayatkan oleh Ad-Daarimi dan Ibnu Abi Dawud dengan isnadnya | |||
dari ibnu Abbas ra bahwa dia menyuruh seseorang memperhatikan seorang | |||
yang membaca Al-Qur’an. Jika pembaca Al-Qur’an itu akan khatam, | |||
hendaklah dia memberitahukan kepada Ibnu Abbas, sehingga dia dapat | |||
menyaksikan berkhatam itu. | |||
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan dua isnadnya yang sahih | |||
dari Qatadah seorang tabi’in besar sahabat Anas ra, katanya: Anas bin Malik | |||
ra. Apabila mengkhatamkan Al-Qur’an, dia kumpulkan keluarganya dan | |||
berdoa. Dia meriwayatkan dengan isnad-isndnya yang sahih dari Al-Hakam | |||
bin Uyainah seorang tabi’in yang mulia. | |||
Katanya: Mujahid dan Utbah bin Lubabah mengutus orang kepadaku, | |||
keduanya berkata, kami mengutus orang kepadamu karena kami ingin | |||
mengkhatamkan Al-Qur’an. Doa sangat mustajab ketika mengkhatamkan Al- | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
105 | |||
Qur’an. Dalam suatu riwayat yang sahih disebutkan, bahwa rahmat turun | |||
ketika mengkhatamkan Al-Qur’an. | |||
Diriwayatkan dengan isnadnya yang sahih dari mujahid, katanya: | |||
Mereka berkumpul ketika mengkhatamkan Al-Qur’an dan berkata, rahmat | |||
Allah swt turun. | |||
Masalah keempat, berdoa sesudah pengkhataman Al-Qur’an amat | |||
disunahkan berdasarkan apa yang kami sebutkan dalam masalah | |||
sebelumnya. Diriwayatkan oleh Ad-Daarimi dengan isnadnya dari Humaid | |||
Al-A’raj, katanya: Barangsiapa membaca Al-Qur’an, kemudian berdoa, maka | |||
doanya diamini oleh 4.000 malaikat. Hendaklah dia bersungguh-sungguh | |||
dalam bedoa dan mendoakan hal-hal yang penting serta memperbanyak | |||
untuk kebaikan kaum muslimin dan para pemimpin mereka. | |||
Diriwayatkan oleh Al-Hakim Abu Abdillah An-Nisaburi dengan | |||
isnadnya bahwa Abdullah Ibn Al-Mubarak ra apabila mengkhatamkan Al- | |||
Qur’an, maka sebagian besar doanya adalah untuk kaum muslimin, | |||
Mukminin dan mukminat. Pada waktu yang sama dia juga berkata seperti | |||
itu. Maka hendaklah orang yang berdoa memilih doa-doa yang menyeluruh, | |||
seperti: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Allah, sempurnakanlah hati kami, hilangkanlah | |||
keburukan kami, bimbinglah kami dengan jalan yang terbaik, hiasilah kami | |||
dengan ketaqwaan, kumpulkanlah bagi kami kebaikan akhirat dan dunia dan | |||
anugerahkanlah kami ketaatan kepada-Mu selama Engkau menghidupkan | |||
kami.” | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Allah, mudahkanlah kami ke jalan kemudahan dan | |||
jauhkanlah kami dari kesukaran, lindungilah kami dari keburukan diri kami | |||
dan amal-amal kami yang buruk, lindungilah kami dari siksa neraka dan | |||
siksa kubur, fitnah semasa hidup dan sesudah mati serta fitnah Al-Masih Ad- | |||
Dajjal.” | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
106 | |||
Terjemahan: “Ya Allah, kami mohon kepada-Mu petunjuk, kekuatan, | |||
kesucian diri dak kecukupan.” | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Allah, Kami amanahkan pada-Mu agama, jiwaraga | |||
dan penghabisan amal-amal kami, keluarga dan orang-orang yang kami | |||
cintai, kaum muslimin lainnya dan segala urusan akhirat dan dunia yang | |||
Engkau anugerahkan kepada kami dan mereka.” | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Allah, kami mohon kepada-Mu maaf dan | |||
keselamatan dalam agama, dunia dan akhirat. Kumpulkanlah antara kami | |||
dan orang-orang yang kami cintai di negeri kemuliaan-Mu dengan anugerah | |||
dan rahmat-Mu.” | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Allah, sempurnakanlah para pemimpin muslimin | |||
dan jadikanlah mereka berlaku adil terhadap rakyat mereka, berbuat baik | |||
kepada mereka, menunjukkan kasih sayang dan bersikap lemah-lembut | |||
kepada mereka serta memperhatikan maslahat-maslahat mereka. Jadikanlah | |||
mereka mencintai rakyat dan mereka dicintai rakyat. Jadikanlah mereka | |||
menempuh jalan-Mu dan mengamalkan tugas-tugas agama-Mu yang lurus.” | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Allah, berlembutlah kepada hamba-Mu penguasa | |||
kami dan jadikanlah dia memperhatikan maslahat-maslahat dunia dan | |||
akhirat. Jadikanlah dia mencintai rakyatnya dan jadikanlah dia dicintai | |||
rakyat.” | |||
Dia membaca doa-doa lanjutan berkenaan dengan para pemimpin dan | |||
menambahkan sebagai berikut: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Allah, rahmatilah diri dan negerinya, jagalah para | |||
pengikut dan tentaranya, tolonglah dia untuk menghadapi musuh-musuh | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
107 | |||
agama dan para penantang lainnya. Jadikanlah dia bertindak menghilangkan | |||
berbagai kemungkaran dan menunjukkan kebaikan-kebaikan serta berbagai | |||
bentuk kebajikan. Jadikanlah Islam semakin tersebar dengan sebabnya, | |||
muliakanlah dia dan rakyatnya dengan kemuliaan yang cemerlang.” | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin dan | |||
murahkanlah harga-harag mereka, amankanlah mereka di negeri-negeri | |||
mereka, lunasilah hutang-hutang mereka, sembuhkanlah orang-orang yang | |||
sakit diantara mereka, bebaskanlah mereka yang ditawan, sembuhkanlah | |||
penyakit hati mereka, hilangkanlah kemarahan hati mereka dan | |||
persatukanlah diantara mereka. | |||
Jadikanlah iman dan hikmah dalam hati mereka, tetapkanlah mereka | |||
diatas agama Rasul-Mu saw. Ilhamilah mereka agar memenuhi janji-Mu yang | |||
Engkau berikan kepada mereka, tolonglah mereka dalam menghadapi | |||
musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Tuhan Yang Maha Besar dan | |||
jadikanlah kami dari golongan mereka.” | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Allah, jadikanlah mereka menyuruh berbuat yang | |||
ma’ruf dan mengamalkannya, mencegah dari yang mungkar dan | |||
menjauhinya, memelihara batas-batas-Mu, melakukan ketaatan kepada-Mu, | |||
saling berbuat baik dan menasihati.” | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ya Allah, jagalah dalam pendapat dan perbuatan | |||
mereka, berkatilah mereka dalam semua keadaan mereka.” | |||
Orang yang berdoa hendaklah memulai dan mengakhiri doanya | |||
dengan ucapan: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Segala Puji bagi Allah Tuhan sekalian alam dengan | |||
pujian yang memadai dengan nikmat-nikmat-Nya dan sepadan dengan | |||
tambahan-Nya. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
108 | |||
Ya Allah, limpahkanlah sholwat dan salam ke atas Muhammad dan | |||
keluarga (Penghulu Kami) Muhammad sebagaimana Engkau melimpahkan | |||
sholwat ke atas Ibrahim dan keluarganya. | |||
Berkatilah (Penghulu kami) Muhammad dan keluarga Muhammad | |||
sebagaimana Engkau berkati Ibrahim dan keluarganya. Di seluruh alam, | |||
sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.” | |||
Masalah kelima, apabila selesai dari pengkhataman Al-Qur’an, apabila | |||
selesai dari pengkhataman Al-Qur’an, disunahkan memualai lagi membaca | |||
Al-Qur’an sesudahnya. Para Ulama Salaf dan Kalaf telah menganjurkan hal | |||
itu. Mereka berhujah dengan hadits Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sebaik-baik amal adalah al-Hallu dan ar-Rahlah. | |||
Ditanyakan kepada baginda, ‘Apakah keduanya itu?’ Nabi saw menjawab, | |||
‘Memulai membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya’.” | |||
== | |||
ADAB BERINTERAKSI DENGAN | |||
AL-QUR’AN | |||
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Tamim Ad-Daariy ra, | |||
katanya: Nabi saw bersabda: | |||
7 | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
109 | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Agama itu nasihat. Kami berkata, ‘Untuk siapa? Nabi | |||
saw menjawab, ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum | |||
muslimin dan orang-orang awam mereka.” | |||
Para ulama rahimahullah berkata, nasihat untuk Kitab Allah swt | |||
adalah, “Beriman bahwa ia adalah kalam Allah dan wahyu-Nya, tidak ada | |||
sesuatupun dari makhluk yang menyerupainya dan seluruh makhluk tidak | |||
ada yang mampu berbuat seperti itu.” | |||
Kemudian mengagungkan dan membacanya dengan sebenar- | |||
benarnya dan sebaik-baiknya. Bersikap khusyuk ketika membacanya, seperti | |||
makhraj huruf-hurufnya yang tepat, membelanya dari penakwilan orang- | |||
orang yang menyelewengkannya dan gangguan orang-orang yang | |||
melampaui batas, membenarkan isinya, menjalankan hukum-hukumnya, | |||
memahami ilmu-ilmu dan perumpamaan-perumpamaannya, memperhatikan | |||
nasihat-nasihatnya, memikirkan keajaiban-keajaiban dan mengamalkan ayat- | |||
ayatnya yang muhkam (jelas) dan menerima ayat-ayatnya yang mutasyabih | |||
(samar) mencari keumuman dan kekhususan, nasikh dan mansukhnya, | |||
menyebarkan keumuman dan kekhususan ilmu-ilmunya, menyeri | |||
kepadanya. | |||
Masalah ke-84: | |||
Kaum muslimin sependapat atas wajibnya mengagungkan Al-Qur’an | |||
yang mulia secara mutlak, menyucikan dan menjaganya. Dan mereka | |||
sependapat bahwa siapa yang mengingkari satu huruf daripadanya yang | |||
telah disetujui atau menambah satu huruf yang tidak pernah dibaca oleh | |||
seorang pun sedang dia mengetahui hal itu, maka dia kafir. | |||
Imam Al-Hafizh Abul Fadhl Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata, | |||
“Ingatlah bahwa siapa yang meremehkan Al-Qur’an atau sebagian | |||
daripadanya atau memakainya atau mengingkari satu huruf daripadanya | |||
atau mendustakan sesuatu hukum atau kabar yang ditegaskan di dalamnya | |||
atau membenarkan sesuatu yang dinafikannya atau menafikan sesuatu yang | |||
ditetapkannya, sedang dia mengetahui hal itu atau meragukan sesuatu dari | |||
hal itu, maka dia telah kafir berdasarkan ijma’ul muslimin. | |||
Demikian jugalah jika dia mengingkari Taurat dan Injil atau Kitab- | |||
kitab Allah Yang diberitakan atau kafir dengannya atau memakainya atau | |||
meremehkannya, maka dia telah kafir. | |||
Katanya: Para ulama muslimin sependapat bahwa Al-Qur’an yang | |||
dibaca di negeri-negeri dan tertulis di dalam Mushaf yang berada di tangan | |||
kaum muslimin dan dihimpun di antara dua sampul mulai dari Al- | |||
Hamdulillahi rabbil ‘aalamiin hingga akhir Qul A’uudzu birabbin naas | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
110 | |||
adalah Kalamullah dan wahyu-Nya yang diberitakan kepada Nabi-Nya | |||
Muhammad saw. | |||
Dan mereka sependapat bahwa semua yang terdapat di dalamnya | |||
adalah benar dan barangsiapa yang menguranginya dengan sengaja atau | |||
menggantikan sehuruf dengan huruf lain atau menambah sehuruf di | |||
dalamnya yang tidak tercatat dalam Mushaf yang telah disetujui itu serta | |||
menyatakan dengan sengaja bahwa ia bukan termasuk Al-Qur’an, maka dia | |||
telah kafir. | |||
Abu Usman Al-Haddad berkata, “Semua ahli tauhid bersepakat bahwa | |||
mengingkari stu huruf dari Al-Qur’an adalah kufur.” | |||
Fuqaha Baghadad sependapat untuk menyuruh bertaubat Ibnu | |||
Syahbudz Al-Muqri seorang imam qari (yang mahir membaca) Al-Qur’an | |||
terkemuka bersama Ibnu Mujahid karena membaca dan mengajarkan bacaan | |||
dengan huruf-huruf yang ganjil dan tidak terdapat dalam Mushaf. Mereka | |||
menyuruh membuat pernyataan untuk berhenti dan bertaubat dengan | |||
kesaksiaam mereka di majelis Al-Waziir Ubay bin Maqlah tahun 323 H. | |||
Muhammad bin Abu Zaid berfatwa berkenaan dengan orang yang | |||
mengatakan kepada seorang anak kecil,” Mudah-mudahan Allah swt | |||
mengutuk gurumu dan apa yang diajarkannya kepadamu?” | |||
Katanya: “Aku maksudkan adab yang tidak baik dan tidak saya | |||
maksudkan Al-Qur’an.” Muhammad berkata: “Orang yang mengatakan itu | |||
perlu dihukum.” Sementara yang mengutuk Mushaf, maka dia bisa dibunuh. | |||
Inilah akhir pendapat Al-Qadhi Iyadh rahimahullah. | |||
Masalah ke-85: | |||
Diharamkan menafsirkan Al-Qur’an tanpa ilmu dan berbicara tentang | |||
makna-maknanya bagi siapa yang bukan ahlinya. Banyak hadits berkenaan | |||
dengan perkara tersebut dan ijmak berlaku atasnya. | |||
Sedangkan penafsirannya oleh ulama, itu sesuatu yang diharuskan | |||
dan baik. Dan ijmak telah menetapkan atas hal itu. Maka siapa yang ahli | |||
menafsirkan dan mempunyai alat-alat untuk mengetahui maknanya dan | |||
benar sangkaannya terhadap apa yang dimaksud, dia pun bisa | |||
menafsirkannya jika dapat diketahui dengan ijtihad. Seperti makna-makan | |||
dan hukum-hukum yang terang ataupun yang samar, tentang keumuman | |||
dan kakhususan serta I’raab dan lainnya. | |||
Kalau tidak dapat diketahui maknanya dengan ijtihad seperti perkara- | |||
perkara yang jalannya adalah menukil dan menafsirkan lafaz-lafaz bahasa, | |||
maka tidak bisa berbicara berkenaang dengannya. Kecuali dengan nukilan | |||
yang sahih oleh ahlinya yang dapat diambil kira. Sementara orang yang | |||
bukan ahlinya karena tidak mempunyai alat-alatnya, maka haramlah atasnya | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
111 | |||
menafsirkan maknanya. Bagaimanapun dia bisa menukil tafsirnya dari | |||
ahlinya yang layak. | |||
Kemudian, orang-orang yang menafsirkan dengan pendapat mereka | |||
tanpa dalil yang sahih ada beberapa golongan. | |||
• Di antara mereka ada yang berhujah dengan ayat untuk | |||
membenarkan madzhabnya dan menguatkan pikirannya, meskipun tidak | |||
benar sangkaannya bahwa itulah yang dimaksud dengan ayat itu. Dia hanya | |||
ingin mengalahkan lawannya. | |||
• Ada yang ingin menyeru kepada kebaikan dan berhujah dengan | |||
suatu ayat tanpa mengetahui petunjuk atas apa yang dikatakannya. | |||
• Bahkan ada yang menafsirkan lafaz-lafaz Arabnya tanpa memahami | |||
makna-makna dari ahlinya, padahal hal itu tidak bisa diambil kecuali dengan | |||
mendengar dari ahli bahasa Arab dan ahli tafsir, seperti penjelasan makna. | |||
lafaz dan I’rabnya, hadzaf, ringkasan, idhmaar, hakekat dan majaz, | |||
keumuman dan kekhususan, ijmaal dan bayan, pendahuluan dan | |||
pengakhiran dan sebagainya dari hal-hal yang berbeda dengan zahirnya. | |||
Disamping itu tidak cukup mengetahui bahasa Arab saja, tetapi mesti | |||
menmgetahui apa yang dikatakan oleh ahli tafsir berkenaan dengannya. | |||
Kadang-kadang mereka bersepakat untuk meninggalkan zahirnya atau | |||
mendatangkan kekususannya atau yang idhmaar dan sebagainya dari | |||
sesuatu yang berbeda dengan zahirnya. | |||
Apabila lafaznya mempunyai beberapa makna, kemudian dia | |||
mengetahui di suatu tempat bahwa yang dimaksud adalah salah satu makna | |||
dari beberapa makna yang dimaksudnya. Kemudian dia menafsirkan dengan | |||
apa yang datang kepadanya, maka ini semua adalah tafsir menurut | |||
pendapatnya (tafsir bir ra’yi) dan hukumnya haram. Wallahua’lam. | |||
Masalah ke-86: | |||
Diharamkan mira’ dalam Al-Qur’an dan berbantah-bantah tentang Al- | |||
Qur’an tanpa alasan yang benar. Misalnya dia melihat petunjuk ayat itu atas | |||
sesuatu yang berlawanan dengan madzhabnya dan mengandung | |||
kemungkinan yang lemah sesuai dengan madzhabnya, kemudian dia | |||
mengartikan menurut madzhabnya dan mempertahankannya, meskipun | |||
ternyata berlawanan dengan apa yang dikatakannya. Manakala orang yang | |||
tidak mengetahuinya, maka dia dapat dimaafkan. | |||
Diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa Baginda bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Berbantah-bantahan berkenaan dengan Al-Qur’an | |||
adalah kufur.” | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
112 | |||
Al-Khattabi berkata: Maksud perkataan al-Miraa’u adalah keraguan. | |||
ada orang yang berpendapat, berbantah-bantahan yang menimbulkan | |||
keraguan. Ada orang yang berpendapat, berbanrah-bantahan yang dilakukan | |||
oleh para pengikut aliran sesat berkenaan dengan ayat-ayat takdir dan | |||
seumpanya. | |||
Masalah ke-87: | |||
Siapa yang ingin mengetahui tentang pendahuluan suatu ayat sebelum | |||
ayat lainnya di dalam Mushaf atau kedudukan ayat ini ditempat ini dan | |||
seumpamanya, sepatutnya dia bertanya: Apa hikmahnya ini? | |||
Masalah ke-88: | |||
Dihukumkan makruh seseorang yang mengatakan, aku lupa ayat ini. | |||
Bagaimanapun dia katakan, “Aku dilupakan terhadapnya atau aku | |||
menggugurkannya.” Mengikut riwayat yang terdapat di dalam Shahihain | |||
dari Abdullah bin Mas’ud ra, katanya: Rasulullah saw bersabda: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Janganlah seseorang dari kamu berkata: ‘Aku lupa ayat | |||
begini dan begini.’ Tetapi ia adalah sesuatu yang dilupakan.” | |||
Menurut suatu riwayat dalam Shahihain juga: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sungguh buruk seseorang dari kamu yang mengatakan | |||
‘aku lupa ayat begini dan begini’ tetapi ia adalah sesuatu yang dilupakan.” | |||
Diriwayatkan dalam Shahihain juga dari Aisyah ra.: | |||
“Bahwa Nabi saw mendengar seorang laki-laki membaca, kemudian | |||
beliau berkata: ‘Mudah-Mudahan Allah mengasihani si fulan, dia telah | |||
mengingatkan aku kepada sesuatu ayat yang aku telah menggugurkannya.” | |||
Dalam suatu riwayat di dalam kitab Ash-Shahih: “Aku dibuat lupa | |||
terhadapnya.” | |||
Sementara yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari Abu | |||
Abdirrahman As-Salami seorang tabi’in yang mulia, katanya: “Janganlah | |||
engkau katakan: ‘Aku telah menggugurkan ayat begini’ tetapi katakanlah: | |||
‘Aku telah dibuat lalai’.” | |||
Maka riwayat ini bertentangan dengan yang diriwayatkan dalam | |||
hadits sahih. Justru, yang diambil kira adalah hadits yang menyatakan | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
113 | |||
keharusan mengatakan: “Aku telah menggugurkan dan tidak ada celaan | |||
terhadapnya.” | |||
Masalah ke-89: | |||
Tidak ada halangan menyebut surat Al-Baqarah, surat Ali Imran, surat | |||
An-Nisa’, surat Al-Maidah dan surat Al-An’aam. Demikian jugalah surat- | |||
surat lainnya. Sebagian ulama Salaf tidak suka perkara seperti, sebaliknya | |||
mereka berkata: Surat yang disebut Al-Baqarah di dalamnya dan yang | |||
disebut Ali-Imran di dalamnya, surat yanbg disebut An-Nisa’ di dalamnya | |||
dan begitulah seterusnya. Pendapat yang lebih benar ialah pendapat pertama. | |||
Mengikut riwayat yang terdapat di dalam Shahihain daripada | |||
Rasulullah saw katanya, Surat Al-Baqarah, surat Al-Kahfi dan surat-surat | |||
lainnya. Demikian jugalah diriwayatkan dari pada para sahabat ra. | |||
Ibnu Mas’ud berkata: “Ini tempat yang diberitakan kepadanya surat | |||
Al-Baqarah.” | |||
Diriwayatkan daripada Ibnu Mas’ud ra. dalam Shahihain: “Aku | |||
membacakan kepada Rasulullah Saw surat An-Nisa’.” | |||
Hadits-hadits dan pendapat ulama Salaf berkenaan dengan hal ini | |||
banyak sekali. | |||
Berkenaan dengan surat itu ada dua ucapan, dengan hamzah dan | |||
tanpa hamzah, sedangkan tanpa hamzah lebih fasih. Itulah yang dimuat | |||
dalam Al-Qur’an. Diantara yang menyebutkan dua ucapan adalah Ibnu | |||
Qutaibah dalam Ghariib al-Hadits. | |||
Masalah ke-89: | |||
Tidaklah dihukumkan makruh jika dikatakan, ini bacaan Abu Amrin | |||
atau bacaan Naafi’ atau Hamzah atau Al-Kisa’I atau lainnya. Ini adalah | |||
pendapat terpilih yang didukung bersama oleh ulama Salaf dan Kalaf tanpa | |||
diingkari. | |||
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari Ibrahim An-Nakha’I, | |||
katanya: Mereka tidak suka mengatakan: “Sunnah fulan dan bacaan fulan.” | |||
Pendapat yang lebih benar adalah apa yang kami kemukakan. | |||
Masalah ke-90: | |||
Orang kafir tidak dilarang mendengar Al-Qur’an berdasarkan firman | |||
Allah: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
114 | |||
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik itu meminta | |||
perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya dia sempat | |||
mendengar firman Allah.”(QS At-Taubah 9:6) | |||
Bagaimanapun, mereka (orang kafir) dilarang menyentuh Mushaf. | |||
Bisakah mengajarinya Al-Qur’an? Para sahabat kami berpendapat, jika tidak | |||
bisa diharapkan keislamannya, maka ada dua pendapat. Pendapat yang labih | |||
kuat (sahih) adalah bisa karena mengharapkan keislamannya. | |||
Pendapat yang kedua adalah tidak bisa, sebagaimana tidak bisa | |||
menjual Mushaf kepadanya, meskipun diharapkan keislamannya. Jika kita | |||
melihatnya belajar, apakah dia dilarang? Berkenaan dengan perkara tersebut | |||
ada dua pendapat. | |||
Masalah ke-91: | |||
Para ulama berlainan pendapat berkenaan dengan penulisan Al- | |||
Qur’an dalam bejana, kemudian dicuci dan diberi minum kepada orang sakit. | |||
Al-Hasan, Mujahid, Abu Qulabah dan Al-Auza’i berkata: “Tidak ada masalah | |||
dengannya.” Sedangkan An-Nakha’i tidak menyukainya. Al-Qadhi Husain, | |||
Al-Baghawi dan para sahabat kami lainnya berkata: “Sekiranya Al-Qur’an | |||
ditulis di atas halwa (sejenis makanan) dan makanan lainnya, tidaklah | |||
mengapa memakannya.” | |||
Al-Qadhi berkata: “Sekiranya ditulis di atas sepotong kayu, tidaklah | |||
disukai membakarnya.” | |||
Masalah ke-92: | |||
Madzhab kami ialah tidak menyukai penulisan Al-Qur’an dan nama- | |||
nama Allah swt di atas dinding dan baju. Atha’ berkata: “Tidaklah mengapa | |||
jika menulis Al-Qur’an dalam bentuk azimat, maka Malik berpendapat, tidak | |||
ada masalah dengannya kalau ditulis pada sepotong buluk atau kulit | |||
kemudian dibalut. | |||
Sebagian sahabat kami berpendapat, apabila ayat-ayat Al-Qur’an | |||
ditulis dalam suatu wadah bersama lainnya, maka tidaklah haram, tetapi | |||
lebih baik ditinggalkan karena dibawa dalam keadaan berhadas. | |||
Jika ditulis, maka ia mesti dijaga sebagaimana dikatakan oleh Imam | |||
Malik rahimahullah. Pendapat inilah yang difatwakan oleh Asy-Syeikh Abu | |||
Amrin Ibnu Ash-Shalah rahimahullah. | |||
Masalah ke-93: | |||
Tentang meniup dengan membca Al-Qur’an sebagai ruqyah. | |||
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari Abu Juhaifah seorang sahabat Nabi | |||
saw dan namanya Wahb bin Abdullah atau lainnya, dari Hasan Al-Bashri dan | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
115 | |||
Ibrahim An-Nakha’I bahwa mereka tidak menyukai itu. Pendapat yang | |||
terpilih adalah tidak makruh, bahkan sunah muakkad. | |||
Diriwayatkan daripada Aisyah ra: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Bahwa Nabi saw apabila hendak tidur setiap malam, | |||
beliau merapatkan kedua telapak tangannya, kemudian meniup pada | |||
keduanya, kemudian membaca ‘Qul Huwallaahu Ahad, Qul A’uudzu bi | |||
rabbil falaq dan Qul A’udzu bi rabbin Naas’. Kemudian dia sapukan | |||
keduanya pada tubuhnya sedapat mungkin dimulai dari atas kepala dan | |||
mukanya serta bagian tubuhnya yang dapat dicapai. Beliau lakukan yang | |||
demikian tiga kali.” | |||
(Riwayat Bukhari & Muslim) | |||
Menurut beberapa riwayat dalam Shahihain ada tambahan dari ini. | |||
Sebagiannya sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah ra, kataanya: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Ketika Nabi saw sakit, beliau menyuruhku | |||
melakukannya dengan cara demikian.” | |||
Dan sebagian lainnya: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Nabi saw meniup pada dirinya ketika sakit yang | |||
menyebabkan wafatnya dengan membaca Al-Mu’awwidzaat.” | |||
Aisyah ra berkata: “Ketika sakit beliau bertambah tenat, akulah yang | |||
meniup padanya dengan membaca Al-Mu’awwidzaat dan mengusapkan | |||
tangannya sendiri untuk mengambil berkatnya.” | |||
Dan sebagian lainnyanya lagi: “Nabi saw ketika sakit membaca untuk | |||
dirinya Al-Mu’awwidzaat dan meniup.” | |||
Pakar bahasa mengatakan, An-Nafth ialah tiupan yang ringan tanpa | |||
mengeluarkan air ludah. Wallahua’lam. | |||
== | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
116 | |||
AYAT DAN SURAH YANG | |||
DIUTAMAKAN MEMBACANYA | |||
PADA WAKTU-WAKTU TERTENTU | |||
Ingatlah bahwa bagian ini luas sekali cakupannya, ia tidak mungkin | |||
dibatasi karena isinya memang banyak. Bagaimanapun, saya kemukakan | |||
sebagian besar saja atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang diringkas. | |||
Sebagian besar masalah yang saya sebutkan di dalamnya telah diketahui oleh | |||
orang-orang terkemuka ataupun mungkin orang-orang awam juga. | |||
Justru, saya tidak menyebut dalil-dalil dalam sebagian besarnya. | |||
Antara lain karena besarnya perhatian atas mambaca Al-Qur’an di bulan | |||
Ramadhan terutama dalam sepuluh terakhir dan terutama pula di malam- | |||
malam yang ganjil. Antara lain sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, hari | |||
Arafah, hari Jumaat, sesudah sembahyang Subuh dan ketika malam. | |||
Hendaklah dia selalu membaca surat Yassin, Al-Waqiah da termasuk Tabarak | |||
Al-Mulk. | |||
Masalah ke-94: | |||
8 | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
117 | |||
Sunah membaca dalam sembahyang Subuh pada hari Jumaat sesudah | |||
Al-Fatihah pada rakaat pertama surat Alif Lam Mim Tanziil selengkapnya. | |||
Dan pada rakaat kedua membaca surat Al-Ihsaan selengkapnya. Janganlah | |||
melakukan apa yang dilakukan banyak imam masjid yang hanya membaca | |||
beberapa ayat dari masing-masing surat dengan memanjangkan bacaan. | |||
Tetapi membaca keduanya dengan sempurna dan membacanya secara | |||
perlahan-lahan dengan tartil. | |||
Sunah membaca dalam sembahyang Jumaat pada rakaat pertama surat | |||
Al-Jumu’ah selengkapnya dan pada rakaat kedua surat Al-Munafiquun | |||
selengkapnya juga. Jika dia menghendaki, bisa membaca surat Al-A’laa pada | |||
rakaat pertama dan membaca Surat Al-Ghaasyiyah pada rakaat kedua. | |||
Keduanya adalah riwayat yang sahih dari rasulullah saw Hendaklah | |||
dia tidak membatasi dengan membaca pada sebagian surat dan hendaklah | |||
melakukan apa yang kami kemukakan. | |||
Sunah dalam sembahyang Hari Raya membaca Surat Qaaf pada rakaat | |||
pertama dan membaca surat Iqtabatis Saa’atu selengkapnya pada rakaat | |||
kedua. Jika mahu, dia bisa membaca surat Al-A’laa dan Al-Ghaasyiyah. | |||
Kedua riwayat itu sahih dari Rasulullah saw dan janganlah dia membatasi | |||
pada sebagiannya. | |||
Masalah ke-95: | |||
Dibaca dalam dua rakaat sembahyang sunah Fajar sesudah Al-Fatihah | |||
yang pertama Qul Yaa Ayyuhal kaafiruun dan pada rakaat kedua Qul | |||
HuwAllah swtu Ahad. Jika mau, dia bisa membaca pada rakaat pertama: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Katakanlah (wahai orang-orang mukmin), ‘Kami | |||
beriman kepada Allah swt dan apa yang diberitakan kepada kami…” | |||
(QS Al-Baqarah 2:136) | |||
Dan pada rakaat kedua: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Katakanlah, ‘Whai ahli kitab, marilah kepad suatu | |||
kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu,…” | |||
(QS Ali-Imran 3:64) | |||
Keduanya sahih dari perbuatan Rasulullah saw Dalam sembahyang | |||
sunah Maghrib rakaat pertama, membaca Qul yaa ayyuhal kaafiruun dan | |||
rakaat kedua Qul huwAllah swtu Ahad. Dan keduanya juga dibaca dalam | |||
dua rakaat Thawaf dan dua rakaat Istikharah. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
118 | |||
Dan dalam sembahyang witir tiga rakaat, rakaat pertama membaca | |||
Sabbihisma rabbikal a’laa dan rakaat kedua Qul Yaa Ayyuhal kaafiruun serta | |||
rakaat ketiga Qul Huwallahtu Ahad dan Al-Mu’awwidzatain. | |||
Masalah ke-96: | |||
Sunah membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumaat berdasarkan hadits | |||
Abu Said Al-Khudri ra dan lainnya. Imam Asy-Syafi’i berkata dalam kitab Al- | |||
Umm, disunahkan juga membacanya pada malam Jumaat. | |||
Dalil ini ialah riwayat Abu Muhammad Ad-Daarimi dengan isnadnya | |||
dari Abu Said Al-Khudri ra, dia berkata: “Barangsiapa membaca surat Al- | |||
Kahfi pada malam Jumaat. Dia diterangi cahaya antara rumahnya dan Al- | |||
Baitul Atiiq (Kaabah).” | |||
Ad-Daarimi menyebut suatu hadits yang menganjurkan membac Surat | |||
Huud pada hari Jumaat. Diriwayatkan dari Makhul seorang tabi’in yang | |||
mulia, bahwa sunah membaca Surat Ali-Imran pada hari Jumaat. | |||
Masalah ke-97: | |||
Disunahkan memperbanyak membaca Ayat Kursi disemua tempat dan | |||
membacanya setiap malam ketika hendak tidur dan membaca Al- | |||
Mu’awwidzatain setiap ba’dal sembahyang. | |||
Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir ra, katanya: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Rasulullah saw menyuruhku membaca Al- | |||
Mu’awwidzatain setiap selesai sembahyang.” | |||
(Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i Tirmidzi berkata: hadits | |||
hasan sahih. | |||
Masalah ke-98: | |||
Disunahkan ketika akan tidur membaca ayat Kursi, Qul huwAllah | |||
swtu Ahad, Al-Mu’awwidzatain dan akhir surat Al-Baqarah. Ini amalan yang | |||
perlu diperhatikan. Diriwayatkan berkenaan dengannya menerusi hadits- | |||
hadits sahih dari Abu Mas’ud Al-Badri ra bahwa Rasulullah saw bersabda: | |||
“Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah dalam | |||
suatu alam maka kedua yat itu mencakupinya (melindungi)nya.” | |||
Sejumlah pakar mengatakan, maksudnya mencukupinya dari | |||
sembahyang malam. Para ulam lainnya berkata: yaitu melindunginya dari | |||
gangguan pada malam tersebut. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
119 | |||
Diriwayatkan dari Aisyah ra: | |||
Terjemahan: “Bahwa Nabi saw setiap malam membaca Qul | |||
huwallahtu Ahad dan Al-Mu’awwidzatain.” | |||
Kami telah mengemukakannya dalam bab meniup dengan membaca | |||
Al-Qur’an. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Dawud dengan isnadnya dari Ali ka, | |||
katanya: “Saya belum pernah melihat seorang berakal yang masuk Islam | |||
tidur seblum membaca ayat Kursi.” Dan diriwayatkan dari Ali ra, katanya: | |||
“Saya belum pernah melihat orang yang berakal tidur sebelum membaca tiga | |||
ayat terakhir dari surat Al-Baqarah.” Isnadnya sahih berdasarkan syarat | |||
Bukhari dan Muslim. | |||
Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir ra, katanya: Rasulullah saw | |||
berkata kepadaku: | |||
Terjemahan: “Janganlah engkau biarkan malam berlalu, kecuali | |||
engkau membaca di dalamnya Qul huwallaahu Ahad dan Al- | |||
Mu’awwidzatain. Maka tidaklah tiba suatu malam kepadaku kitaecuali aku | |||
membacanya.” | |||
Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’I, katanya: “Mereka | |||
menganjurkan agar membaca surat-surat ini setiap malam tiga kali, yaitu Qul | |||
Huwallaahu Ahad dan Al-Mu’awwidzatain.” Isnadnya sahih berdasarkan | |||
syarat Muslim. | |||
Diriwayatkan dari Ibrahim pula, mereka mengajari orang-orang | |||
apabila hendak tidur membaca Al-Mu’awwidzatain. | |||
Diriwayatkan dari Aisyah ra: | |||
“Nabi saw tidak tidur hingga membaca surat Az-Zumar dan Bani | |||
Israil.” | |||
(Riwayat Tirmdizi dan dia berkata: Hadits Hasan) | |||
Masalah ke-99: | |||
Jika bangun setiap malam sunah membaca akhir Surat Ali-Imran dari | |||
firman Allah swt: Inna fii khalqis samaawaati wal ardhi sehingga akhir ayat. | |||
Mengikuti riwayat yang terdapat di dalam Shahihain: | |||
Terjemahan: “Sesungguhnya Rasulullah saw membaca akhir Surat Ali | |||
Imran apabila bangun dari tidur.” | |||
Masalah ke-100: | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
120 | |||
Tentang apa yang dibacakan untuk orang sakit. Sunah membaca Al- | |||
Fatihah di samping orang sakit berdasarkan sabda Nabi saw dalam hadits | |||
sahih berkenaan dengan perkara tersebut: “Dari mana engkau tahu bahwa | |||
Al-Fatihah adalah ruqtah (sejenis obat dan mantera)?” | |||
Sunah membaca Qul Huwallaahu Ahad, Qul A’uudzu bi rabbil falaq | |||
dan Qul A’uudzu bi rabbin Naas uantuk orang sakit dengan meniup pada | |||
kedua telapak tangan. | |||
Hal tersebut diriwayatkan dalam Shahihain dari perbuatan Rasulullah | |||
saw yang telah dijelaskan dalam bab meniup di akhir bagian yang sebelum | |||
ini. | |||
Diriwayatkan dari Thalhah bin Mutharif, katanya: “Jika Al-Qur’an | |||
dibaca di dekat orang sakit, dia merasa lebih ringan. “Pada suatu hari aku | |||
memasuki khemah seseorang yang sedang sakit”. Aku berkata: “Aku | |||
melihatmu hari ini dalam keadaan baik.” Dia berkata: “Telah dibacakan Al- | |||
Qur’an di dekatku.” | |||
Diriwayatkan oleh Al-Khatib Abu Bakar Al-Baghdadi rahimahullah | |||
dengan isnadnya, bahwa Ar-Ramadi ra ketika menderita sakit, katanya: | |||
bacakan hadits kepadaku. Ini baru hadits, apalagi Al-Qur’an. | |||
Masalah ke-101: | |||
Tentang apa yang dibacakan di dekat mayat. Para ulama sahabat kami | |||
dan yang berkata, sunah membaca surat yasiin di dekatnya berdasarkan | |||
hadits Ma’qil bin Yasar ra bahwa Nabi saw bersabda: | |||
“Bacakanlah surat Yasiin untuk mayatmu.” | |||
(Riwayat Abu dawud dan Nasa’I, dalam Amalul Yaum wal Lailah dan | |||
Ibnu Majah dengan isnad dha’if) | |||
Diriwayatkan oleh Mujalid dari Asy-Sya’bi, katanya: | |||
“Kaum Anshor apabila hadir di dekat mayat, mereka membaca surat | |||
Al-Baqarah.” | |||
Dan orang bernama Mujalid ini adalah sha’if. Wallahua’lam. | |||
== | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
121 | |||
RIWAYAT PENULISAN MUSHAF | |||
AL-QUR’AN | |||
Sebenarnya Kitab Al-Qur’an sudah mulai ditulis pada masa nabi saw | |||
sebagaimana yang tercatat dalam Mushaf-mushaf yang kita dapati dewasa | |||
ini. Bagaimanapun pada masa itu ia belum dihimpun dalam bentuk sebuah | |||
Mushaf, kecuali dihafaz dalam hati sejumlah manusia saja. Sejumlah sahabat | |||
ada yang hafaz seleruhnya dan ada pula yang hanya hafaz sebagiannya. | |||
Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq ra menjadi khalifah dan banyak | |||
penghafaz Al-Qur’an terbunuh, dia nimbang mereka akan meninggal dunia | |||
semua dan terjadi perselisihan berkenaan dengan Al-Qur’an sesudah mereka. | |||
Maka Abu Bakar bermusyawarah dengan para sahabat ra untuk | |||
mengumpulkannya dalam sebuah Mushaf dan mereka bersetuju dengannya. | |||
Kemudian Abu Bakar ra. menyuruh menulisnya dalam sebuah Mushaf | |||
dan menyimpannya dirumah Hafsah Ummul Mukminin ra. | |||
Ketika Islam sudah tersebar pada masa pemerintahan Usman ra dia | |||
takut terjadi perselisihan yang menyebabkan tertinggalkan sesuatu ayat dari | |||
Al-Qur’an atau terjadi penambahan di dalamnya. Kemudian Usman | |||
menulis/menyalin kumpulan Al-Qur’an yang ada pada Hafsah dan disetujui | |||
oleh para sahabat dalam Mushaf-Mushaf dan mengirimkannya ke berbagai | |||
negeri serta menyuruh melenyapkan tulisan yang bertentangan dengan itu. | |||
Tidakan ini disetujui oleh Ali bin Abu Thalib dan para sahabat lainnya. | |||
Mudah-Mudahan Allah swt meridhoi mereka. | |||
Nabi saw tidak menjadikannya dalam satu Mushaf karena bleiau | |||
membingkan terjadinya pertambahan dan penghapusan sebagian tulisan. | |||
9 | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
122 | |||
Kebimbangan itu tersu berlangsung hingga wafatnya Nabi saw. Ketika Abu | |||
Bakar dan para sahabatnya lainnya merasa aman dari kebimbangan itu | |||
menghendaki pengumpulannya, maka para sahabat ra pun melakukannya. | |||
Para ulama berlainan pendapat berkenaan dengan jumlah Mushaf | |||
yang dikirimkan Usman. Imam Abu Amrin Ad-Daani berkata, sebagian besar | |||
ulama mengatakan bahwa Usman menulis empat naskhah. Dia kirimkan | |||
sebuah maskhah ke Bashrah, sebuah ke Kufah dan sebuah ke Syam, | |||
sedangkan yang sebuah lagi disimpannya. | |||
Abu Hatim As-Sijistani berkata: Usman menulis tujuh Mushaf. Dia | |||
kirimkan sebuah Mushaf ke Mekah, sebuiah Mushaf ke Syam, sebuha Mushaf | |||
ke Yaman, Sebuah Mushaf ke Bahrain, sebuah Mushaf ke Bashrah, sebuah | |||
Mushaf ke Kufah dan sebuah Mushaf disimpannya di Madinah. Inilah | |||
ringkasan yang berkaitan dengan awal pengumpulan Mushaf. | |||
Berkenaan dengan cara menyebut kata Al-Mushaf ada yang membaca | |||
Mushaf, ada yang membaca Mishaf dan ada yang membaca Mashaf. | |||
Pendapat yang masyhur adalah dibaca Mushaf dan Mishaf. Bacaan Mashaf | |||
disebutkan oleh Abu Jaafar An-Nahaas dan lainnya. | |||
Masalah ke-101: | |||
Para ulama sependapat atas anjuran menulis Muahaf-mushaf dan | |||
mengindahkan tulisannya, lalu menjelaskannya serta memastikan bentuk | |||
tulisannya. Para ulama berkata, diutamakan memberi titik dan syakal | |||
(harakat) pada Mushaf, untuk menjaga dari kesalahan dan perubahan di | |||
dalamnya. Sementara ketidaksukaan Asy-Sya’bi dan An-Nakha’I pada titik- | |||
titik tersebut, maka keduanya tidak menyukainya pada masa itu karena takut | |||
terjadi perubahan di dalamnya. Masa itu sudah berlalu, maka tidaka ada | |||
larangan. Hal itu tidak dilarang karena merupakan sesuatu yang baru karena | |||
ia termasuk hal-hal yang baik sehingga tidak dilarang seperti mengarang | |||
ilmu, membina sekolah dan sekolah agama rakyat serta lainnya. | |||
Wallahua’lam. | |||
Masalah ke-102: | |||
Tidak bisa menulis Al-Qur’an dengan sesuatu yang najis dan | |||
dihukumkan makruh menulisnya di atas dinding menurut madzhab kami. Ini | |||
adalah madzhab Atha’ yang kami kemukakan. Telah kami kemukakan bahwa | |||
apabila di tulis di atas sepotong kayu, maka makruh membakarnya. | |||
Masalah ke-103: | |||
Kaum Muslimin sependapat atas wajibnya menjaga Muahaf dan | |||
memuliakannya. Para sahabat kami dan lainnya berkata, andaikata seorang | |||
Muslim mencampakkannya dalam kotoran-mudah-mudahan Allah swt | |||
melindunginya-maka pembalingnya menjadi kafir. Mereka berkata, haram | |||
menjadikannya sebagai bantal. Bahakan menjadikan kitab ilmu sebagai bantal | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
123 | |||
adalah haram. Sunah berdiri menyambut Mushaf apabila diserahkan | |||
kepadanya karena berdiri untuk menyambut orang-orang terkemuka seperti | |||
para ulama dan orang-orang sholeh adalah mustahab. Maka sudah tentulah | |||
Mushaf lebih utama. Saya telah menyebutkan dalil-dalil tentang anjuran | |||
berdiri ini pada bagian lainnya. | |||
Telah kami terima riwayat dalam Musnad Ad-Daarimi dengan isnad | |||
sahih dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa Ikrimah bin Abu Jahal ra. meletakkan | |||
Mushaf di atas wajahnya dan berkata: “Kitab Tuhanku, Kitab Tuhanku.” | |||
Masalah ke-103: | |||
Diharamkan pergi membawa Mushaf ke negeri musuh jika ditakutkan | |||
Mushaf akan jatuh ke tangan mereka berdasarkan hadits manyhur dalam | |||
Shahihain: | |||
(Teks Bahasa Arab) | |||
Terjemahan: “Sesungghunya Rasulullah saw melarang pergi | |||
membawa Al-Qur’an ke negeri musuh.” | |||
Diharamkan menjual Mushaf kepada orang Dzimmi. Jika dia | |||
menjualnya, maka ada dua pendapat Asy-Syafi’i berkenaan dengan perkara | |||
tersebut. Pendapat yang lebih sahih adalah tidak sah jual belinya, sedang | |||
pendapat kedua jual belinya sah. Dalam keadaan itu diperintahkan | |||
menghilangkan pemilikan daripadanya. Orang gila dan anak kecil yang | |||
belum bisa membedakan (belum mumayyiz) dilarang menyentuh Mushaf | |||
supaya tidak melanggar kehormatannya. Larangan ini wajib dilakukan oleh | |||
walinya dan orang yang melihatnya. | |||
Masalah ke-104: | |||
Diharamkan atas seorang berhadas menyentuh Mushaf dan | |||
membawanya, sama saja membawanya dengan cara memegangnya atau | |||
dengan lainnya, sama saja dia menyentuh tulisannya, tepinya atau kulitnya. | |||
Diharamkan menyentuh wadah dan sampul serta kotak tempat Mushaf itu | |||
berada. Inilah madzhab yang terpilih. Ada orang yang berpendapat, ketiga | |||
cara ini tidak haram dan pendapat ini lemah. | |||
Sekiranya Al-Qur’an ditulis pada sebuah papan, maka hukumnya | |||
sama dengan Mushaf itu sendiri, sama saja tulisannya sedikit atau banyak. | |||
Bahkan seandainya hanya sebaiah atau ayat yang ditulis untuk belajar, haram | |||
menyentuh papan itu. | |||
Masalah ke-104: | |||
Jika orang yang berhadas atau junub atau perempuan haid membuka | |||
lembaran-lembaran Mushaf dengan sepotong kayu atau seumpanya, maka | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
124 | |||
ada dua pendapat dari para sahabat kami tentang keharusannya. Pendapat | |||
yang lebih jelas adalah bisa. Pendapat ini didukung bersama oleh para ulama | |||
Iraq sahabat kami karena dia tidak menyentuh dan tidak membawanya. | |||
Pendapat kedua adalah haram karena dia dianggap membawa kertas | |||
dan kertas itu seperti seluruhnya. Jika dia mnggulung lengan bajunya di atas | |||
tangannya dan membalik kertas itu, maka hukumnya haram tanpa ada | |||
perselisihan. Salah seorang sahabat kami menceritakan adanya dua pendapat | |||
berkenaan dengan perkara tersebut. Pendapat yang benar adalah memastikan | |||
haramnya, sebab pembalikan kertas itu dilakukan oleh tangan, bukan lengan | |||
bajunya. | |||
Masalah ke-105: | |||
Jika orang yang berjunub berhadas menulis Mushaf, sedangkan dia | |||
membawa kertasnya atau menyentuhnya ketika menulis, maka hukumnya | |||
haram. Jika dia tidak membawanya dan tidak menyentuhnya, maka ada tiga | |||
pendapat berkenaan dengannya. Pendapat yang lebih sahih adalah bisa, | |||
pendapat kedua mengaramkannya. Pendapat ketiga, diharuskan bagi yang | |||
berhadas kecil dan haram bagi orang yang berjunub. | |||
Masalah ke-106: | |||
Jika orang yang berhadas atau junub atau perempuan haid menyentuh | |||
atau membawa sebuah kitab fiqh atau kitab ilmu lain yang berisi ayat-ayat | |||
Al-Qur’an atau bersulam ayat Al-Qur’an atau yang uang dirham atau uang | |||
dinar berukiranayat Al-Qur’an atau membawa barang-barang yang di | |||
antaranya terdapat Mushaf atau menyentuh dinding atau makanan kuil atau | |||
roti yang berukiran Al-Qur’an, maka madzhab yang sahih adalah bisa | |||
melakukan semua ini karena ia bukan Mushaf. Terdapat satu pendapat yang | |||
mengatakan haram. Qadhi besar Abu Hasan Al-Mawardi dalam kitabnya Al- | |||
Haawi berkata, bisa menyentuh baju yang bersulam Al-Qur’an dan tidak bisa | |||
memakainya tanpa ada perselisihan karena tujuan memakainya adalah | |||
tabarruk (mengambil berkat) dengan Al-Qur’an. | |||
Pendapat yang disebutkan atau dikatakannya ini adalah lemah dan | |||
tidak seorang pun yang berpendapat seperti itu menurut pengetahuan saya. | |||
Bahkan Asy-Syeikh Abu Muhammad Al-Juwaini dan lainnya menegaskan | |||
keharusan memakainya. Inilah pendapat yang benar. Wallahua’lam. | |||
Manakala Kitab tafsir Al-Qur’an, apabila Al-Qur’an yang terdapat di | |||
dalamnya lebih banyak dari lainnya, haram menyentuh dan membawanya. | |||
Kalau lainnya lebih banyak sebagaimana pada umumnya, maka ada tiga | |||
pendapat. Pedapat yang lebih shahih tidak haram. Pendapat kedua, haram. | |||
Pendapat ketiga, kalau Al-Qur’an di tulis dengan huruf yang kelas karena | |||
tebal atau dengan huruf merah atau lainnya, maka haram. Jika tulisannya | |||
tidak jelas, maka tidak haram. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
125 | |||
Saya katakan: Dan haram menyentuhnya apabila sama antara | |||
keduanya. | |||
Sahabat kami penulis kitab At-Titimmah berkata, apabila kami | |||
katakan, tidak haram, maka hukumnya makruh. | |||
Sementara menulis hadits Rasulullah saw jika tidak terdapat ayat-ayat | |||
Al-Qur’an di dalamnya, tidaklah haram menyentuhnya. Pendapat yang lebih | |||
utama adalah tidak disentuh, kecuali dalam keadaan suci. Kalau terdapat | |||
ayat-ayat dari Al-Qur’an, tidaklah haram menurut madzhab kami, tetapi | |||
makruh. Dalam hal ini ada satu pendapat bahwa hal itu haram, yaitu yang | |||
terdapat dalam kitab-kitab Fiqh. | |||
Sedangkan ayat yang dinasakh tilawahnya seperti rejam dan selain itu, | |||
maka tidak haram menyentuh ataupun membawanya. Para sahabat kami | |||
berkata, demikian jugalah Taurat dan Injil. | |||
Masalah ke-107: | |||
Jika pada suatu tempat dari badan yang bersuci terdapat najis yang | |||
tidak dimaafkan, haram atasnya menyentuh Mushaf dengan tempat yang | |||
bernajis itu tanpa ada perselisihan dan tidak haram dengan lainnya menurut | |||
madzhab yang sahih dan yang masyhur yang dikatakan oleh sebagian besar | |||
sahabat kami dan para ulama lainnya. Abdul Qasim Ash-Shaimari salah | |||
seorang sahabat kami berkata, haram. Al-Qadhi Abui Thayyib berkata, | |||
pendapat ini tertolak menurut ijmak. Kemudian menurut pendapat yang | |||
masyhur, sebagian sahabat kami mengatakan makruh. Pendapat yang terpilih | |||
adalah tidak makruh. | |||
Masalah ke-108: | |||
Barangsiapa tidak menemukan air, kemudian bertayamum | |||
sebagaimana dia dibenarkan melakukan tayamum, maka dia bisa menyentuh | |||
Mushaf, sama saja tayamum itu untuk sembahyang atau untuk keperluan lain | |||
yang mengharuskan tayamum. Sementara siapa yang tidak menemukan air | |||
ataupun tanah, maka dia bisa sembahyang saja dan tidak bisa menyentuh | |||
Mushaf karena dia berhadas. Kami bisakan baginya sembahyang karena | |||
darurat. | |||
Sekiranya ada bersamanya Mushaf dan tidak menemukan orang yang | |||
bisa diamanahkannya sedang dia tidak dapat berwudhu, duharuskan | |||
baginya membawanya karena darurat. Al-Qadhi Abu Thayyib berkata, tidak | |||
wajib baginya pertayamum. | |||
Kalau dia membimbangkan Mushaf terbakar atau tenggelam atau | |||
jatuh dalam najis atau jatuh ke tangan orang kafir, maka dia bisa | |||
mengambilnya karena darurat, meskipun dia berhadas. | |||
At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran | |||
Imam Nawawi | |||
126 | |||
Masalah ke-109: | |||
Apakah wali dan guru wajib memaksa anak kecil yang sudah bisa | |||
membedakan (sudah mumayyiz) bersuci untuk membawa Mushaf. Terdapat | |||
dua pendapat yang masyhur berkenaan dengan perkara tersebut. Pendapat | |||
yang lebih kuat (sahih) adalah tidak wajib karena memberatkan. | |||
Masalah ke-110: | |||
Bisa menjual Mushaf dan membelinya dan tidak makruh | |||
pembeliannya. Adapun tentang makruhnya atas penjualannya ada dua | |||
pendapat dari tiga sahabat kami. Pendapat yang lebih kuat(sahih) | |||
sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syafi’i adalah makruh. Mereka yang | |||
berpendapat tidak makruh menjual dan menjual dan membelinya ialah | |||
Hasan Al-Bashri, Ikrimah dan Al-Hakam bin Uyainah. | |||
Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Sebagian ulam tidak | |||
menyukai penjualan dan pembeliannya. Ibnu Mundzir menceritakannya dari | |||
Alqamah, Ibnu Sirin, An-Nakh’I, Syuraih, Masruq dan Abdullah bin Zaid. | |||
Diriwayatkan dari Umar bin Abu Musa Al-Asy’ari adanya larangan keras | |||
menjualnya. | |||
Sebagian ulama mengharuskan pembeliannya dan tidak menyukai | |||
penjualannya. Ibnu Mundzir menceritakan dari Ibnu Abbas, Said bin Jubair, | |||
Ahmad bin Hanval dan Ishaq bin Rahawaih. Wallahua’lam | |||
Wassalam | |||
==TAMAT== | |||
--> | |||
{{Литература}} | {{Литература}} | ||
* [https://www.academia.edu/8292642/Kitab_At-Tibyan_fi_Adab_Hamalat_al-Qur_an_karya_Imam_Nawawi Kitab At-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur an karya Imam Nawawi] // academia.edu | * [https://www.academia.edu/8292642/Kitab_At-Tibyan_fi_Adab_Hamalat_al-Qur_an_karya_Imam_Nawawi Kitab At-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur an karya Imam Nawawi] // academia.edu | ||
Версия от 14:39, 28 апреля 2019
Этикет по отношению к Корану —
Примеры
- на Коран ничего не ставить,
- не проносить в туалет
- хранить выше других книг,
- не носить ниже пупка
- Соблюдать омовение перед чтением Корана.
- Нельзя во время чтения Корана держать Священную Книгу ниже пояса.
- Необходимо с благоговением относиться к Корану во время чтения и во время слушания.
- Необходимо выполнять повеления Корана и избегать того, что запрещено в Священной Книге.
- целовать Коран
- “Желательно вставать ради Мусхафа, когда его принесли. Ведь раз вставать желательно на встречу к уважаемым ученым и людям, то вставать ради Мусхафа первичней”. См. “ат-Тибьян” 98.
Примечания
Литература
- Использованная литература
- Kitab At-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur an karya Imam Nawawi // academia.edu
Информация о статье
- Автор: Редакция сайта; E-mail: feedback@quranacademy.org.
- Библиографическая ссылка: Этикет по отношению к Корану [Электронный ресурс] // QuranAcademy.org: Академия Корана. 2026 г.
- URL: http://ru.quranacademy.org/encyclopedia/article/Adab-Quran
- Дата первой публикации:
Сотрудничество
Академия Корана приглашает к сотрудничеству авторов статей, редакторов, переводчиков, волонтёров и т. д. Об условиях сотрудничества и других интересующих Вас вопросах можете спросить в нашем Телеграм-аккаунте.
Ссылки: 🔎 Просмотр (адм, арх, dev) / Википедия (цит.) / Iequran (л,с, а) / corpus / Brill: (1, 2, 3) / EQ / Islamica (ш, с) / TDVIA (ш) / ИЭС’91 / Али-заде Мета-теги: / Google (hqa) / Яндекс : * {{TDV||статья||yıl=|cilt=|sayfa=}} |